Kisah Lengkap Bagaimana “Saudara Asia Tenggara” Bersatu di Dunia Digital
JAKARTA,KOMENTARNEWS – Jika Anda membuka media sosial X beberapa pekan terakhir, Anda pasti menemukan satu kata yang mendadak viral: SEAblings. Tagar ini mewarnai jutaan cuitan, menjadi tameng persatuan netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam dalam menghadapi gelombang komentar rasis dari netizen Korea Selatan (KNetz) pasca-insiden konser DAY6 .
Tapi tahukah Anda? SEAblings sebenarnya lahir lebih awal, dan dengan cerita yang sama sekali berbeda.
Istilah yang kini menjadi simbol perlawanan ini pertama kali muncul bukan karena perang dengan KNetz, melainkan karena traktiran makanan – ya, aksi sederhana memesan nasi bungkus untuk pengemudi ojek online (ojol) yang tengah berjuang di tengah gelombang demonstrasi di Indonesia .
Artikel ini akan mengupas tuntas apa dan bagaimana sejarah SEAblings terbentuk, dari akar solidaritasnya yang hangat hingga transformasinya menjadi kekuatan digital yang disegani.
AKAR SEJARAH – KETIKA TRAKTIRAN MAKANAN MENJADI PINTU PERSATUAN

🟢 Agustus 2025: Tragedi yang Menggerakkan Solidaritas
Semuanya bermula pada 28 Agustus 2025. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) berusia 21 tahun, tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Barracuda milik Brimob Polri saat terjadi bentrokan dalam demonstrasi besar-besaran di Jakarta .
Duka dan amarah melanda jagat maya Indonesia. Namun yang tak terduga, di tengah hiruk-pikuk protes, netizen dari berbagai negara mulai memperhatikan.
Apa yang mereka lakukan? Bukan sekadar mengetik dukungan, tapi memesan makanan .

🟢 30 Agustus 2025: “OKAYYYY” yang Mengubah Segalanya
Seorang pengguna X asal Thailand dengan akun @sighyam menulis cuitan yang menjadi titik awal:
“Guys I just found out that you can support indonesian grb riders who are still out on the streets because grb allows you to make deliveries in other SE Asian countries?? OKAYYYY”
Cuitan sederhana itu meledak. Netizen dari Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand mulai beramai-ramai membuka aplikasi pemesanan makanan. Mereka memesan makanan – nasi kotak, mi instan, kopi, camilan – untuk dikirimkan kepada para pengemudi ojol di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lain yang masih terdampak demonstrasi .
Mereka tidak mengenal penerima makanan. Mereka hanya tahu: “saudara” sedang kesusahan.
🟢 Lahirnya Istilah #SEAblings
Dari aksi spontan inilah istilah SEAblings lahir. Sebuah plesetan kata (word play) cerdas yang menggabungkan:
| Komponen | Arti |
|---|---|
| SEA | Southeast Asia (Asia Tenggara) |
| Siblings | Saudara kandung |
Teknik ini disebut blending – mencampur dua kata menjadi satu dengan makna baru yang kuat: masyarakat Asia Tenggara adalah satu keluarga besar .
Tagar #SEAblings mulai menggema. Bukan hanya untuk menunjukkan dukungan moral, tapi juga aksi nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh para penerima makanan di lapangan .
MENGAPA MAKANAN? AKAR BUDAYA ASIA TENGGARA
Pertanyaan yang muncul: mengapa bentuk solidaritas ini berpusat pada makanan?
🟢 Faktor Teknologi: Grab sebagai Jembatan

Aplikasi berbasis di Malaysia, Grab, menjadi kendaraan utama solidaritas ini. Berkat jangkauannya yang luas di delapan negara Asia Tenggara, Grab memiliki fitur unik: pengguna dapat mengubah lokasi pengiriman ke negara lain .
Seorang netizen di Bangkok bisa dengan mudah memesan makanan untuk dikirim ke ojol di Jakarta. Fitur yang jarang dimiliki aplikasi lain ini menjadi alat revolusioner untuk solidaritas lintas batas.
🟢 Faktor Budaya: “Sudah Makan Belum?”

Namun teknologi saja tidak cukup. Yang membuat gerakan ini mengena adalah nilai budaya.
Di Asia Tenggara, menyapa seseorang dengan pertanyaan “Sudah makan belum?” bukan sekadar basa-basi. Itu adalah ungkapan kepedulian yang tulus. Makanan adalah bahasa cinta universal .
Southeast Asia dikenal sebagai salah satu kawasan paling dermawan di dunia. Tradisi berbagi makanan kepada tetangga, kerabat, bahkan orang asing yang membutuhkan, sudah mengakar kuat .
Ketika netizen Thailand, Malaysia, atau Singapura memastikan bahwa “saudara” mereka di Indonesia mendapat makanan hangat di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, itu adalah perpanjangan tangan dari nilai budaya yang sama.
TRANSFORMASI – DARI SOLIDARITAS SOSIAL MENJADI PERISAI DIGITAL

