Tokyo, Komentarnews – Sony Honda Mobility (SHM), perusahaan patungan yang dibentuk oleh dua raksasa asal Jepang, secara resmi menghentikan pengembangan mobil listrik bermerek Afeela. Keputusan ini menjadi babak akhir dari ambisi Sony di industri otomotif yang dimulai dengan prototipe Vision-S pada ajang CES 2020.
Keputusan mengejutkan ini diambil setelah Honda mengumumkan perubahan strategi besar-besaran pada awal Maret 2026, termasuk membatalkan tiga model kendaraan listrik yang direncanakan untuk pasar Amerika. Langkah tersebut diprediksi merugikan Honda hingga 16 miliar dolar AS (sekitar Rp265 triliun), seperti dilaporkan TechCrunch, Rabu (25/3/2026).
Sony Honda Mobility menyebut dua faktor utama yang menyebabkan kegagalan ini. Pertama, penerapan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengubah lanskap perdagangan otomotif AS secara drastis. Kedua, meningkatnya persaingan sengit dari mobil listrik buatan China yang membanjiri pasar global dengan harga lebih kompetitif.
Perubahan strategi Honda membuat SHM berada di posisi tidak lagi dapat mengembangkan kendaraan yang telah direncanakan. SHM mengakui bahwa mereka akan menggunakan “teknologi dan aset tertentu” dari Honda untuk mendukung sedan dan SUV Afeela, namun masa depan merek tersebut kini berada di ujung tanduk.
Sedan Afeela 1 seharusnya diluncurkan akhir tahun ini dengan harga awal mencapai 90.000 dolar AS (sekitar Rp1,5 miliar). Peluncuran tersebut kini batal, menyisakan ketidakjelasan bagi nasib usaha patungan ini dan ratusan karyawan yang bekerja di Tokyo dan California.
SHM dalam siaran persnya pada Rabu menyatakan akan “terus membahas dan mengevaluasi masa depan” usaha patungan dengan Sony dan Honda. Para pihak berjanji akan “bersama-sama mengumumkan arah masa depan SHM, posisi jangka menengah hingga panjang serta kontribusi terhadap masa depan mobilitas sesegera mungkin.”
Dunia pertama kali mengetahui ketertarikan Sony pada industri otomotif di ajang Consumer Electronics Show (CES) 2020. Saat itu, raksasa elektronik tersebut memamerkan kendaraan konsep Vision-S di akhir presentasi utamanya. Mobil itu menjadi kejutan besar, dan Sony tampak terkejut dengan antusiasme publik terhadap prototipe tersebut.
Awalnya, Vision-S dimaksudkan sebagai ajang pamer kehebatan Sony di bidang hiburan dan elektronik, dengan fitur layar membentang di dasbor, audio 360 derajat, dan 33 sensor di sekeliling mobil.
“Prototipe ini mewujudkan kontribusi kami untuk masa depan mobilitas,” kata CEO Sony saat itu, Kenichiro Yoshida, selama acara tersebut.
Pada 2022, Sony mengumumkan kerja sama dengan Honda dan berjanji membangun sedan serta varian SUV. Pada 2023, kedua perusahaan meluncurkan merek Afeela. Namun, pasar kendaraan listrik AS telah berubah drastis sejak saat itu, dipicu oleh kebijakan tarif Trump dan pencabutan insentif EV. Banyak perusahaan rintisan EV kini telah gulung tikar, dan Afeela menjadi korban terbaru.
(*TechCrunch/ *Reuters/ *Nikkei Asia/ *CNBC)
