Tuesday, May 26, 2026

HISTORIS! Paus Leo XIV Minta Maaf untuk Pertama Kalinya atas Peran Vatikan dalam Perbudakan: “Saya Memohon Pengampunan”

Vatikan, KomentarNews – Sebuah tonggak sejarah baru terukir di Vatikan pada Senin (25/5/2026). Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik dunia sekaligus Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, secara resmi mengeluarkan permintaan maaf publik pertama kalinya atas peran langsung Takhta Suci dalam melegitimasi perdagangan budak transatlantik selama era kolonial .

Permintaan maaf yang belum pernah terjadi sebelumnya ini disampaikan Paus Leo dalam ensiklik (surat kepausan) pertamanya yang berjudul “Magnifica Humanitas” (Kemanusiaan yang Agung) .

Dalam dokumen setebal hampir 43.000 kata itu, Paus Leo tidak hanya berbicara tentang bahaya Kecerdasan Buatan (AI), tetapi juga berani membuka lembaran kelam sejarah Gereja yang selama berabad-abad diabaikan.

Ini adalah momen yang sangat krusial. Para Paus sebelumnya memang pernah meminta maaf atas keterlibatan umat Kristen dalam perdagangan budak. Namun, belum pernah seorang Paus secara gamblang mengakui dan meminta maaf atas peran para pendahulunya di masa lalu yang secara resmi mengizinkan monarki Eropa untuk memperbudak penduduk asli Afrika dan Amerika .

“Mustahil untuk tidak merasa sangat sedih ketika merenungkan penderitaan dan penghinaan yang luar biasa yang dialami oleh begitu banyak orang, yang sangat kontras dengan martabat mereka yang tak terukur sebagai pribadi yang sangat dicintai oleh Tuhan,” tulis Paus Leo dalam ensikliknya.

“Untuk ini, atas nama Gereja, saya dengan tulus memohon pengampunan,” tulisnya seperti dikutip Reuters .

Paus Leo secara eksplisit menyebut serangkaian dekrit kepausan abad ke-15, terutama Bulla Dum Diversas (1452) dan Romanus Pontifex (1455) , yang dikeluarkan oleh Paus Nicholas V. Dokumen-dokumen ini memberikan hak kepada Kerajaan Portugis untuk “menyerang, menaklukkan, dan menundukkan kaum pagan, musuh-musuh Kristus… dan untuk mereduksi mereka ke dalam perbudakan abadi” .

Dekrit inilah yang kemudian dikenal sebagai Doctrine of Discovery (Doktrin Penemuan), yang menjadi dasar hukum bagi bangsa Eropa untuk menjajah dan menguasai wilayah “tak bertuan” selama berabad-abad . Para sejarawan menilai ini adalah fondasi dari kolonialisme global.

Dalam permintaan maafnya, Paus Leo mengakui bahwa meskipun Gereja telah lama menjunjung tinggi martabat manusia, butuh waktu yang sangat lama untuk secara resmi mengecam perbudakan.

“Ia butuh 18 abad untuk secara eksplisit mengakui ketidakcocokan sepenuhnya antara martabat manusia dengan perbudakan,” tulis Paus Leo.

“Ini merupakan luka dalam ingatan Kristen, sebuah luka yang tidak bisa kita abaikan,” tegasnya, mengakui kelambatan Gereja dalam menanggapi momok kemanusiaan ini .

Seorang profesor pemikiran sosial Katolik dari Universitas Durham, Inggris, Anna Rowlands, yang ikut berpartisipasi dalam presentasi ensiklik tersebut, menyoroti pergeseran bahasa yang signifikan dalam dokumen ini.

“Ini adalah teks yang menurut saya Paus Leo coba katakan bahwa ini adalah pertanyaan gerejawi, ini adalah pertanyaan untuk seluruh Gereja, bukan hanya untuk individu Kristen tertentu yang terlibat pada masa lalu,” ujar Anna Rowlands di Vatikan, Senin (25/5/2026) .

Permintaan maaf ini terasa sangat personal mengingat latar belakang Paus Leo XIV. Penelitian silsilah oleh sejarawan Henry Louis Gates Jr. mengungkapkan bahwa keluarga Paus Leo memiliki keturunan yang kompleks, di mana terdapat baik budak maupun pemilik budak dalam garis keturunannya di Amerika . Hal ini membuat pengakuannya terasa lebih mendalam dan otentik di mata publik global.

Selain meminta maaf atas kesalahan masa lalu, ensiklik ini berfokus pada masa depan, yaitu bahaya AI.

1. “Perbudakan Gaya Baru” di Era Digital

Paus Leo memperingatkan bahwa era digital telah melahirkan “bentuk-bentuk baru perbudakan” yang perlu diwaspadai. Ia mengkritik rantai pasok industri teknologi yang mengeksploitasi tenaga kerja.

“Tubuh orang-orang ini penuh luka, disakiti, dan dikuras habis agar aliran data dapat terus berlanjut tanpa henti,” ungkap Paus Leo, merujuk pada para pekerja tambang mineral langka untuk chip AI hingga moderator konten yang dipaksa menonton materi kekerasan berjam-jam .

2. AI Harus “Dilucuti” dari Logika Perang

Paus Leo juga secara tegas meminta AI untuk “dilucuti” dari logika kekuasaan dan kematian. Ia khawatir AI membuat perang menjadi “terlalu mudah terjadi”.

“Kecerdasan Buatan kini perlu dilucuti, dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, pengucilan, dan kematian,” tegasnya saat mempresentasikan dokumen tersebut di hadapan para pakar teknologi, termasuk salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, Chris Olah.

(okezone/jawapos/detik/ncronline***)

Komentar :

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisementspot_img

Advertisement

DiJual : Rumah di mountain view residen blok c1 no 9 paniki bawah kota manado - Asri, lokasi strategis dekat bandara, dekat pusat bisnis -Nego langsung dengan pemilik - tanpa perantara - SHM - Luas bangunan 125m2, luas tanah 330 m2, 4 kamar, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, air perumahan, listrik 5500 watt, carport, security 24/7 - yang berminat bisa menghubungi: wa: 0811439028 atau email: advertisement@komentar-news.com

More like this

BREAKING: Eropa “Membara”, Inggris Cetak Rekor 34,8 Derajat Celsius!...

London, KomentarNews - Sebuah gelombang panas ekstrem yang langka menghantam Eropa Barat pada akhir Mei 2026, memicu rekor...

BREAKING: Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Kyiv, Rusia Luncurkan 690...

Kyiv, KomentarNews – Langit ibu kota Ukraina berubah menjadi neraka pada dini hari Minggu (24/5/2026). Rusia melancarkan serangan...

BREAKING: MK Putuskan Jakarta Tetap Ibu Kota Sampai IKN...

Jakarta, KomentarNews - Mahkamah Konstitusi (MK) baru saja mengeluarkan putusan penting terkait status Ibu Kota Negara Republik Indonesia....

More

Recomended