Washington D.C. Komentarnews– Kecerdasan buatan (AI) generatif dan teknologi deepfake semakin mewarnai gelaran pemilu sela Amerika Serikat 2026, mengaburkan batas antara fakta dan manipulasi digital. Para pakar dan penyelenggara pemilu memperingatkan bahwa video dan audio palsu berbasis AI diperkirakan akan menyebar luas dalam kampanye tahun ini, berpotensi mengikis kepercayaan publik yang sudah rendah terhadap proses demokrasi .
Salah satu contoh yang menonjol adalah iklan dari Komite Senatorial Nasional Republik (NRSC) yang menampilkan calon Senat Demokrat dari Texas, James Talarico. Dalam video tersebut, Talarico tampak berdiri di depan bendera Texas dan berkata, “Pria kulit putih yang terradikalisasi adalah ancaman terorisme dalam negeri terbesar di negara kita.” Namun, Talarico tidak pernah merekam video itu. Iklan tersebut sepenuhnya dihasilkan oleh AI, dengan kata “AI generated” hanya muncul dalam font kecil di sudut kanan bawah yang sulit dilihat .
“Ketika video dibuka, Talarico tampak berseri-seri di depan bendera Texas. Tapi dia tidak pernah merekam video itu,” demikian laporan Reuters yang mengutip iklan yang diproduksi oleh NRSC tersebut .
Penggunaan teknologi ini belum memiliki regulasi federal yang seragam. Dua puluh delapan negara bagian telah mengesahkan undang-undang yang mengatur atau mewajibkan penandatanganan konten politik berbasis AI, tetapi sebagian besar fokus pada pengungkapan, bukan larangan total .
Sejauh ini, Partai Republik tampak lebih sering menggunakan teknologi ini dibandingkan Demokrat dalam siklus pemilu 2026, menurut para pakar politik dan tinjauan Reuters terhadap iklan yang tersedia untuk umum . Partai Republik mengikuti jejak pemerintahan Trump yang telah merilis puluhan video buatan AI dan meme bergaya game di media sosial .
Sementara itu, Partai Demokrat juga mulai merespons dengan taktik serupa. Kampanye Senator Jon Ossoff dari Georgia, yang mencalonkan diri kembali, merilis iklan balasan yang juga menggunakan AI untuk menyerang lawannya, menggambarkan kandidat Partai Republik mengemudikan mobil konvertibel dengan figur wanita yang diberi label “Mistress #1” dan “Mistress #2” .
Daniel Schiff, seorang profesor dari Purdue University yang telah mempelajari ribuan konten deepfake, mengatakan bahwa meningkatnya penggunaan konten politik yang menyebarkan misinformasi berisiko semakin mengikis kepercayaan pemilih AS terhadap institusi demokrasi.
“Saya pikir jenis kerusakan yang dapat kita lakukan terhadap ketelitian dan kredibilitas pemilu serta sistem demokrasi—dan kemampuan untuk memberikan informasi yang salah kepada masyarakat tentang kandidat atau isu sosial—sangat berisiko menjadi semakin parah,” ujar Schiff kepada Reuters .
Dengan tidak adanya regulasi federal yang mengikat, regulator pemilu federal masih memperdebatkan bagaimana mengatur deepfake tanpa melanggar kebebasan berekspresi yang dilindungi Amandemen Pertama Konstitusi AS . Sementara itu, platform media sosial seperti Meta dan X telah menghapus sistem pengecekan fakta profesional dan beralih ke catatan yang dihasilkan pengguna, meskipun mereka tetap memberi label pada konten buatan AI tertentu .
Sebuah studi yang diterbitkan pada 2025 dalam Journal of Creative Communications menemukan bahwa orang kesulitan mengidentifikasi video deepfake dan opini mereka terpengaruh oleh jenis misinformasi ini .
Sementara itu, Uni Eropa telah bergerak lebih maju. Regulasi AI Act yang mulai berlaku sebagian pada Februari 2025 mewajibkan transparansi untuk sistem AI yang menghasilkan konten manipulatif, termasuk deepfake, yang akan berlaku penuh mulai Agustus 2026 .
(*Reuters/ *U.S. News & World Report/)
