MTPJ, KomentarNews –
Markus 14:32-42
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Era disrupsi yang menjadi ruang hidup kita kini, ditandai dengan berbagai kemajuan hidup yang sangat digitalisasi. Era disrupsi juga membuka ruang baru yang dapat menggeser peran signifikan dari manusia dalam relasinya dengan orang lain. Contoh yang paling kuat, yakni kecenderungan yang terjadi pada anak usia di bawah 18 tahun yang lebih memilih mengakses informasi apapun dan sangat detail dari Artificial Intelligence (AI) dalam berbagai aplikasi, seperti Google AI, Chat GPT, Chatbot, Tome AI, dan lain lain.
Dari perspektif kemajuan digital, tindakan demikian adalah lompatan penting di era ini, tetapi dari sisi peran penting orang tua, Pelsus, tua-tua jemaat, guru, tindakan demikian menjadi penanda dari mulai tergesernya fungsi mereka sebagai nara hidup, pendidik, penuntun, pembina, dan pengajar.
Perenungan Di minggu sengsara ke 4 ini kita dituntun dengan tema, “Berjaga-jagalah dan Berdoalah, Supaya Kamu Jangan Jatuh Dalam Pencobaan” menegaskan keberimanan yang kuat harus tergambar pada kesigapan kita membaca perubahan zaman, melakukan upgrade (meningkatkan kualitas) diri terus menerus, memperkuat ruang diskusi yang ramah bagi anak-anak kita, agar iman tidak hanya diwariskan tetapi juga relate (berkaitan) dengan tantangan baru di era kini.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Injil Markus ditulis dengan tujuan memberikan penguatan iman kepada orang Kristen bukan Yahudi yang bergumul dengan tekanan dan penganiayaan. Injil Markus bermaksud menegaskan, bahwa orang Kristen tidak berbahaya bagi Roma, sekaligus meyakinkan kebenaran Ketuhanan dan Kemesiasan Yesus pada Pemerintah Roma, masyarakat dan jemaat. Khusus dalam Injil Markus 14:32-42, Markus menjelaskan narasi tentang Yesus yang berdoa. Kata berdoa muncul sebanyak dua kali, berdoalah satu kali, dan doa satu kali.
Pertama, Kata berdoa menunjuk pada tindakan teologis yang Yesus lakukan setelah berada di taman Getsemani (ayat 32) dan mengalami suasana batin yang tidak biasa. Dua kata Yunani yang dipakai oleh penginjil Markus untuk menjelaskan suasana batin-Nya, yakni ekhtambeisthai yang berarti rasa kaget karena peristiwa tidak terduga atau luar biasa; dan ademonein (ayat 33) yang berarti sangat gelisah, tertekan berat, sangat menderita secara batin. Rupanya setelah berada di taman Getsemani yang sepi, terpisah dari orang banyak yang selalu mengikuti mereka, Yesus sangat merasakan penderitaan yang akan Dia jalani sebagai Mesias. Dia mengalami perasaan mencekam yang tidak dapat dikendalikan oleh-Nya dan tidak pernah terjadi selama ini; Dia mengalami kerentanan sebagai manusia yang kehilangan daya kontrol terhadap diri, sehingga menjadi takut dan gentar.
Goncangan batin yang dialami Guru mereka, rupanya tidak terdeteksi oleh para murid. Karena itu Yesus perlu menegaskan apa yang dirasakan-Nya pada mereka, yakni bahwa Dia sangat takut dan gentar (ayat 33), sangat sedih, seperti mau mati rasanya (ayat 34a). Markus memang tidak mencatat bagaimana respon Petrus, Yakobus dan Yohanes setelah mendengar pergulatan batin yang dialami Guru mereka.
Markus mencatat, bahwa setelah itu Yesus berpesan agar mereka tinggal di situ dan berjaga-jaga (ayat 34b). Kata “berjaga-jaga” adalah terjemahan dari kata Yunani gregoreo yang berarti tetap terjaga, tidak tertidur, waspada secara rohani, setia dan sadar akan situasi genting. Kita bisa menafsirkan, bahwa suasana batin yang mencekam membuat Yesus ingin mereka bertiga tetap mendampingi-Nya dan berjaga-jaga dari kemungkinan apapun yang bisa terjadi. Selanjutnya, Dia memisahkan diri dari para murid, merebahkan diri ke tanah dan berdoa (ayat.35). Posisi demikian menunjukkan ketertundukan, kepasrahan, dan juga bisa dimengerti sebagai usaha menenangkan diri-Nya.
Kedua, kata doa, dipakai penginjil Markus untuk menggambarkan klimaks dari suasana batin yang Yesus alami, sehingga perlu mengulang doa yang sama (39). Yesus yang telah menenangkan dirinya merasa perlu untuk mengulang doa-Nya, menyampaikan permohonan-Nya dengan menyapa Allah dalam bahasa ibunya (Aram), Ya Abba, Ya Bapa. Sapaan yang sangat personal dan tidak lazim, karena orang-orang Yahudi tidak bisa menyebut nama Allah dengan sembarangan; orang-orang dengan budaya Yunani-Romawi sangat formal menyebut nama para Dewa. Penyebutan yang akrab demikian menegaskan bahwa hanya Yesus yang bisa melakukan karena Dia adalah sepenuhnya manusia dan Tuhan.
Lalu apa isi doa Yesus? Dalam ayat 36, kita membaca kontras yang disampaikan dalam doa-Nya. Kontras pertama, Dia menegaskan tentang sekiranya mungkin (ei dunaton estin), yang tidak menunjuk pada keraguan-Nya tentang kesanggupan Allah untuk bertindak, tetapi pada izin dari Allah agar Dia dapat dilepaskan dari “saat ini” (he’ hora).
