Manado, KomentarNews – Pendeta (Em) Aaltje George Liando STh, akan merayakan HUT ke-90. Rencananya ibadah syukur ini akan dipimpin Ketua BPMS GMIM, Pdt Dr Adolf Katuuk Wenas MTh, Jumat (13/03/2026) siang di salah satu resto terkemuka di Manado.
Ibadah ini juga dirangkai dengan syukur kenaikan pangkat seorang anaknya, Marsekal Pertama TNI Victor RCJ George, SIP, MPACS, MMA, MBA.

Di tengah sukacita ini, sosok teladan bernama lengkap Aaltje Sophie Lena Liando ini, membeber rahasia hidupnya hingga umur panjang. Apa saja itu?
Lahir di Desa Lompad, Kecamatan Motoling, Minahasa Selatan, pada 13 Maret 1936, Pdt Aaltje merupakan anak ke-4 dari tujuh bersaudara. Ayahnya Casper Liando, sosok guru dari Desa Malola. Ibunya Anie Anthonia Menajang.
Di tengah dinamika pelayanan gerejawi, nama Pendeta Altje George Liando, STh, dikenal sebagai sosok yang setia melayani, teduh, penuh kasih, namun memiliki ketegasan dalam prinsip. Ya integritas dijunjung setinggi-tingginya.
Peran multifaset termasuk pelayanan pastoral, pendidikan karakter, dan pembangunan gereja, dilakoninya sejalan.

Sebagai seorang pelayan firman, perjalanan hidup, perjuangan, pengorbanan dan dedikasinya telah memberikan nuansa tersendiri bagi jemaat yang dilayaninya, khususnya dalam lingkup Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).
Epik pelayanannya dimulai ketika tahun 1950 tamat di SR GMIM Poopo dan lanjut SMP Amurang. Tahun 1954 mengenyam pendidikan di SGB Kr Petang Kaaten Tomohon dan SGA Kr Kaaten Tomohon. Tahun 1958 berhasil menamatkan pendidikan di PGA Kaaten Tomohon. Panggilan melayani terus menyala. Api Injil dikobarkan. Usai Permesta, gadis cantik dan cerdas ini sekolah di Theologia GMIM di Tikala dan Kuranga Tomohon dan tamat tahun 1963.
Cita-citanya menjadi hamba Tuhan akhirnya menghentar kakinya ke GMIM Sion Tomohon. Di gereja tua itulah, tepat tanggal 23 Juni 1963, Aaltje Liando muda diteguhkan menjadi pendeta.
Setahun kemudian, mengikat janji setia dengan nyong Tondano, Drs Adri C George. Keduanya menikah di Koya Tondano, 26 September 1964. Dari rahimnya, Tuhan menghadirkan enam buah hati masing-masing Richardo George (Alm), Vivi George SKM, Riedel George SPi, Brigjen Victor George, Johannes George SPd dan Christien George SE.
Penempatan pertama di jemaat, Pdt Aaltje langsung dipercayakan sebagai Ketua Lingkaran Tataaran. Jabatan ini kini disebut sebagai Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah, tahun 1963-1968.
Selanjutnya bertugas di Kawangkoan Bawah Wilayah Amurang hingga tahun 1970. Karena mengikuti suami yang berprofesi sebagai guru, maka Pdt Aaltje selanjutnya pindah ke Tondano. Dari Tondano, kiprah ketua jemaat dilanjutkan ke GMIM Sion Teling, Wilayah Titiwungen (saat ini GMIM Sion Teling Sentrum, Wilayah Manado Teling Tingkulu), bulan Juni 1975 sampai Desember 1982. Dari Teling, etape pelayanan lanjut di Paal IV Wilayah Manado Timur 1 hingga tahun 1985. Lanjut lagi melayani di GMIM Bukit Moria Tikala Baru, tahun 1985 sampai 1992.
Jemaat Zaitun Karombasan, Wilayah Manado Selatan giliran merasakan sentuhan pelayanan Pdt Aaltje dari tahun 1992 sampai 1995. “15 Maret 1995, terima surat persiapan pensiun dari BPS GMIM,” kenangnya. Dan pada tanggal 16 September 1995, di kediaman keluarga di Jemaat GMIM Sion Teling, akhirnya Pdt Aaltje menerima SK pensiun sebagai pendeta dan menerima hak sebagai pendeta emerita. Ibadah syukur saat itu dipimpin Pdt AF Parengkuan di GMIM Sion Teling.

Memotret perjalanan hidupnya, maka terbingkai kuat kontribusi pelayanan Pdt Aaltje George Liando. Yakni, pengembangan jemaat, pemberdayaan organisasi gereja serta pelayanan pastoral dan pembinaan jemaat.
Karya pelayanan itu telah berlalu. Tetapi spiritnya terus tumbuh dan berbuah, menjadi berkat bagi anak cucunya, jemaat dan masyarakat. Mengamini bahwa semuanya hanya karena kemurahan Tuhan saja, Pdt Aaltje George Liando pun mengungkapkan rahasia hidupnya bahwa doa adalah nafas kehidupan.
Setiap waktu, senantiasalah berdoa dan berserah kepada Tuhan. Pegang teguh iman percaya kepada Kristus, sekalipun gunung itu tak berpindah (band Matius 17:20).
”Saya selalu berdoa,” ucapnya. “Doa untuk anak cucu semuanya rukun,” lirihnya memaknai pesan firman: Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.
“Boleh lia kesuksesan anak cucunya.. sambil terus mengingat kebaikan Tuhan dalam perjalan hidup yang penuh kenangan,” sambung Pdt Aaltje. Di doanya, anak-anaknya disebut. Di doanya, kesuksesan dialami anak cucunya hingga boleh terlontar ke puncak-puncak berkat Tuhan.(*)