🟢 September 2025 – Januari 2026: Masa Hening yang Menyimpan Potensi
Setelah gelombang demonstrasi mereda, tagar #SEAblings tidak serta-merta hilang. Ia seperti api dalam sekam – diam, tapi tetap menyala.
Para pengamat mencatat bahwa solidaritas ini membangun kesadaran pan-Asia Tenggara yang baru. Warga net di kawasan ini mulai merasa: kita punya nasib bersama, kita bisa saling mengandalkan .
🟢 Februari 2026: Panggilan Perang dari Konser DAY6
Pada 31 Januari 2026, band asal Korea Selatan, DAY6, menggelar konser di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia. Sejumlah oknum fansite master asal Korea kedapatan membawa kamera DSLR profesional dengan lensa panjang – sebuah pelanggaran aturan eksplisit dari promotor karena mengganggu kenyamanan penonton lain .
Saat ditegur penonton lokal Malaysia, reaksi para fansite ini defensif dan arogan. Protes di media sosial pun merebak.
Namun alih-alih membahas etika, netizen Korea Selatan (KNetz) membalas dengan serangan personal yang rasis . Mereka menyebut masyarakat Asia Tenggara dengan istilah dehumanisasi seperti “kecoa”, mengejek status ekonomi, dan bahkan menghina fisik.
🟢 Puncak Kemarahan: Hinaan “Sawah” dan “Monyet”
Dua insiden menjadi pemicu utama netizen Indonesia “turun gunung” :
-
Seorang KNetz mengunggah tangkapan layar video klip grup vokal Indonesia, No Na, yang mengambil latar di tengah sawah, dengan sindiran:
“Mereka tidak punya uang untuk menyewa set proper, jadi mereka syuting di sawah. Apakah ini tempat mereka menanam padi?”
-
Unggahan lain memperlihatkan gambar monyet dengan keterangan:
“ketika wanita Asia Tenggara sedang marah”
Penghinaan terhadap latar belakang agraris dan fisik ini dianggap sebagai serangan terhadap harga diri kolektif bangsa-bangsa Asia Tenggara .
🟢 SEAblings Bangkit Kembali – Kali Ini dengan Gigi
Di sinilah istilah SEAblings meledak untuk kedua kalinya – dengan makna baru yang lebih militan .
Netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam yang biasanya sibuk bersaing dan bertengkar satu sama lain, tiba-tiba bersatu membentuk front pertahanan digital. Negara tetangga pasang badan .
Indonesia, dengan reputasi sebagai salah satu kekuatan digital paling disegani di dunia, maju ke garis depan. Tapi mereka bertarung dengan cara unik dan kreatif :
| Strategi | Deskripsi | Dampak |
|---|---|---|
| Serangan Bahasa Daerah | Membalas dengan bahasa Jawa, Batak, Bugis, bahkan aksara kuno | Membingungkan mesin penerjemah KNetz |
| Diplomasi Budaya | Membanjiri linimasa dengan prestasi artis lokal dan kecantikan alami tanpa operasi plastik | Membalikkan narasi inferioritas |
| Aliansi India | Netizen India bergabung karena sering dikira “Indo” (Indonesia) oleh KNetz | Memperluas front perlawanan |
PERBANDINGAN – DUA WAJAH SEABLINGS
Fenomena SEAblings memiliki dua fase yang sangat berbeda, namun saling terhubung:
| Aspek | SEAblings 1.0 (Agustus 2025) | SEAblings 2.0 (Februari 2026) |
|---|---|---|
| Pemicu | Tragedi kemanusiaan (tewasnya ojol) | Konflik budaya dan rasisme digital |
| Bentuk Solidaritas | Positif: traktir makanan, dukungan logistik | Defensif: serangan balik, boikot konten |
| Musuh | Tidak ada musuh – murni solidaritas | KNetz (netizen Korea yang rasis) |
| Misi | Membantu sesama yang kesusahan | Melindungi harga diri regional |
| Sifat | Hangat, penuh kasih | Militan, penuh perlawanan |
Namun satu benang merah menghubungkan keduanya: kesadaran bahwa nasib negara-negara Asia Tenggara saling terkait.
MENGAPA SEABLINGS PENTING? MAKNA DI BALIK FENOMENA
🟢 Lebih dari Sekadar Tagar
SEAblings bukan sekadar tren media sosial yang muncul lalu hilang. Fenomena ini memiliki makna mendalam :
-
Pembuktian Kekuatan Kolektif – Asia Tenggara selama ini sering dipandang sebagai “pasar” bagi industri global. SEAblings membuktikan bahwa kawasan ini memiliki suara dan kekuatan tawar.
-
Cairnya Batas Negara di Dunia Digital – Dalam ruang digital, identitas regional bisa mengalahkan sekat-sekat nasionalisme sempit.
-
Harga Diri Bukan Komoditas – Gerakan ini (terutama fase 2.0) menegaskan bahwa rasa hormat adalah harga mati. Penggemar bukan mesin uang yang bisa diinjak lalu tetap kembali.
🟢 Hubungan dengan Gerakan Sebelumnya
SEAblings memiliki kemiripan dengan gerakan solidaritas digital Asia sebelumnya, seperti Milk Tea Alliance yang muncul pada 2019-2020 . Namun SEAblings berbeda dalam satu hal: solidaritasnya diwujudkan dalam bentuk nyata (makanan, donasi), tidak hanya seruan moral di dunia maya.
SUARA DARI LAPANGAN
Apa kata mereka yang terlibat langsung dalam kelahiran SEAblings?
Yammi, pengguna Thailand yang cuitannya menjadi pionir gerakan traktir makanan (melalui akun @sighyam), mungkin tidak menyangka bahwa ajakan sederhananya akan melahirkan fenomena sebesar ini .
Rizki (21), mahasiswa Jakarta yang ikut dalam gelombang perlawanan 2026:
“Waktu 2025, saya lihat netizen Thailand dan Malaysia kirim makanan buat ojol kita. Rasanya haru. Jadi pas 2026 kita diserang, rasanya wajar kalau kita balas bela mereka juga. Kita emang siblings.”
Dr. Andini Prameswari, pengamat media sosial:
“SEAblings adalah bukti bahwa digital solidarity bisa melampaui batas negara tanpa perlu organisasi formal atau agenda politik. Gerakan ini tumbuh organik, partisipatif, dan cepat – itulah kekuatan era digital.”
MASA DEPAN SEABLINGS
Akankah SEAblings bertahan setelah konflik dengan KNetz mereda?
Para pengamat optimis. Meski fase 2.0 mungkin akan meredup seiring meredanya ketegangan, kesadaran SEAblings – bahwa kita adalah saudara satu kawasan – kemungkinan akan tetap hidup dan bisa muncul kembali dalam bentuk lain di masa depan .
Seperti kata pepatah Asia Tenggara: saudara boleh bertengkar, tapi ketika ada musuh dari luar, mereka akan bersatu .
Konflik dengan KNetz membuktikan bahwa di era digital, batas negara bisa melebur demi solidaritas melawan diskriminasi. Asia Tenggara bukan lagi sekadar pasar bagi industri hiburan global, melainkan komunitas digital yang memiliki “taring” saat identitasnya diusik .
RINGKASAN: GARIS WAKTU SEABLINGS
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 28 Agustus 2025 | Affan Kurniawan (ojol) tewas dalam demonstrasi Jakarta |
| 30 Agustus 2025 | Netizen Thailand @sighyam mencetuskan ide traktir makanan lintas negara; tagar #SEAblings lahir |
| September 2025 | Gelombang solidaritas makanan dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina mengalir ke Indonesia |
| 31 Januari 2026 | Insiden kamera fansite Korea di konser DAY6 Malaysia |
| 1-3 Februari 2026 | KNetz melontarkan komentar rasis; netizen Malaysia protes |
| 4-8 Februari 2026 | Netizen Indonesia bergabung membela “saudara” Malaysia |
| 9-12 Februari 2026 | Tagar #SEAblingsUnited kembali viral; aliansi lintas negara terbentuk |
| Sekarang | Boikot konten Korea mulai digaungkan; dialog rekonsiliasi mulai dirintis |
DUA CERITA, SATU SEMANGAT