He’ hora menunjuk pada sesuatu yang akan segera terjadi, tetapi sudah dan sedang Dia rasakan. Kontras Kedua, Yesus menegaskan ketidakmustahilan Allah dan karena itu Dia bermohon “cawan” diambil dari pada-Nya. Cawan dalam tradisi Perjanjian Lama sering mengacu pada murka Allah. Jadi Ketika Yesus dalam keberadaan-Nya sebagai Tuhan dan manusia meminta cawan itu diambil dari pada-Nya, permohonan tersebut menunjuk pada momen penderitaan yang Dia harapkan tidak harus dijalani-Nya.
Momen yang membuat Yesus menjadi terkejut dan hilang kendali (LAI: terkejut dan gentar), karena sadar bahwa dalam waktu dekat Dia tidak bisa menghindarkan diri dari murka Allah. Meskipun demikian, Yesus tetap menegaskan bahwa permohonan-Nya tidak serta merta menolak kehendak Allah. Karena itu Ia berucap, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki. Di tengah suasana batin yang membuat-Nya menjadi takut dan gentar komitmen-Nya sebagai Mesias tetap menjadi yang utama.
Ketiga, kata berdoalah, diucapkan Yesus ketika ia mendapati ketiga muridnya sedang tertidur (ayat 37). Dia berkata kepada Simon untuk berjaga-jaga satu jam, dan menegaskan pentingnya berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan. Karena itu, kata berjagalah dan berdoalah menunjuk pada motivasi teologis yang Yesus harapkan terbangun dalam diri Petrus, Yakobus dan Yohanes, supaya mereka tetap berkomitmen dengan-Nya; bukan hanya di hari-hari sebelumnya, tetapi terutama dalam suasana batin yang mencekam yang dirasakan-Nya saat itu.
Ketika untuk ketiga kalinya Yesus kembali setelah berdoa, Dia mendapati bahwa harapan-Nya agar para murid tetap berjaga dan berdoa, tidak terjadi. Karenanya, Dia memahami keterbatasan para murid dan meminta mereka untuk tidur dan beristirahat.
Narasi tentang Yesus dan para murid di taman Getsemani ditutup dengan tiga ucapan terakhir, yakni cukuplah, saatnya telah tiba, dan bangunlah marilah kita pergi. Tiga ucapan Yesus ini menjadi simbol penyerahan diri pada kemahakuasaan Allah melalui konsep Mesias yang menderita, yakni Anak Manusia yang akan diserahkan.
Makna dan Implikasi Firman
Tuhan Yesus mengajar pentingnya mengambil waktu untuk menarik diri dari hingar bingar kehidupan dan menghayati apa yang tubuh kita rasakan (sedih, tertekan, takut, gentar, gembira, bahagia, merasa merdeka). Penghayatan yang mendorong kita semakin mengenali diri dan selanjutnya paham apa yang akan kita doakan.
Narasi tentang Tuhan Yesus dan para murid mengajarkan tentang solidaritas dan kesetiakawanan dalam persekutuan. Kawan sepelayanan adalah juga keluarga dalam pelayanan bersama, karenanya harus tulus memberi diri memikul pergumulan sesama pelayan, bukan dikelola menjadi informasi hot dan hoax, dan kesempatan menjatuhkan serta membuat kehilangan wibawa pelayanan.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa, doa adalah yang utama dan satu-satunya, karena hanya melalui doa kita bisa mengkomunikasikan apapun yang tidak bisa kita sampaikan kepada siapapun. Doa juga menjadi media bagi kita untuk terus membangun pengharapan bahwa Tuhan mengenal dan mengerti apa yang kita gumuli.
Sebagai pelayan, jemaat dan keluarga perlu mengasah kepekaan terhadap suasana di sekitar kita, sehingga kita tanggap dan kreatif dalam memberikan support yang dibutuhkan.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa yang dimaksud dengan berjaga dan berdoalah menurut Markus 14:32-42?
- Berdasar Markus 14:32-42, mengapa Markus menampilkan kontras tajam antara Yesus yang berdoa dan murid-murid yang tertidur?
- Strategi resiliensi (bertahan/berjuang) bagaimana yang dibutuhkan jemaat dan keluarga agar tetap mengutamakan doa kepada Tuhan Allah berhadapan dengan berbagai perubahan cepat dan tak terprediksi yang terjadi kini?
NAS PEMBIMBING: Markus 14:38
POKOK-POKOK DOA
Pentingnya berjaga-jaga dan berdoa
Peningkatan kualitas dan kinerja pelayanan yang saling support di antara para Pelayan Khusus dan dengan jemaat
Keluarga Kristen terus membangun resiliensi berdasar kasih Tuhan untuk menghadapi tantangan dunia.
Penguatan keesaan gereja yang tercermin dalam kesetiakawanan sebagai umat Allah
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: MINGGU SENGSARA IV
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Persiapan: KJ No. 355 Yesus Memanggil Mari Seg’ra
Nas Pembimbing: KJ No. 358 Semua Yang Letih Lesus
Pengakuan Dosa: KJ No. 157 Insan Tangisi Dosamu
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 34 Disalib Yesus Di Kalvari
Ajakan untuk Mengikuti Yesus di Jalan Sengsara: KJ No. 408 Dijalanku ‘Ku Diiring
Ses Doa Pembacaan Alkitab: KJ No. 49 Firman Allah Jayalah
Persembahan: KJ No. 169 Memandang Salib Rajaku
Nyanyian Penutup: Tak Pernah Tuhan Janji
ATRIBUT Warna Dasar Ungu dengan Simbol XP (Khi-Rho), Cawan Pengucapan, Salib dan Mahkota Duri.
(dodokugmim*)
