Washington D.C. KomentarNews – Para diplomat Amerika Serikat yang bertugas di Arab Saudi telah diminta untuk meninggalkan negara tersebut dalam sebuah perintah evakuasi wajib, menurut laporan New York Times, Sabtu (7/3/2026). Langkah ini menjadi sinyal paling jelas bahwa Departemen Luar Negeri AS menilai risiko keamanan di kawasan Timur Tengah telah mencapai level kritis .
Mengutip sejumlah sumber, laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak serangan AS-Israel dilancarkan terhadap Iran pada 28 Februari, departemen itu untuk pertama kalinya memerintahkan diplomatnya dalam status “mandatory departure” atau wajib meninggalkan Arab Saudi. Ini adalah level evakuasi tertinggi yang menandakan ancaman langsung terhadap personel diplomatik .
Perintah evakuasi ini tidak hanya berlaku bagi pegawai pemerintah AS di ibu kota Riyadh, tetapi juga mencakup konsulat AS di Jeddah dan Dhahran, dua kota strategis di Arab Saudi. Langkah ini diambil setelah serangkaian insiden keamanan yang menargetkan fasilitas AS di kawasan tersebut .
Sebelumnya pada Selasa (3/3), Departemen Luar Negeri AS telah mengizinkan “non-emergency government employees and family members” untuk meninggalkan Arab Saudi karena risiko keselamatan . Keputusan untuk meningkatkan status menjadi “wajib meninggalkan” menunjukkan situasi yang semakin memburuk dalam hitungan hari .
Keputusan evakuasi ini dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap kepentingan AS di kawasan. Pada Selasa (3/3), serangan drone menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, menyebabkan kebakaran kecil dan kerusakan minor pada gedung, yang kemudian memaksa penutupan sementara misi diplomatik tersebut .
Insiden serupa juga terjadi di negara-negara Teluk lainnya. Sebuah drone menyerang Bandara Internasional Kuwait pada hari yang sama, melukai beberapa pekerja . Di Siprus, sebuah drone buatan Iran jatuh di pangkalan udara Inggris pada akhir pekan sebelumnya .
Militer AS pada Sabtu (7/3) juga mengonfirmasi bahwa seorang personelnya yang terluka dalam serangan pekan lalu di Arab Saudi akhirnya meninggal dunia. Sumber menyebutkan bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh, termasuk kantor cabang CIA di dalamnya, menjadi sasaran serangan drone yang diduga dilakukan oleh pihak yang terkait dengan Iran .
Sebelum perintah evakuasi ini dikeluarkan, sejumlah diplomat AS dilaporkan mengkritik pemerintahan Trump karena dianggap menunda persiapan evakuasi warga Amerika dari Timur Tengah. Penundaan itu terjadi setelah berminggu-minggu pasukan AS dikerahkan ke wilayah tersebut dan pemerintah AS secara terbuka mengancam Iran dengan perang .
Situasi di lapangan diperparah dengan ditutupnya sejumlah bandara dan ruang udara di kawasan Teluk, yang menyulitkan upaya evakuasi warga sipil. Otoritas penerbangan sipil setempat mengambil langkah ini sebagai tindakan pencegahan di tengah meningkatnya serangan rudal dan drone .
Konflik meletus pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap sejumlah sasaran di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil . Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel dan fasilitas militer AS di sejumlah negara Timur Tengah .
Amerika Serikat sebelumnya telah memerintahkan evakuasi personel non-darurat dari Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Siprus . Dengan ditambahkannya Arab Saudi ke dalam daftar negara dengan status evakuasi wajib, hampir seluruh kawasan Teluk kini berada dalam status kewaspadaan maksimum.
(*New York Times/ *Bloomberg/ *Reuters/ *Anadolu)
