Seoul, KomentarNews – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak yang bisa mengguncang ekonomi negaranya. Dalam rapat pemerintah pada Selasa (17/3/2026), Lee menegaskan bahwa pemerintah harus mulai bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk skenario terburuk.
“Sekarang kita perlu mengembangkan langkah-langkah dengan asumsi situasi berkepanjangan, termasuk skenario terburuk,” kata Lee dikutip dari kantor berita Yonhap .
Lee menilai, jika situasi global saat ini terus berlanjut, harga minyak yang sempat stabil bisa kembali melonjak. Dampaknya tentu tidak main-main, mulai dari tekanan ekonomi hingga penurunan standar hidup masyarakat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Lee meminta para pejabat Korea Selatan memaksimalkan jalur diplomasi demi memastikan pasokan energi alternatif tetap aman. Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya Korsel sudah mengambil langkah serupa dengan menambah impor minyak dari Uni Emirat Arab.
Selain itu, pemerintah juga diminta bersiap menjalankan kebijakan penghematan energi secara nasional. Salah satu opsi yang disebut adalah pembatasan penggunaan kendaraan, misalnya dengan sistem ganjil-genap dalam periode tertentu seperti lima atau 10 hari.
Tak hanya itu, pemerintah juga membuka kemungkinan langkah lebih tegas jika situasi memburuk, seperti kontrol ekspor, penetapan status darurat energi, hingga peningkatan produksi listrik dari pembangkit nuklir.
“Sebagai langkah jangka menengah, perlu beralih dari sistem energi berbasis bahan bakar fosil ke sistem energi terbarukan sesegera mungkin,” kata Lee.
Di sisi lain, Lee juga mengingatkan soal dampak sosial yang bisa muncul jika krisis berlangsung lama. Ia menilai kelompok rentan berpotensi paling terdampak, sementara ada juga risiko pihak tertentu mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk segera menyusun anggaran tambahan guna melindungi kelompok rentan sekaligus mendukung para pelaku ekspor agar tetap bertahan di tengah tekanan global.
Peringatan ini muncul di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, yang telah memicu gangguan di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
(*Yonhap/ *Reuters/ *The Korea Herald)
