Sunday, February 22, 2026

HINAAN “MONYET” DAN “SAWAH” JADI PICU PERANG DIGITAL SEABLINGS VS KNETZ: BOIKOT DRAKOR MULAI BERDARAH DI ASIA TENGGARA

Share

“Kami Bukan Kecoa, Kami Siblings!” – Tagar #SEAblingsUnited Tembus 2 Juta Cuitan dalam 48 Jam

Jakarta, KomentarNews – Sebuah perang digital tanpa ampun tengah berkecamuk di jagat maya. Di satu sudut, SEAblings – sebutan untuk netizen Asia Tenggara yang bersatu padu. Di sudut lain, KNetz – netizen Korea Selatan yang dituding melontarkan komentar rasis. Pemicunya? Sebuah konser. Puncaknya? Gerakan boikot drakor massal yang kini mulai mengguncang industri hiburan Korea di kawasan ASEAN.

“Kami muak. Bukan hanya soal kamera di konser, tapi ini soal martabat,” tulis seorang netizen Indonesia dalam cuitan yang telah di-retweet lebih dari 150 ribu kali.

KRONOLOGI: DARI LENSA KAMERA JADI LENSA PENGHINAAN

🟡 31 Januari 2026 – Hari di Mana Api Pertama Menyala

Konser band papan atas Korea, DAY6, di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, berlangsung meriah. Namun di balik kemeriahan, ketegangan mulai terasa. Sejumlah oknum fansite master asal Korea Selatan – penggemar dengan kamera profesional berukuran jumbo – dengan sengaja melanggar aturan promotor yang melarang penggunaan kamera DSLR lensa panjang.

Saat ditegur penonton lokal, reaksi mereka mengejutkan: arogan, defensif, dan merendahkan.

“Saya minta mereka menurunkan kamera karena menghalangi pandangan. Bukannya minta maaf, mereka malah mencibir dengan bahasa Korea. Saya tidak paham kata-katanya, tapi nada bicaranya jelas meremehkan,” ujar Aina Mardhiah (24) , penonton asal Kuala Lumpur, kepada wartawan.

🟡 1-3 Februari 2026 – Api Menjalar ke Dunia Maya

Protes penonton Malaysia di media sosial awalnya hanya soal etika fansite. Namun, balasan dari KNetz di luar dugaan. Alih-alih membahas etika, mereka menyerang identitas, fisik, dan ekonomi masyarakat Asia Tenggara.

Dari sinilah badai dimulai.

No Bentuk Hinaan Target Dampak Viral
1 “Kecoa Asia Tenggara” Masyarakat ASEAN secara umum Memicu amarah kolektif lintas negara
2 Foto monyet dengan teks “Wanita Asia Tenggara saat marah” Perempuan Asia Tenggara Tagar #RespectWomenASEAN trending di 5 negara
3 “Syuting di sawah karena tak punya uang sewa proper” (mengejek video klip grup No Na Indonesia) Industri kreatif Indonesia Video No Na ditonton 10 juta kali dalam 3 hari sebagai bentuk dukungan
4 “Kulit hitam, gigi kuning” Fisik masyarakat Asia Tenggara Memicu kampanye #KamiCantikDenganCarakami
5 “Berhenti pingsan-pingsan di konser, kalian mengganggu artis kami” Penggemar Asia Tenggara Dibalik layar: budaya pingsan di konser memang problematik, tapi cara menyampaikannya dinilai menghina

Puncaknya adalah sebuah tangkapan layar yang beredar luas, memperlihatkan seorang KNetz menulis:

“Mereka tidak punya uang untuk menyewa set proper, jadi mereka syuting di sawah. Apakah ini tempat mereka menanam padi?”

Unggahan itu sontak memicu kemarahan publik Indonesia. Video klip No Na yang sebelumnya biasa saja, tiba-tiba meledak dengan jutaan penonton baru – bukan karena lagu, tapi sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan terhadap budaya agraris bangsa.

LAHIRNYA “SEABLINGS”: SOLIDARITAS LINTAS NEGARA YANG TAK TERDUGA

🟢 Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam – Bersatu!

Dalam situasi normal, netizen negara-negara ini kerap terlibat rivalitas sengit. Tapi kali ini berbeda. Istilah SEAblings (Southeast Asia + Siblings) lahir dan langsung menjadi identitas perjuangan bersama.

Tagar #SEAblingsUnited mencetak rekor:

Platform Jangkauan Keterangan
X (Twitter) 2,3 juta cuitan Trending di 12 negara
TikTok 150 juta views Konten kreator dari 7 negara ASEAN membuat video solidaritas
Instagram 500 ribu unggahan Foto dengan filter bendera ASEAN

STRATEGI PERANG DIGITAL YANG BRILLIAN DARI NETIZEN INDONESIA

Netizen Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu kekuatan digital paling disegani di dunia, mengambil peran sebagai garda terdepan. Tapi cara mereka bertarung unik dan kreatif:

1. 🔥 Serangan Bahasa Daerah – Membuat KNetz Pusing Tujuh Keliling

Alih-alih membalas dengan bahasa Inggris atau Korea, netizen Indonesia justru membanjiri kolom komentar dengan bahasa daerah.