SEAblings adalah fenomena unik dengan dua sejarah yang saling melengkapi.
Sejarah pertamanya lahir dari kepedulian dan kasih sayang – ketika netizen tetangga mengirim makanan untuk saudara yang kesusahan di Indonesia.
Sejarah keduanya lahir dari kemarahan dan perlawanan – ketika netizen Asia Tenggara bersatu melawan rasisme yang menyerang harga diri mereka.
Namun keduanya bersumber dari satu kesadaran yang sama: kita adalah saudara. Dan saudara saling menjaga – dengan cara apa pun yang diperlukan.
Saat ini, ketika Anda melihat tagar #SEAblings di linimasa, ingatlah bahwa di baliknya ada dua cerita: cerita tentang nasi bungkus yang dikirim dengan cinta, dan cerita tentang perlawanan terhadap kebencian. Dua sisi dari koin yang sama: persaudaraan Asia Tenggara.
INFOGRAFIS SEDERHANA
SEAblings dalam Angka:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Pertama kali muncul | Agustus 2025 |
| Pemicu awal | Tragedi kematian ojol |
| Negara yang terlibat (2025) | Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina |
| Pemicu kebangkitan (2026) | Insiden rasisme KNetz |
| Negara yang terlibat (2026) | + Vietnam, + India (aliansi) |
| Jangkauan tagar #SEAblingsUnited | 2,3 juta cuitan, trending di 12 negara |
(ERL*)
