MTPJ, Komentarnews –
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Pernahkah kita merasa lelah ikut Tuhan karena menderita? Penderitaan memang menjadi konsekuensi hidup beriman yang dapat membuat orang kristen menyerah. Kelelahan fisik ditambah tekanan emosional memberi dampak besar pada hidup orang percaya. Ada orang percaya menjadi goyah imannya dan ingin kembali ke kehidupan lama. Keadaan seperti in terjadi di komunitas kristen Yahudi, penerima Surat Ibrani. Penganiayaan besar dan berat terhadap orang Kristen membuat Jemaat Ibrani seperti menyerah pada keadaan.
Para ahli memperkirakan surat ini ditulis sekitar tahun 60-an masehi, artinya jemaat ada di masa Kaisar Nero memerintah. Banyak serangan pada orang Kristen, termasuk tuduhan sebagai dalang kebakaran di Roma tahun 64 M. Penderitaan bukan saja tidak selesai, tapi bertambah mengerikan. Situasi ini memunculkan anggapan melepaskan iman kepada Yesus Kristus adalah cara mengatasi penderitaan. Ada juga yang berpikir Yesus Kristus saja tidak cukup untuk menyelamatkan.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Siapa penulisnya, tidak bisa dipastikan. Beberapa ahli menyebut Paulus, namun ada juga yang tidak sepakat. Banyak kutipan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani menjadi alasan, sebab Paulus berlatar belakang Yahudi. Surat ini bertujuan menguatkan jemaat di tengah penderitaan sekaligus membawa mereka kembali pada pemahaman yang benar tentang Yesus Kristus. Jemaat diajak untuk mengenal siapa Yesus Kristus.
- Yesus Kristus adalah Allah. Firman yang menjadi manusia demi menyelamatkan umat-Nya. Ia lebih tinggi dari malaikat sebab Dia bukan malaikat (pasal 1).
- Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung, melebihi Harun ataupun Melkisedek (pasal 4 – 7). Oleh-Nya tabir Bait Allah disingkapkan. Artinya, Yesus Kristus menjadi penghubung antara manusia dan Tuhan Allah. Semua orang dapat datang pada Tuhan Allah melalui Yesus Kristus.
- Yesus Kristus adalah korban penghapus dosa (pasal 10). Ia mengorbankan diri-Nya agar manusia diselamatkan. Hal ini secara tegas menolak pandangan dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, juga dibenarkan karena mempersembahkan korban penghapusan dosa.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Penjelasan tentang siapa Yesus Kristus, dilanjutkan dengan petunjuk hidup benar sebagai respon atas kasih-Nya. Tuhan Allah menginginkan kehidupan beriman yang nyata dalam perbuatan, bukan sekadar ritual mempersembahkan korban serta menjalankan hukum Taurat.
Tuhan Yesus menanggung penderitaan paling berat karena kasih-Nya pada manusia. Ia mengurbankan diri sekali untuk selamanya. Pengorbanan ini memulihkan relasi manusia dengan Tuhan Allah. Tidak ada lagi hukuman dosa bagi mereka yang hidup dalam Yesus Kristus. “Dan karena kehendak-Nya inilah, kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (ayat 10). Dikuduskan (yun. Hagiazo = disucikan, dikhususkan, disendirikan) artinya manusia disucikan dan dikhususkan oleh Yesus Kristus, bukan karena mempersembahkan korban atau berhasil melakukan Taurat, melainkan oleh kasih karunia-Nya.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Tidak ada pembenaran karena melakukan Taurat atau mempersembahkan korban. Hukum Taurat adalah bayangan dari keselamatan (ay. 1), artinya hukum Taurat hanya memberi gambaran tentang keselamatan tetapi tidak menyelamatkan. Yesus Kristus adalah penggenapan Hukum Taurat itu. Sedangkan persembahan korban penghapus dosa yang dilakukan sesuai Taurat merupakan pengingat bahwa manusia berdosa dan tidak mungkin selamat tanpa ada pengorbanan. Mempersembahkan korban yang berulang-ulang menunjukkan bahwa ritual tidak bisa menyelamatkan. Di sinilah kita diajak untuk memandang Yesus Kristus yang mempersembahkan tubuh-Nya sebagai korban penebusan dosa untuk manusia. Manusia diselamatkan karena pengorbanan Yesus Kristus. Kematian-Nya menguduskan hidup manusia sekali untuk selamanya, sehingga orang yang hidup dalam Yesus Kristus menjadi ciptaan baru.
Ditebus dan dikuduskan oleh Yesus Kristus tidak berarti orang percaya hidup mulus tanpa penderitaan. Penderitaan justru menjadi risiko dari ketaatan kepada Yesus Kristus. Namun, kasih-Nya memampukan orang percaya menghadapi semua kesukaran. Dalam pergumulan, orang percaya terpanggil untuk menyikapi setiap keadaan dengan tindakan-tindakan beriman. Penderitaan bukan alasan untuk berpaling dari Yesus Kristus, melainkan menjadi pendorong untuk makin teguh perpegang pada-Nya.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Perayaan Jumat Agung hari ini, mengingatkan orang percaya tentang kasih karunia Tuhan Allah yang menyelamatkan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Ini bukan hasil ketaatan pada Taurat, bukan juga karena memberi korban persembahan. Semua adalah kasih karunia. Tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus.
Perjalanan hidup mengimani Yesus Kristus memang menempatkan orang percaya dalam berbagai risiko yang dapat mendatangkan penderitaan, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan iman kepada-Nya. Sebaliknya, sekalipun di tengah kesukaran, orang percaya diajak untuk tetap teguh percaya, bersandar dan berharap pada-Nya, lalu merespon anugerah-Nya dengan berlaku benar dalam hidup.
Orang percaya harus meyakini, Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, adalah penuh kuasa yang sanggup menolong umat-Nya dalam menghadapi dan mengatasi penderitaan. Surat Ibrani menyebut begitu banyak nama sebagai saksi iman, bagaimana mereka teguh beriman hingga akhir. Kesaksian hidup mereka patut diteladani oleh orang percaya di masa kini. Amin.
(dodokugmim/gmim)