“Ojo ngece wong liyo, konco dewe wae ra iso ngejoke” (Jangan menghina orang lain, teman sendiri saja tidak bisa dijaga) – dalam bahasa Jawa

“Horas! Alai unang be ma hamu manghinsa hami, ala nunga martahi hami!” (Horas! Jangan kalian menghina kami, karena kami sudah bersatu!) – dalam bahasa Batak

Akibatnya, mesin penerjemah otomatis gagal total memahami konteks percakapan. KNetz kebingungan menghadapi serangan dalam berbagai aksara dan bahasa yang tidak dikenali.

2. 🔥 Diplomasi Budaya: Sawadikap, Bukan Operasi Plastik

Salah satu serangan balik paling cerdas adalah ketika netizen mulai membanjiri lini masa dengan foto-foto kecantikan alami perempuan Asia Tenggara tanpa operasi plastik.

Tagar #NaturalBeautyASEAN menampilkan ribuan foto perempuan dari berbagai suku di Asia Tenggara dengan bangga menunjukkan warna kulit asli, bentuk mata, dan fitur wajah khas masing-masing.

“Kami tidak butuh operasi plastik untuk merasa cantik. Kecantikan kami adalah warisan leluhur,” tulis seorang pengguna.

3. 🔥 Aliansi Tak Terduga: Netizen India Ikut Turun Tangan

Fenomena menarik terjadi ketika netizen India ikut bergabung. Alasannya unik: selama ini, KNetz kerap salah membedakan istilah “Indo” (India) dan “Inni” (Indonesia) dalam bahasa Korea.

“Kami sering dikira Indonesia, mereka sering dikira India. Tapi di mata KNetz yang rasis, kami semua sama – kulit gelap yang layak direndahkan. Maka kami bersatu!” tulis seorang netizen India.

Aliansi Indo-Inni-SEAblings pun terbentuk, memperluas front perlawanan.


DAMPAK NYATA: BOIKOT DRAKOR MULAI BERDARAH

📉 Angka Penonton Anjlok, Industri Mulai Ketar-ketir

Asia Tenggara bukan pasar kecil. Berdasarkan data Korea Foundation 2023, jumlah anggota klub penggemar Hallyu (gelombang Korea) di kawasan ini mencapai 40,44 JUTA orang. Thailand menjadi penyumbang terbesar, disusul Indonesia dan Vietnam.

Namun pasca konflik, data sementara menunjukkan penurunan signifikan:

Platform/Kategori Penurunan Catatan
Streaming drakor di platform berbayar 25-30% Terjadi di Indonesia, Malaysia, Thailand
Engagement akun agensi Korea 40% Penurunan interaksi di akres-akun resmi
Tagar #BoikotDrakor 800 ribu cuitan Masih aktif hingga hari ini

 

Seorang sumber dari industri periklanan digital di Jakarta menyebutkan bahwa setidaknya tiga merek besar Korea yang biasa beriklan di platform digital Indonesia menunda kampanye mereka karena khawatir terkena imbas boikot.

📢 Tanggapan Pihak Korea: Ada yang Merendah, Ada yang Menantang

 

Beberapa agensi hiburan Korea mulai sadar situasi genting. JYP Entertainment, agensi yang menaungi DAY6, merilis pernyataan singkat:

“Kami menghargai seluruh penggemar di seluruh dunia, termasuk Asia Tenggara. Kami berharap semua penggemar dapat menikmati musik dengan damai tanpa kebencian.”

Namun pernyataan itu dinilai terlalu umum dan tidak menyentuh inti masalah. Sementara itu, sejumlah akun fansite Korea justru semakin menjadi-jadi dengan konten provokatif, memperkeruh suasana.


SUARA DARI DUA KUTUB

🗣️ Suara SEAblings:

Rizki (21), mahasiswa Jakarta:
“Ini bukan soal iri atau benci K-pop. Saya tetap suka musik Korea. Tapi ini soal harga diri. Kalau mereka merasa superior dan berhak menghina kami, ya sudah – kami juga berhak tidak menonton konten mereka. Sederhana.”

Belle (26), penggemar K-pop asal Manila, Filipina:
“Selama ini kami dianggap hanya mesin uang. Beli album, streaming, vote. Tapi saat kami minta dihormati, kami disebut kecoa. Kapok. Saya sudah berhenti streaming drakor sejak seminggu lalu.”

🗣️ Suara KNetz (yang moderat):

Park Jiyoung (29), pekerja kantoran Seoul:
“Saya malu dengan beberapa netizen Korea. Mereka lupa bahwa K-pop bisa besar juga karena penggemar internasional. Asia Tenggara adalah alasan mengapa banyak grup bisa bertahan. Saya minta maaf atas nama penggemar Korea yang waras.”

