Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa pagi (5/5/2026) dibuka melemah tipis 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat pasca gagalnya negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran.
“Pasar masih cemas dengan eskalasi konflik di Selat Hormuz. Dolar AS kembali menguat sebagai aset safe haven, sementara rupiah dan mata uang emerging markets lainnya ikut tertekan,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat melemah ke level Rp17.388 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.378 per dolar AS.
Lukman menambahkan bahwa pasar juga masih mencermati sinyal dari bank sentral AS (The Fed) terkait arah suku bunga. “Data tenaga kerja AS yang masih solid memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga dolar AS tetap perkasa,” jelasnya.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.370 hingga Rp17.430 per dolar AS pada hari ini, tergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini.
Ekonom dari Bank Mandiri, Faisal Rachman, menilai bahwa meskipun rupiah melemah, fundamental ekonomi domestik masih cukup solid untuk menjadi bantalan. “Cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang terkendali menjadi faktor penahan rupiah di tengah tekanan eksternal yang cukup kuat,” ujar Faisal.
(*ANT/ Bloomberg)



