Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (25/2/2026) pagi. Berdasarkan data pasar spot, rupiah terkoreksi 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp16.848 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.829 per dolar AS .
Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada pagi hari, sementara mata uang regional lainnya seperti dolar Taiwan, peso Filipina, dan yen Jepang justru berada di zona hijau .
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh sikap hati-hati pelaku pasar global yang menanti pidato kenegaraan atau State of the Union (SOTU) Presiden AS Donald Trump, yang akan disampaikan Selasa malam waktu AS atau Rabu pagi WIB .
“Para pelaku pasar memantau dengan cermat potensi perkembangan kebijakan perdagangan AS dan tindakan lebih lanjut di Timur Tengah,” ujar Josua kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato SOTU pertamanya sejak kembali menjabat. Pidato ini menjadi sangat penting karena disampaikan di tengah penurunan approval rating presiden. Jajak pendapat terbaru menunjukkan hanya 32 persen warga Amerika yang merasa Trump memiliki prioritas yang tepat .
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS dengan Iran juga menjadi perhatian. Trump sebelumnya mengancam akan memberlakukan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang masih membeli minyak dari Iran, yang dapat berdampak pada stabilitas pasar energi dan mata uang global .
“Kehati-hatian yang meningkat mendukung permintaan terhadap dolar AS, yang menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, termasuk rupiah,” ungkap Josua.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi di saat indeks dolar AS justru terpeleset tipis 0,03 persen ke level 97,81. Hal ini mengindikasikan bahwa investor lebih memilih untuk wait and see dan menahan diri dari mengambil posisi besar di aset berisiko negara berkembang .
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa selain pidato Trump, pasar juga mengantisipasi putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Ketidakpastian dari negosiasi ini ikut membayangi pergerakan rupiah .
Josua Pardede memproyeksikan rupiah akan diperdagangkan dalam kisaran yang cukup lebar, yakni Rp16.775 – Rp16.900 per dolar AS sepanjang hari ini. Level support dan resistance ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang masih tinggi.
Bank Indonesia diprediksi akan terus melakukan intervensi di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak bergerak terlalu volatil
(*)