Cuitannya mendapat 50 ribu likes dari netizen Asia Tenggara, tapi juga diserang habis-habisan oleh KNetz garis keras.


ANALISIS: KENAPA INI BERBEDA DARI KONFLIK SEBELUMNYA?

Pengamat media sosial, Dr. Andini Prameswari, menjelaskan bahwa konflik ini memiliki karakteristik unik:

1. Skala solidaritas lintas negara
“Biasanya konflik hanya melibatkan Indonesia vs KNetz, atau Malaysia vs KNetz. Tapi kali ini semua negara ASEAN bersatu di bawah bendera SEAblings. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.”

2. Pergeseran posisi penggemar
“Penggemar Asia Tenggara selama ini dianggap sebagai konsumen pasif. Sekarang mereka sadar punya kekuatan. Boikot adalah alat tawar-menawar. Industri Korea harus mulai serius mendengar suara mereka.”

3. Kreativitas respons
“Daripada sekadar marah-marah, netizen Indonesia menunjukkan kecerdasan dengan serangan bahasa daerah dan diplomasi budaya. Ini membuat mereka terlihat cerdas, bukan sekadar emosional.”

Namun Dr. Andini juga mengingatkan:

“Boikot ini mungkin berdampak besar di dunia maya, tapi belum tentu signifikan secara ekonomi dalam jangka pendek. Klaim ‘kerugian miliaran’ yang beredar di internet belum bisa diverifikasi dan cenderung bombastis. Tapi jika berlanjut, industri pasti akan merasakan dampaknya.”


FAKTA ATAU FIKSI? MEMBEDAH KLAIM VIRAL

Beberapa klaim yang beredar perlu diluruskan:

Klaim Viral Status Fakta
“Industri K-pop rugi Rp 50 triliun akibat boikot” ❌ Tidak terverifikasi Tidak ada laporan resmi dari agensi mana pun
“Semua artis Korea membela KNetz” ❌ Salah Sebagian besar artis memilih diam, beberapa secara implisit meminta penggemar rukun
“Pemerintah Malaysia akan memboikot produk Korea” ❌ Hoaks Tidak ada pernyataan resmi pemerintah
“Tagar #SEAblingsUnited trending global” ✅ Benar Sempat masuk trending di 15 negara termasuk AS dan Inggris

HARAPAN DI TENGAH KONFLIK

Di tengah panasnya situasi, muncul pula upaya perdamaian dari komunitas akar rumput. Sebuah inisiatif bernama “Bridge the Rift” digagas oleh penggemar K-pop dari Korea dan Indonesia untuk berdialog secara virtual.

Lee Minseo (22), penggagas dari Korea:
“Kami tidak bisa diam melihat kebencian ini. K-pop seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok pemisah. Kami ingin memulai dialog yang sehat, tanpa hinaan.”

Pertemuan virtual pertama dijadwalkan pada 28 Februari 2026 dan akan dihadiri oleh puluhan penggemar dari kedua belah pihak.

ASIA TENGGARA BUKAN LAGI “PASAR” TAPI “PEMAIN”

Konflik SEAblings vs KNetz menjadi titik balik dalam dinamika hubungan industri hiburan Korea Selatan dengan basis penggemar terbesarnya di Asia Tenggara. Lebih dari sekadar adu argumen di dunia maya, ini adalah:

  1. Pernyataan sikap bahwa rasa hormat adalah harga mati

  2. Pembuktian kekuatan kolektif lintas negara ASEAN

  3. Peringatan bagi industri hiburan global untuk tidak lagi memandang Asia Tenggara hanya sebagai mesin uang

Apakah boikot drakor akan bertahan lama? Atau akan mereda seiring waktu? Jawabannya tergantung pada satu hal: apakah industri Korea mau belajar menghormati penggemarnya – atau terus menganggap mereka sekadar “kecoa” yang bisa diinjak dan tetap kembali?

Yang jelas, SEAblings telah lahir. Dan mereka tidak akan diam lagi.


📊 STATISTIK CEPAT:

Indikator Angka
Total penggemar Hallyu di ASEAN 40,44 juta
Negara dengan penggemar terbanyak Thailand
Jumlah cuitan #SEAblingsUnited 2,3 juta
Video TikTok terkait konflik 150 juta views
Penurunan streaming drakor (estimasi) 25-30%
Agensi Korea yang merilis pernyataan 3 dari 10 besar

 

APA KATA ANDA?

Apakah Anda mendukung boikot drakor? Atau justru menganggap konflik ini berlebihan? Kirim pendapat Anda ke redaksi@komentar-news.com dengan tagar #SEAblingsPerspektif.

(Lipsus ERL*)

Baca Juga:

Share

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait

Trending
Recommended
Latest

AnotherNews

SULUTNews