Manado, KomentarNews– Emily Padgett, seorang ibu dua anak berusia 49 tahun di Atlanta, Amerika Serikat, menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan estrogen patch. Ia bolak-balik ke apotek, memindahkan resep, dan berganti merek hingga tiga kali. Bahkan, selama beberapa minggu di bulan Januari lalu, ia terpaksa tidak mendapatkan pengobatan sama sekali .
“Saya pasti merasakan beberapa gejala yang muncul kembali setelah saya berhenti menggunakan patch untuk sementara waktu, dan itu masih belum sepenuhnya hilang,” kata Padgett, yang sedang dalam masa perimenopause .
Kisah Padgett bukanlah pengalaman yang langka. Saat ini, puluhan juta wanita di Amerika Serikat yang bergantung pada estrogen patch untuk meredakan gejala menopause seperti keringat malam, hot flashes, dan kelelahan, menghadapi krisis kelangkaan pasokan yang semakin parah .
Apa Itu Estrogen Patch?
Estrogen patch adalah sebuah tempelan kecil yang ditempelkan di kulit dan secara konsisten mengalirkan hormon estrogen ke dalam tubuh. Hormon ini secara alami menurun seiring bertambahnya usia, dan ketika kadarnya turun drastis selama menopause, berbagai gejala dapat muncul. Manfaat dari terapi hormon ini sangat besar, di antaranya menjaga kesehatan jantung, tulang, dan kesehatan secara keseluruhan .
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, terapi estrogen sistemik merupakan “pengobatan terbaik” untuk hot flashes dan keringat malam .
Mengapa Kelangkaan Terjadi?
Para produsen menunjuk pada peningkatan permintaan yang drastis. Hal ini didorong oleh dua faktor utama:
-
Kesadaran yang Meningkat: Semakin banyak wanita dan dokter yang sadar akan manfaat terapi hormon, sehingga angka resep meroket. Dr. Timberly Butler, seorang ob/gyn di Georgia, menyebut peningkatan pasien yang mencari terapi hormon mencapai “setidaknya 50 persen” dalam beberapa waktu terakhir .
-
Keputusan FDA: Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) secara resmi menyetujui perubahan label produk terapi hormon menopause pada bulan ini, termasuk menghapus peringatan “black box” yang selama ini menyoroti risiko penyakit kardiovaskular, kanker payudara, dan demensia. Perubahan ini mencerminkan penelitian terbaru yang memberikan gambaran lebih berimbang tentang risiko dan manfaatnya bagi banyak wanita, sekaligus membuka pintu bagi lebih banyak resep baru .
Sayangnya, lonjakan permintaan ini tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai.
“Saya pikir, permintaan ini hanya akan terus meningkat,” kata Dr. Kathleen Jordan, Chief Medical Officer di Midi Health, sebuah perusahaan telehealth yang fokus pada kesehatan wanita. Perusahaannya telah mengalami kelangkaan secara intermiten sejak tahun 2022, dan kelangkaan saat ini dinilai lebih parah dari sebelumnya .
Produsen Kewalahan, Apotek Kehabisan Stok
Beberapa produsen utama, seperti Sandoz dan Amneal, saat ini mengalami kekurangan pasokan, menurut data terbaru dari American Society of Health-System Pharmacists .
Juru bicara CVS, Amy Thibault, mengakui bahwa “produsen tidak dapat menyediakan pasokan terapi hormon yang cukup selama beberapa minggu terakhir.” Pihaknya berusaha mencari alternatif, namun hal ini tidak selalu mudah .
Andy Boyer dari Amneal menjelaskan bahwa sistem transdermal ini adalah bentuk sediaan yang kompleks dan memerlukan manufaktur khusus dengan kapasitas industri yang terbatas .
Sandoz dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka “sangat serius” menangani kelangkaan ini dan telah mengirimkan produk tambahan ke AS untuk memenuhi lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya .
Dampak Nyata: Gejala Kembali, Stres Bertambah
Ketika pasokan terhambat, dampaknya langsung terasa. Padgett mengaku gejala iritabilitas, insomnia, dan brain fog-nya kembali muncul saat ia kehabisan stok. Ia yakin gejalanya diperparah oleh stres akibat kelangkaan ini .
“Saya pasti stres karena tidak mendapatkannya, dan gejala utama saya adalah mudah marah dan terbangun di tengah malam karena stres dan tidak bisa tidur,” katanya. “Saya rasa gejala saya masih belum sepenuhnya hilang.”
Mencari Solusi: Ganti Merek, Ganti Dosis, atau Beralih ke Pil
Para dokter kini berupaya keras membantu pasien. Dr. Butler mengatakan ia dapat mencoba mengganti pasien ke produk lain jika stok habis. Namun, pergantian merek seringkali membawa konsekuensi biaya yang lebih tinggi jika merek baru tidak masuk dalam daftar formularium asuransi pasien. Petunjuk pemakaian pun bisa berbeda, misalnya dari yang biasanya diganti seminggu sekali menjadi dua kali seminggu .
Alternatif lain termasuk gel estrogen, semprotan, atau pil estrogen oral. Namun, pil oral tidak cocok untuk semua orang karena memiliki risiko penggumpalan darah dan stroke yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan patch transdermal, karena harus dimetabolisme di hati .
“Saya pikir jika kita terus melakukan pekerjaan kita dengan baik, kita akan melihat permintaan terus meningkat. Jadi, kita perlu industri farmasi dan manufaktur merespons dengan peningkatan pasokan,” tegas Dr. Jordan .
Harapan di Tengah Keterbatasan
Di tengah krisis, beberapa apotek independen kecil menjadi penyelamat. Padgett akhirnya bisa mendapatkan estrogen patch dari apotek di lingkungannya, meskipun dengan merek yang berbeda dari biasanya. Namun, setiap kali ia hendak mengisi ulang resep, kekhawatiran akan tulisan “Stok Habis” tetap menghantuinya .
Para produsen berjanji akan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi jangka panjang. Sandoz berkomitmen untuk memastikan pasokan yang memadai bagi pasien di seluruh dunia, sementara Viatris dan Noven mengklaim masih dapat memenuhi pesanan saat ini sambil mempersiapkan diri untuk lonjakan permintaan di masa depan .
Kelangkaan estrogen patch ini menjadi alarm keras bahwa kesadaran tanpa diikuti kesiapan pasokan hanya akan menciptakan krisis baru, dan para wanita lah yang harus menanggung beban terberat.
(*)
