Washington, D.C. KOMENTARNEWS – Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, kembali menegaskan komitmen pemerintahan Donald Trump untuk menempatkan sistem persenjataan di luar angkasa melalui proyek pertahanan rudal ambisius bernama Golden Dome. Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam sebuah pidato di Colorado, yang menekankan perlunya AS mendominasi domain luar angkasa untuk menghadapi ancaman masa depan .
“Golden Dome untuk Amerika, sebuah inisiatif revolusioner berupa senjata dan sensor berbasis antariksa, konstelasi terfokus dari sensor dan satelit generasi berikutnya yang akan melihat setiap ancaman dari setiap sudut dunia,” ujar Hegseth .
Proyek Golden Dome pertama kali diluncurkan oleh Presiden Donald Trump pada Mei 2025 . Inisiatif ini digambarkan sebagai sistem pertahanan berlapis yang akan mengintegrasikan platform darat, laut, dan yang terpenting, ruang angkasa untuk melindungi wilayah AS dari serangan rudal balistik, rudal hipersonik, hingga rudal jelajah .
Konsepnya terinspirasi dari “Iron Dome” milik Israel, namun dengan skala dan kompleksitas yang jauh lebih besar. Golden Dome tidak hanya mengandalkan sensor darat, tetapi juga konstelasi satelit di orbit yang dilengkapi dengan sensor generasi berikutnya dan bahkan interceptor (peluru kendali pencegat) yang ditempatkan di luar angkasa . Rudal pencegat berbasis antariksa ini dirancang untuk menghancurkan rudal musuh pada fase awal peluncurannya (boost phase), sebelum rudal tersebut melepaskan hulu ledak atau umpan .
Uji coba besar pertama sistem ini dilaporkan dijadwalkan pada akhir tahun 2028, bertepatan dengan akhir masa jabatan Presiden Trump . Jenderal Michael Guetlein dari Angkatan Antariksa AS ditunjuk untuk memimpin inisiatif ini .
Perbedaan Estimasi Biaya yang Mencolok
Salah satu aspek paling kontroversial dari proyek ini adalah biayanya yang sangat besar. Presiden Trump secara optimis memperkirakan proyek ini akan menelan biaya sekitar 175 miliar dolar AS (sekitar Rp2,94 kuadriliun) .
Namun, sejumlah lembaga dan ahli memberikan angka yang jauh lebih tinggi:
-
Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan biaya mencapai 542 miliar dolar AS .
-
Bloomberg melaporkan bahwa menurut penilaian para ahli, biaya Golden Dome bisa mencapai 1,1 triliun dolar AS (sekitar Rp18,5 kuadriliun). Angka fantastis ini muncul karena kompleksitas teknis dan jumlah aset yang harus ditempatkan di orbit .
-
Todd Harrison dari American Enterprise Institute bahkan memperkirakan biaya dapat mencapai 1 triliun dolar AS hingga 3,6 triliun dolar AS untuk sistem yang sepenuhnya mumpuni .
Sebagai perbandingan, sebuah studi menunjukkan bahwa untuk menjamin keberhasilan mencegat satu rudal balistik antarbenua (ICBM), diperlukan sekitar 950 interceptor di orbit. Jika musuh meluncurkan 10 ICBM, maka AS membutuhkan hampir 10.000 interceptor .
Meski ambisius, proyek ini menghadapi tantangan besar. Hampir setahun setelah diluncurkan, program ini dinilai masih “bogged down” oleh perdebatan teknis internal dan belum banyak menghabiskan dana sebesar 25 miliar dolar AS yang telah dialokasikan . Para pejabat Pentagon masih memperdebatkan arsitektur fundamental dari komponen berbasis luar angkasanya .
Di sisi lain, raksasa industri dirgantara dan pertahanan AS berlomba-lomba untuk terlibat. Konsorsium yang dipimpin oleh SpaceX milik Elon Musk, bersama dengan Palantir dan Anduril, muncul sebagai kandidat terdepan untuk membangun bagian penting dari sistem ini . Rencana mereka melibatkan pembuatan dan peluncuran 400 hingga lebih dari 1.000 satelit untuk deteksi, serta 200 satelit tempur yang dipersenjatai dengan rudal atau laser . Lockheed Martin juga mengumumkan rencana untuk melakukan demonstrasi interceptor berbasis ruang angkasa pada tahun 2028 .
Proyek ini juga memicu kontroversi diplomatik. Trump mengaitkan kebutuhan akan sistem ini dengan keinginannya untuk menguasai Greenland, yang menurutnya “vital” untuk penempatan Golden Dome karena posisi geografisnya yang strategis di jalur terbang rudal dari kutub utara menuju AS . Meskipun para ahli menyatakan perjanjian pertahanan yang ada sebenarnya sudah memungkinkan AS untuk memperluas operasi militernya di Greenland, Trump sempat mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mengambil alih wilayah Denmark tersebut sebelum akhirnya mengumumkan adanya kesepakatan yang sedang dirundingkan .
Dengan tenggat waktu yang ketat dan teknologi yang belum teruji dalam skala masif, Golden Dome tetap menjadi salah satu proyek pertahanan paling ambisius dan kontroversial dalam sejarah AS.
(ER*)
