Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (3/3/2026), ditutup melemah tipis 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp16.872 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp16.868 per dolar AS .
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yakni meluasnya konflik di Timur Tengah pasca serangan militer AS dan Israel ke Iran.
“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa .
Konflik yang mulanya terpusat di Iran kini melebar ke negara-negara tetangga. Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Lebanon, sementara Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di sejumlah negara Teluk. Ketegangan mencapai puncaknya ketika otoritas Iran secara resmi menutup Selat Hormuz, jalur air strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen minyak dan gas dunia .
“Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim .
Situasi ini diperparah dengan kabar bahwa kapal tanker dan kapal kontainer mulai menghindari jalur tersebut. Perusahaan asuransi dilaporkan telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal yang melintas, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak tajam .
Kekhawatiran meningkat setelah seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa Iran akan menembak kapal manapun yang mencoba melewati Selat Hormuz .
Di tengah tekanan eksternal yang mencekik, data ekonomi domestik justru menunjukkan kinerja gemilang. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
“Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi nonmigas sebesar 3,22 miliar dolar AS,” ujar Ibrahim .
Namun, data positif tersebut belum mampu membendung kekhawatiran global yang dipicu konflik Timur Tengah. Akibatnya, rupiah tetap tertekan meski secara fundamental ekonomi domestik solid.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.870 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.848 per dolar AS, mengonfirmasi tren pelemahan nilai tukar rupiah .
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas rupiah diprediksi masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
(ant-*)
