SITARO, KOMENTAR NEWS Bukan rahasia lagi jika praktek penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (SITARO), khususnya di pulau Tagulandang, hingga kini masih sulit untuk diberantas.
Tak heran jika kemudian masyarakat kian mempertanyakan peran aparat penegak hukum yang kesannya sampai saat ini seperti macan ompong.
“Aneh, katanya ada tim khusus yang ditugaskan kawal proses penyaluran, termasuk melakukan pengawasan, lantas kenapa masalah ini tak kunjung selesai? Berarti masih belum tegas di lapangan, atau mungkin ada sesuatu?” sindir Aktivis Harto Narasiang, Selasa (1/9/2026).
Ia bahkan merasa aneh jika kemudian aparat seperti terus-terusan dikibuli oleh oknum-oknum di pangkalan sehingga ribuan liter BBM bersubsidi, mengalir bebas ke para penadah.
“Contohnya saja di Tagulandang, sudah jelas-jelas di video terlihat ada beberapa mobil yang mengangkut BBM bersubsidi dengan drum serta galon, masa polisi tidak bertindak? Belum lagi yang “kebiri” ukuran (Liter miring), terkesan seperti dibenarkan oleh aparat,” kecamnya.
“Ini ada apa?” sambungnya.
Menurut dia, Kapolres harusnya lebih jeli lagi melihat persoalan ini, jangan sampai ada anak buah di lapangan yang justru kucing-kucingan, dan sengaja tutup mata dengan persoalan ini.
“Saya pikir ini PR besar buat Pak Kapolres, jangan laporan dari bawah aman, sementara kenyataannya tidak begitu. Atau, jangan sampai ada anak buah nakal, sehingga getahnya kena ke pimpinan,” sindir Sekretaris DPD NasDem SITARO ini.
Sementara itu, Kapolres Kepulauan SITARO, AKBP Ronald A. Mauboy, S.E., S.I.K., M.I.K., dengan lantang menyatakan bahwa pihaknya akan bertindak tegas ketika ada temuan di lapangan.
“Perintah saya jelas untuk jajaran, bertindak tegas jika ada temuan di lapangan berdasarkan fakta serta laporan dari masyarakat,” tegas Mauboy.
“Kemarin kita sudah basmi sabung ayam di Siau, termasuk penyaluran BBM di Siau juga. Dan saya pastikan, di Tagulandang juga akan demikian,” sambungnya sembari menyebutkan tantangan lain ketika menjalankan tugas dan tanggungjawab di negeri 47 pulau.
“Saya masih baru di sini, belum lagi kondisi geografis daerah ini yang adalah kepulauan, sehingga mohon maaf jika kami belum langsung jangkau sekaligus setiap persoalan di masing-masing pulau. Tapi, saya pastikan kalau persoalan BBM ini sudah jadi atensi kami,” kuncinya sembari kembali me-warning pihak-pihak yang coba main-main dalam persoalan ini.
Sekadar diketahui, baru-baru ini dugaan penyelewengan BBM bersubsidi di APMS Tagulandang jelas-jelas terjadi di depan mata di mana ratusan bahkan ribuan liter yang harusnya jadi jatah masyarakat, justru diangkut oleh sejumlah oknum penadah yang kemudian sangat berpotensi akan dijual kembali dengan harga jauh di atas HET sebagaimana kerap terjadi selama ini.
Ironisnya lagi, aparat yang berjaga justru seperti tidak tahu. (gus)