WASHINGTON DC, KOMENTARNEWS– Samudra Pasifik bagian timur kembali berlumuran darah. Di tengah sorotan tajam Kongres, militer Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam sepekan ini melancarkan serangan mematikan terhadap kapal yang dicurigai membawa narkoba. Jumat (20/2/2026) waktu setempat, rudal atau tembakan dari pasukan khusus menghantam sebuah kapal, merenggut nyawa tiga orang di atasnya.
Komando Selatan AS (SOUTHCOM) dengan tegas membenarkan aksi ini. Dalam sebuah pernyataan dramatis di media sosial X, mereka mengungkapkan bahwa serangan adalah perintah langsung dari Komandan Jenderal Francis L. Donovan. “Satuan Tugas Gabungan Southern Spear melaksanakan serangan kinetik mematikan terhadap kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris yang Telah Ditetapkan,” tulis SOUTHCOM, sembari memastikan bahwa tidak ada satu pun personel AS yang terluka.
Serangan ini bukan insiden biasa. Ini adalah serangan keenam secara publik sejak tahun 2026 dimulai, sekaligus yang kedua dalam kurun waktu hanya empat hari! Sebelumnya, pada Selasa (17/2), militer AS menyerang tiga kapal di kawasan yang sama dan Karibia, menewaskan 11 orang. Jika ditotal, sejak Operasi Southern Spear diluncurkan pemerintahan Trump, setidaknya 138 jiwa telah melayang di tengah gelombang lautan.
Operasi yang digadang-gadang untuk memutus jalur narkotika ini, sayangnya, tidak berjalan mulus tanpa kontroversi. Justru, gelombang kritik keras kini menerpa dari dalam negeri sendiri. Sejak dimulai September lalu, Kongres AS terus mengawasi dengan tatapan curiga. Banyak anggota parlemen mempertanyakan: mengapa pendekatan militer yang mematikan ini dipilih, sementara selama berpuluh-puluh tahun Penjaga Pantai AS mampu menyita berton-ton narkoba tanpa harus menembak mati para pelaku?
Sebelum era serangan militer ini, penyelundup narkoba di laut diperlakukan sebagai kriminal biasa. Mereka ditangkap, diadili, dan memiliki hak due process. Penjaga Pantai AS terus membuktikan bahwa interdiksi tanpa pertumpahan darah itu mungkin. Mereka rutin menyita narkoba di Pasifik timur tanpa melepaskan tembakan mematikan.
Namun, kini pendekatan itu seolah ditinggalkan. Di bawah komando militer, setiap kapal yang mencurigakan bisa menjadi sasaran tembak. Jumat lalu, tiga orang lagi menjadi korban. Siapa mereka? Warga negara mana? Narkoba jenis apa yang mereka bawa? SOUTHCOM masih bungkam. Yang pasti, darah kembali membasahi geladak kapal di tengah laut, meninggalkan tanda tanya besar di hati para pengamat dan keluarga yang mungkin menanti di rumah.
Sumber:
Aleena Fayaz, CNN. “US strikes alleged drug boat in eastern Pacific, killing 3”, CNN Edition, 20 Februari 2026.
tautan: https://edition.cnn.com/2026/02/20/politics/us-strikes-alleged-drug-boat-in-eastern-pacific
(ERL*)
