Makassar, KomentarNews – Di balik tebing-tebing karst yang menjulang di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, tersimpan warisan seni tertua di dunia. Lukisan-lukisan gua berusia puluhan ribu tahun itu tidak hanya menjadi saksi bisu peradaban awal manusia, tetapi juga mengubah teori asal-usul seni rupa yang selama ini berpusat di Eropa.
Bahkan di balik bayang-bayang gua Leang-Leang, warna-warna pada lukisan masih tampak segar: merah marun tua yang kaya, sedikit memudar karena ditimpa mineral kapur. Dinding gua yang melengkung menampilkan sosok makhluk dengan tubuh menggembung dan kaki kurus yang tampak terdistorsi. Namun, itu bukan hasil imajinasi liar—lukisan tersebut menggambarkan babirusa, atau “pig-deer,” spesies endemik yang hanya ditemukan di Sulawesi.
Seni Tertua di Muka Bumi
Kawasan karst Maros-Pangkep membentang di area seluas lebih dari 400 kilometer persegi. Menara-menara batu yang menjulang, tebing-tebing curam, dan puncak-puncak bergerigi di kawasan ini dipenuhi oleh gua-gua purba. Setidaknya 39.900 tahun yang lalu, manusia purba hidup di gua-gua ini dan meninggalkan jejak abadi.
Terkadang, mereka membuat cat, menyedotnya ke dalam mulut, lalu menyemprotkannya ke sekitar tangan mereka, meninggalkan stensil tangan yang misterius—ada yang seukuran tangan anak-anak, ada yang sebesar tangan pianis konser, dan beberapa dengan jari yang hilang. Di lain waktu, mereka melukis binatang, biasanya babirusa dan babi hutan.
Yang menarik, mereka meninggalkan karya seni ini di mulut gua, di ruang terang yang kemungkinan besar dapat dilihat oleh semua orang.
“Gua-gua prasejarah ini sangat penting dalam sejarah perkembangan budaya manusia, tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal di Sulawesi Selatan tetapi juga bagi seluruh umat manusia,” kata Iwan Sumantri, arkeolog dari Universitas Hasanuddin di Makassar.
Mengubah Teori Asal-Usul Seni
Hingga baru-baru ini, banyak ahli percaya bahwa seni berasal dari Eropa sekitar 35.000 tahun lalu, dalam suatu masa kejayaan kreativitas yang menghasilkan lukisan-lukisan terkenal di Gua Chauvet, Prancis. Namun, temuan di Sulawesi membantah teori tersebut.
“Lukisan tangan di Leang Timpuseng, dekat Maros, memiliki usia minimal 39.900 tahun,” ujar Sumantri. Capaian ini menjadikannya sebagai stensil tangan tertua yang diketahui di Bumi. Sementara itu, lukisan babirusa yang memudar di gua yang sama berusia setidaknya 35.400 tahun, menempatkannya sebagai salah satu seni figuratif tertua di dunia.
Lukisan-lukisan di Sulawesi ini diukur usianya dengan melihat endapan kecil seperti stalaktit yang terbentuk di atasnya, yang memberikan angka usia minimal. Sebagian besar metode penanggalan lainnya menghasilkan usia maksimal, sehingga perbandingan langsung sulit dilakukan.
Paradise bagi Manusia Purba
Adam Brumm, arkeolog dari Griffith University Australia, saat ini melakukan penggalian di gua-gua Maros-Pangkep untuk mempelajari lebih lanjut tentang manusia pencipta seni ini.
“Sulawesi pasti menjadi surga bagi manusia,” katanya. “Ini adalah pulau yang sangat luas dengan variasi habitat yang besar dan kaya akan sumber daya. Manusia tidak perlu terlalu takut pada apa pun selain sesama manusia.”
Terbentuk dari pertemuan dua daratan benua yang berbeda, pulau yang terdistorsi ini hingga kini masih menjadi rumah bagi satwa liar yang sangat unik, sehingga beberapa naturalis menyebutnya sebagai “Madagaskar-nya Indonesia.”
Pada masa para seniman purba ini berkarya, mamalia predator terbesar di Sulawesi hanya sedikit lebih besar dari kucing rumahan modern. Ancaman alami terbesar bagi manusia di iklim tropis yang hangat adalah ular piton raksasa.
Misteri Bahan Cat dan Ancaman Modern
Meski penelitian Brumm masih dalam tahap awal, ia mulai merekonstruksi bagaimana kehidupan masyarakat Maros-Pangkep. Mereka adalah kelompok pemburu-pengumpul yang sangat mobile, berpindah dari satu situs ke situs lain, dan lebih banyak menghabiskan waktu di hutan daripada di dalam gua. Mereka diperkirakan menggunakan gua terutama selama musim hujan.
Asal-usul bahan cat mereka masih menjadi misteri. “Kami belum berhasil melacak sumber oker merah,” kata Brumm. “Sepertinya bukan berasal dari daerah sini. Mungkin diperoleh melalui jaringan perdagangan dengan kelompok pemburu-pengumpul lain yang berada lebih jauh di pedalaman.”
Belum diketahui berapa banyak seni cadas yang ada di kawasan karst Maros-Pangkep karena banyak gua yang belum dijelajahi. Faktanya, saat kami berkendara dari Taman Seni Gua Leang-Leang menuju kawasan karst Rammang-Rammang, suara ledakan menggema di perbukitan.
Banyak gua yang dilindungi undang-undang dan menjadi tujuan wisata. Namun, beberapa kawasan yang tidak dilindungi justru menjadi sasaran peledakan untuk diambil batunya sebagai bahan baku semen—industri utama yang menggerakkan perekonomian di kawasan berkembang ini.
“Ini masalah,” kata Sumantri singkat.
“Aku Pernah di Sini”
Perjalanan dengan perahu kecil membawa kami melewati pohon-pohon palem yang rindang, di bawah jembatan alami, melewati ngarai karst yang dramatis, hingga mencapai sebuah rumah pertanian sederhana di tengah hamparan sawah.
Di atas kawasan karst, pendakian menantang melalui gua sempit yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit membawa kami ke tepi jurang. Pemandu menyorotkan kepala lampu ke bawah, memperlihatkan birunya sungai bawah tanah di bawah kami.
Apakah para seniman purba ini pernah melihat pemandangan ini? Di dekat pintu masuk, sebuah stensil tangan berwarna oker terukir tinggi di dinding batu.
Sulit dipercaya bahwa puluhan ribu tahun yang lalu, seseorang datang ke sini dan meninggalkan tanda sederhana namun manusiawi yang masih terbaca jelas: “Aku pernah di sini.”
Bergenerasi-generasi kemudian, di dunia di mana kecerdasan manusia telah mendaratkan manusia di bulan dan membidik Mars, pesan itu tetap abadi.
(*National Geographic/ *Ant/ BBC)
