Jakarta, Komentarnews – Indonesia memasuki babak baru transformasi digital di mana teknologi 5G tidak lagi hanya sekadar peningkatan kecepatan internet, melainkan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Diproyeksikan mampu menyumbang hingga Rp710 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam lima tahun ke depan (2026-2030), 5G menjadi “mesin baru” yang menggabungkan kecepatan data tinggi dengan kecerdasan buatan (AI) untuk merevolusi berbagai sektor industri.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengungkapkan bahwa teknologi 5G berpotensi menyumbang sekitar 41 miliar dolar AS atau setara Rp710 triliun terhadap PDB Indonesia pada periode 2026 hingga 2030. Angka ini bukan sekadar proyeksi optimistis, melainkan kalkulasi berdasarkan percepatan adopsi digital dan inovasi yang akan lahir dari ekosistem 5G.
“5G akan menjadi fondasi digital yang krusial bagi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045, sekaligus infrastruktur strategis yang memungkinkan teknologi AI berkembang dalam skala besar,” ujar Nora dalam forum IndoTelko 2026 di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Salah satu perubahan paradigma utama adalah hubungan simbiosis antara 5G dan AI. Menurut para praktisi, konektivitas generasi keempat (4G) dinilai tidak lagi cukup untuk menopang beban kerja kecerdasan buatan yang membutuhkan latensi super rendah dan kecepatan upload data yang masif.
“4G dan WiFi tidak dapat diandalkan untuk mengembangkan kecerdasan artifisial. Untuk mendukung pengembangan industri AI di masa mendatang, konektivitas yang sebelumnya sudah tidak lagi cukup,” tegas Nora Wahby.
Survei Ericsson ConsumerLab bahkan menunjukkan bahwa lonjakan adopsi AI justru mendorong kebutuhan masyarakat akan jaringan yang lebih andal dan konsisten. Hal ini menempatkan 5G dalam dua peran strategis: mengakomodasi lonjakan volume data yang ekstrem dan menjadi infrastruktur kritikal nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak membiarkan Indonesia menjadi penonton dalam revolusi AI global. Pemerintah tengah mengkaji pita frekuensi baru untuk mempercepat penggelaran 5G, serta mendorong kolaborasi lintas sektor agar ekosistem digital dapat optimal.
-
UMKM dan Ekonomi Rakyat: 5G akan memungkinkan pelaku UMKM di daerah terpencil untuk terhubung langsung dengan pasar global melalui teknologi live streaming 4K, realitas virtual (VR), dan platform perdagangan digital yang lebih imersif, sehingga menghilangkan batasan geografis.
-
Pendidikan dan Kesehatan: Layanan telemedisin beresolusi tinggi dan kelas virtual interaktif menjadi mungkin dilakukan tanpa hambatan lag, menjangkau masyarakat di 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
-
Industri dan Pertanian: Penerapan Internet of Things (IoT) berbasis 5G memungkinkan pabrik cerdas (smart factory) dan pertanian presisi (precision agriculture) untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Meskipun potensinya besar, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang berat. Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal (Deng Ical) , menyoroti bahwa cakupan jaringan 5G di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 10 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai 80 persen.
“Internet adalah Jalan Tol Udara yang menghubungkan ide, inovasi, dan kreativitas masyarakat ke seluruh dunia. Infrastruktur digital adalah bagian dari investasi bangsa,” ujar Deng Ical menekankan pentingnya pemerataan akses internet sebagai kebutuhan dasar masyarakat modern.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan setidaknya 30 persen wilayah Indonesia sudah terjangkau 5G pada tahun 2030 . Untuk mencapai target tersebut, diperlukan insentif investasi, regulasi yang adaptif, serta inovasi seperti layanan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis 5G yang mampu menjangkau daerah tanpa perlu pemasangan kabel serat optik.
Sinergi antara kebijakan pemerintah yang pro-inovasi, investasi infrastruktur dari operator telekomunikasi, dan peningkatan literasi digital masyarakat adalah kunci utama. Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto, menegaskan bahwa transformasi digital merupakan pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Pemerintah berkomitmen menghadirkan kebijakan yang tidak hanya menjaga tata kelola, tetapi juga mendorong inovasi dan investasi,” pungkas Wayan.
Dengan percepatan yang tepat, 5G dan AI diyakini tidak hanya menjadi sektor industri baru, tetapi “tulang punggung” yang menggerakkan seluruh roda perekonomian nasional menuju kemandirian digital.
(Ericsson, Kemenkomdigi, DPR RI, ANTARA, Kompas.com, Bisnis.com, Media Indonesia, Katadata.co.id)



