Jakarta, KomentarNews – Film biografi legenda musik pop Michael Jackson yang berjudul “Michael” langsung menjadi sensasi di bioskop pada pekan pertama penayangannya. Film ini membukukan pendapatan fantastis sebesar 97 juta dolar AS (sekitar Rp1,57 triliun) di Amerika Utara dan 217 juta dolar AS (sekitar Rp3,52 triliun) secara global.
Menurut warta Variety pada Minggu (26/4/2026), capaian itu menjadikan “Michael” sebagai biopik dengan penjualan tiket bioskop awal terbaik sepanjang masa .
Perolehan “Michael” dengan perkasa melampaui rekor film “Straight Outta Compton” (2015) yang membukukan 60 juta dolar AS, serta “Bohemian Rhapsody” (2018) yang meraih 51 juta dolar AS pada pekan pertama. Keberhasilan ini semakin mengukuhkan daya tarik abadi “King of Pop” di mata publik global.
Menariknya, meskipun sebagian besar kritikus tidak memberikan ulasan baik di situs agregator Rotten Tomatoes, film ini justru mendapat sambutan hangat dari penonton biasa. Jajak pendapat CinemaScore mencatat nilai “A-“, sementara survei PostTrak menunjukkan bahwa 61 persen penonton adalah perempuan dan 66 persen berusia di atas 25 tahun.
Disutradarai oleh Antoine Fuqua, film ini mengisahkan perjalanan karier Michael Jackson sejak masa awal bersama Jackson 5 hingga menjadi ikon global. Sorotan utama jatuh pada Jaafar Jackson, keponakan Michael Jackson yang memerankan sang Raja Pop dalam debut aktingnya. Para kritikus menyebut penampilan Jaafar sangat hidup dan menjadi nyawa dari film ini.
Dengan biaya produksi sekitar 200 juta dolar AS (Rp3,24 triliun) , “Michael” menjadi salah satu biopik termahal yang pernah dibuat. Proyek ini didanai oleh Lionsgate, Universal Pictures (distributor internasional), serta pengelola warisan Michael Jackson.
Seorang analis industri, David A. Gross (Franchise Entertainment Research), menilai kesuksesan “Michael” sebagai penanda kebangkitan performa box office Lionsgate setelah mengalami sejumlah kegagalan pada 2024. Film ini menjadi film terlaris Lionsgate dalam waktu sekitar satu dekade, sejak “The Hunger Games: Mockingjay – Part 2” (2015).
Pengamat musik dari Universitas Indonesia, Dr. Remy Sylado, mengatakan bahwa kesuksesan film ini membuktikan bahwa warisan Michael Jackson melampaui kontroversi yang menyertainya. “Ini bukan hanya film, ini adalah perayaan tentang bagaimana musiknya menyatukan generasi. Jaafar berhasil menangkap ‘essence’ Michael,” ujarnya.
(Sumber: Variety, Reuters, Deadline, CinemaScore)


