Washington DC, KomentarNews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tegas menolak tawaran negosiasi dari Iran di tengah gempuran operasi militer yang terus berlanjut. Dalam unggahan di platform Truth Social, Selasa (3/3/2026), Trump menyatakan bahwa kesempatan untuk berunding telah berlalu seiring hancurnya kekuatan militer dan kepemimpinan Iran.
“Pertahanan udara mereka, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Kepemimpinan mereka telah musnah. Mereka ingin bicara. Saya katakan, ‘Terlambat!'” tulis Trump dalam akun resminya .
Pernyataan tegas ini muncul hanya dua hari setelah Trump mengindikasikan kesediaannya untuk berdialog dengan para pemimpin Iran. Pada akhir pekan lalu, Trump mengaku telah menyetujui untuk terlibat dalam pembicaraan pasca dimulainya serangan AS dan Israel.
“Mereka ingin bicara, dan saya setuju untuk bicara, jadi saya akan bicara dengan mereka,” kata Trump pada Minggu (1/3/2026). “Mereka seharusnya melakukannya lebih cepat,” sambungnya kala itu .
Namun, sikap Trump berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Pernyataan terbarunya menegaskan bahwa pintu diplomasi kini tertutup rapat.
Sebelum operasi militer dimulai, Amerika Serikat dan Iran telah menggelar tiga putaran perundingan. Putaran terakhir berlangsung di Jenewa, Swiss, pekan lalu, hanya beberapa hari sebelum serangan besar-besaran dilancarkan .
Ketegangan mencapai puncaknya setelah AS dan Israel melancarkan operasi militer gabungan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah petinggi militer Garda Revolusi. Serangan tersebut juga melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran dan menghancurkan ratusan target strategis .
Di tengah gempuran militer, Iran mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas dunia. Iran memperingatkan akan menembak kapal manapun yang mencoba melintas, memicu kekhawatiran krisis energi global .
Kebijakan ini berdampak luas, termasuk pada nilai tukar rupiah yang melemah 4 poin ke posisi Rp16.872 per dolar AS akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi .
Dengan pernyataan terbaru Trump, peluang gencatan senjata melalui jalur diplomatik semakin tipis, menandakan konflik di Timur Tengah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
(CN-E/*)
