Washington/Teheran, KomentarNews – Amerika Serikat dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan, menghentikan perang yang telah berlangsung enam pekan. Konflik ini telah menewaskan sedikitnya 7.200 orang, melukai lebih dari 22.000 orang, serta menyebabkan gangguan pasokan energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan badan-badan kemanusiaan di lapangan.
Gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4/2026) malam, dua jam sebelum batas waktu yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuka blokade Selat Hormuz atau menghadapi ancaman penghancuran “seluruh peradaban” Iran. “Kami telah mencapai kesepakatan. Ini adalah gencatan senjata yang akan menghentikan pertumpahan darah,” kata Trump dalam pidato kenegaraan dari Gedung Putih, Selasa malam.
Pakistan: Pertemuan Perdana di Islamabad Jumat Ini
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa delegasi Iran dan AS telah diundang untuk bertemu di Islamabad pada Jumat (10/4/2026) untuk pembicaraan damai resmi pertama sejak perang dimulai pada 28 Februari. “Kami mengundang kedua belah pihak untuk duduk bersama. Ini adalah langkah pertama menuju perdamaian yang langgeng di kawasan,” ujar Sharif dalam konferensi pers di Islamabad, Rabu (8/4).
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikonfirmasi akan hadir, sementara Wakil Presiden AS JD Vance disebut sebagai calon ketua delegasi Amerika. “Presiden Trump telah memberi arahan kepada tim kami untuk bernegosiasi dengan itikad baik. Kami akan hadir di Islamabad,” kata Vance kepada wartawan di Washington, Rabu.
Iran: Kami Hentikan Serangan jika AS Berhenti
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran akan menghentikan serangan balasan dan memberikan jalur aman melalui Selat Hormuz jika serangan terhadap Iran dihentikan. “Kami telah menyampaikan kepada mediator bahwa Iran tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut. Jika Amerika menghentikan agresi, kami akan menghentikan serangan balasan dan menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz,” ujar Araqchi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Rabu.
Dampak Langsung: Harga Minyak Turun, Pasar Saham Melonjak
Berita gencatan senjata menyebabkan harga minyak mentah Brent turun 12 persen menjadi 86 dolar AS per barel, sementara indeks S&P 500 melonjak 3,2 persen dalam perdagangan Rabu, menurut data Bloomberg. “Ini adalah kelegaan yang luar biasa bagi pasar global. Biaya energi yang tinggi telah membebani konsumen dan industri di seluruh dunia,” kata Daniel Yergin, wakil ketua S&P Global, kepada Reuters.
Maersk: Butuh Jaminan Keamanan Lebih Lanjut
Perusahaan pelayaran raksasa Denmark, Maersk, menyatakan bahwa mereka membutuhkan jaminan keamanan lebih lanjut sebelum kapal-kapal mereka kembali melintasi Selat Hormuz. “Setiap keputusan untuk transit melalui Selat Hormuz akan didasarkan pada penilaian risiko berkelanjutan, pemantauan ketat terhadap situasi keamanan, dan panduan yang tersedia dari otoritas terkait dan mitra,” demikian pernyataan resmi Maersk, Rabu.
Israel: Kami Mendukung Gencatan Senjata, tapi Operasi di Lebanon Lanjut
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel mendukung keputusan untuk menghentikan serangan ke Iran selama dua pekan. Namun, gencatan senjata ini tidak menghentikan kampanye Israel di Lebanon selatan, yang diluncurkan pada Maret untuk memburu milisi Hizbullah yang didukung Iran.
“Israel terus beroperasi di Lebanon untuk melindungi warga negaranya. Tidak ada hubungan antara gencatan senjata di Iran dan operasi kami melawan Hizbullah,” kata juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Avichay Adraee, dalam konferensi pers di Tel Aviv, Rabu.
Badan Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangan udara Israel di kota pelabuhan Tirus pada Rabu pagi, menewaskan sedikitnya 7 warga sipil dan melukai 23 lainnya. Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi darurat bagi warga Tirus sebelum serangan.
PBB: Gencatan Senjata adalah Langkah Awal, tapi Masih Banyak Pekerjaan
Utusan Khusus PBB untuk Timur Tengah, Tor Wennesland, menyambut baik gencatan senjata tetapi memperingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. “Ini adalah langkah awal yang krusial. Namun, kami sangat prihatin dengan terus berlanjutnya kekerasan di Lebanon. Semua pihak harus melindungi warga sipil sesuai dengan hukum internasional,” ujar Wennesland dalam pernyataan dari New York.
Tuntutan Utama Belum Terselesaikan
Meskipun gencatan senjata tercapai, tuntutan utama kedua belah pihak masih belum terselesaikan. AS menyampaikan tuntutannya dalam rencana 15 poin yang mencakup penghentian program nuklir Iran dan rudal balistiknya. Iran merespons dengan rencana 10 poin yang mencakup pencabutan semua sanksi, kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan hak Iran atas Selat Hormuz.
Trump menyebut proposal Iran sebagai “dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi” dalam unggahan di Truth Social, Selasa malam. Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa AS pada prinsipnya telah menerima ketentuan Iran.
Respons Negara Teluk: Lega, tetapi Waspada
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, menyatakan dukungannya terhadap gencatan senjata. “Kami menyambut baik setiap upaya yang mengakhiri kekerasan dan menstabilkan kawasan. Namun, kami menekankan perlunya solusi jangka panjang yang mencegah agresi di masa depan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi, Rabu.
Uni Emirat Arab juga menyatakan “keprihatinan mendalam” atas dampak perang terhadap stabilitas kawasan dan mendesak semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata.
(*Reuters/ *WHO/ *Bloomberg/ *PBB)

