Teheran, KomentarNews – Iran kembali menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk perundingan dengan Amerika Serikat. Juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa perundingan hanya akan terjadi jika hal itu merupakan kehendak Teheran dan jika Washington benar-benar menghapus niat untuk bertindak melawan rakyat Iran.
“Perundingan hanya akan terjadi jika itu adalah kehendak kami dan jika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihilangkan,” kata Zolfaghari, Rabu (25/3/2026), seperti dikutip kantor berita Tasnim.
“Hingga itu menjadi kehendak kami, tidak ada yang akan kembali normal. Ini hanya akan terjadi ketika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihapus dari pikiran kotor kalian,” ujarnya dengan nada tegas.
Dalam pernyataannya, Zolfaghari juga menegaskan bahwa sikap Iran terhadap negosiasi dengan AS tidak akan pernah berubah.
“Kata pertama dan terakhir kami — sejak hari pertama — adalah kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak seperti kalian. Tidak sekarang dan tidak akan pernah,” katanya.
Pernyataan keras Iran ini muncul di tengah beredarnya laporan dari The New York Times pada Selasa (24/3/2026) yang mengutip pejabat anonim, bahwa Washington telah menyampaikan rencana 15 poin kepada Teheran untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah di tengah meningkatnya dampak terhadap ekonomi AS.
Namun, Iran tampaknya menolak inisiatif tersebut dengan tegas, menegaskan bahwa tidak akan ada negosiasi dalam kondisi apa pun.
Konflik antara Iran dan AS-Israel memasuki minggu kelima setelah pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah, termasuk serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer, infrastruktur energi, dan kepentingan AS di kawasan Teluk.
AS dan Israel awalnya mengeklaim “serangan pendahuluan” itu diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, kemudian mereka menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi, sementara korban jiwa dari kedua belah pihak terus bertambah.
(*Tasnim/ *The New York Times/ *Reuters)
