London, Komentarnews – Ledakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) mengubah wajah pasar properti global, melahirkan kategori baru berupa lahan “bertenaga” yang bernilai tinggi karena sudah terhubung ke jaringan listrik besar, sekaligus menimbulkan kekhawatiran soal munculnya “proyek zombie” bila permintaan AI nantinya merosot. Lahan-lahan industri di pinggiran kota besar di Inggris, Irlandia, dan beberapa negara Eropa kini direbutkan pengembang pusat data karena kombinasi suplai listrik, infrastruktur fiber optik, dan kedekatan dengan jaringan transmisi utama.
Investor dan pengembang menyebut fenomena “powered land” sebagai lahan yang belum dibangun, tetapi sudah memiliki jaminan kapasitas listrik besar dari operator jaringan, sehingga nilainya melesat dalam hitungan bulan. Di Inggris, misalnya, antrean proyek pusat data dan fasilitas energi lain telah lama menumpuk di sistem antrian koneksi ke jaringan, dan kini pembersihan antrian itu membuka jalan bagi sejumlah proyek baru yang berorientasi pada kebutuhan komputasi AI.
Namun di balik optimisme tersebut, analis memperingatkan risiko mencuatnya “proyek zombie” – kawasan industri luas yang dipenuhi beton, kabel bawah tanah, dan gardu listrik, tetapi gagal terisi aktivitas produktif jika hype AI menurun atau regulasi memperlambat ekspansi pusat data. Mereka mencontohkan bagaimana lahan pertanian yang diubah menjadi kompleks infrastruktur bisa sulit dikembalikan ke fungsi awal, sehingga menyisakan jejak permanen di lanskap dan menimbulkan perdebatan lingkungan.
Para pelaku pasar mengatakan, kompetisi global untuk menarik investasi pusat data AI mendorong pemerintah daerah menawarkan insentif, mulai dari keringanan pajak hingga kemudahan perizinan, sementara warga setempat mengkhawatirkan dampak terhadap konsumsi listrik, penggunaan air, dan panas yang dihasilkan server. “Pusat data menjadi infrastruktur baru di era AI, tetapi penentuan lokasi yang keliru bisa meninggalkan beban jangka panjang bagi komunitas lokal,” ujar seorang analis properti yang dikutip dalam laporan tersebut.
Permintaan lahan bertenaga juga berkelindan dengan kebutuhan besar sektor energi terbarukan untuk memasok listrik ke pusat data yang haus daya. Di sejumlah kasus, proyek-proyek angin dan surya dipasangkan dengan pusat data untuk mengamankan offtaker jangka panjang, tetapi skema semacam itu menambah kompleksitas perencanaan jaringan dan biaya penyeimbangan sistem listrik.
Reporter mencatat bahwa para pengembang, investor infrastruktur, dan operator jaringan kini berada di persimpangan: mengelola peluang ekonomi masif dari komputasi AI sembari mengantisipasi risiko bila teknologi atau kebijakan global bergeser. Jika tidak diatur dengan cermat, lahan “bertenaga” yang hari ini tampak sangat menjanjikan berpotensi menjelma menjadi deretan proyek zombie yang mahal dan sulit dipulihkan fungsi lahannya di masa depan.
(Reuters)


