Brussels, KomentarNews – Uni Eropa mendesak negara-negara anggotanya untuk mulai mengisi kembali penyimpanan gas lebih awal dari jadwal sebagai respons atas lonjakan risiko energi akibat perang yang melibatkan Iran. Langkah ini diambil setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu pengiriman LNG Qatar dan meningkatkan volatilitas harga energi global.
Berdasarkan surat yang dikirimkan Komisioner Energi UE Dan Jørgensen, Komisi Eropa meminta negara anggota untuk mulai menginjeksikan gas ke fasilitas penyimpanan lebih cepat dari biasanya guna menghindari kepanikan menjelang musim dingin.
“Kita tidak bisa menunggu hingga akhir musim panas. Risiko gangguan pasokan sudah nyata. Negara-negara anggota harus mulai mengisi penyimpanan gas sekarang untuk memastikan keamanan energi kita,” demikian bunyi surat Komisioner Energi UE Dan Jørgensen yang dikutip oleh Reuters, Kamis (26/3/2026).
Uni Eropa juga menganjurkan agar target pengisian gas yang secara hukum ditetapkan sebesar 90 persen sebelum musim dingin dapat diturunkan menjadi sekitar 80 persen dalam kondisi sulit. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberi fleksibilitas bagi negara anggota dan mengurangi tekanan permintaan di pasar energi.
Target pengisian gas (gas storage target) sebenarnya telah diatur dalam regulasi UE untuk memastikan cadangan yang cukup menghadapi musim dingin. Namun, dengan situasi geopolitik yang memburuk, Komisi Eropa menilai fleksibilitas diperlukan untuk mencegah kepanikan pasar dan lonjakan harga yang tidak terkendali.
Langkah darurat ini diambil setelah perang AS-Israel dengan Iran dan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk mengganggu pengiriman LNG Qatar, yang merupakan salah satu pemasok gas utama bagi Eropa.
Konflik yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu telah memicu eskalasi di kawasan Teluk, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi LNG dan minyak dunia.
Uni Eropa sebelumnya telah berhasil mengurangi ketergantungan pada gas Rusia setelah invasi Ukraina, namun kini menghadapi tantangan baru dengan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Beberapa negara anggota yang masih bergantung pada LNG impor kini diminta untuk segera mengamankan pasokan alternatif.
“Keamanan energi adalah prioritas utama. Kami meminta semua negara anggota untuk mengambil langkah preventif sekarang, bukan menunggu hingga krisis benar-benar terjadi,” tegas Jørgensen dalam pernyataannya.
(*Reuters/ *Euronews/ *Politico)
