Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa pagi (31/3/2026) dibuka menguat 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.987 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan tipis rupiah ini dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah muncul kabar positif mengenai negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
“Sentimen risk-off mulai berkurang setelah mediator Pakistan menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pembicaraan damai AS-Iran. Pasar merespons positif perkembangan ini, sehingga mata uang negara berkembang termasuk rupiah ikut menguat,” ujar Lukman saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan bahwa harga minyak dunia yang mulai stabil juga turut mendukung penguatan rupiah. “Harga minyak mentah dunia yang sempat melonjak ke atas 100 dolar AS per barel kini mulai terkonsolidasi di kisaran 95-98 dolar AS, sehingga mengurangi tekanan pada defisit perdagangan dan neraca fiskal Indonesia,” jelasnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat menguat ke level Rp16.978 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.002 per dolar AS.
Lukman memperkirakan rupiah masih berpeluang bergerak mixed (beragam) sepanjang hari ini dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS, tergantung pada perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha menyampaikan bahwa fundamental ekonomi domestik yang solid turut menjadi penahan bagi rupiah di tengah ketidakpastian global.
“Dari dalam negeri, data inflasi Maret yang diperkirakan tetap terkendali serta cadangan devisa yang masih memadai menjadi faktor pendukung stabilitas rupiah,” ujar Rudi.
(*ANT/ *Bloomberg)
