Jakarta, KomentarNews – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyebut bahwa kenaikan harga plastik berdampak langsung pada kenaikan harga produk makanan dan minuman (mamin) di pasaran. Hal ini terjadi karena hampir seluruh produk mamin menggunakan plastik sebagai kemasan, sementara pasokan bahan tersebut mulai terbatas.
“Ini memang situasi yang cukup rumit di industri, khususnya makanan dan minuman. Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat (bahan baku) dari pemasok,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinator soal Investigasi Dagang AS di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Adhi merinci bahwa kenaikan harga plastik terjadi secara signifikan dengan variasi lebar, berkisar antara 30 persen hingga 100 persen. Kenaikan ini mencakup berbagai jenis kemasan, termasuk plastik sederhana untuk bakso dan produk daging beku.
“Misalnya kontribusi kemasan terhadap harga pokok itu sekitar 25 persen saja. Kalau itu naik 100 persen, berarti ke harga pokok tinggi sekali, pengaruhnya sekitar 25 persen. Ini akan menyebabkan industri mengalami kesulitan untuk menjual, karena produknya pasti harganya mahal, sementara daya beli masyarakat terbatas,” jelas dia.
Selain harga melonjak, ketersediaan bahan baku plastik juga menjadi persoalan serius. Adhi mengungkapkan bahwa sejumlah pemasok sudah menginformasikan potensi kehabisan stok bahan baku kemasan dalam beberapa bulan ke depan.
“Beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan. Dari pemasok ada yang bilang terakhir Mei atau Juni sudah habis. Ini yang harus dicarikan solusinya,” katanya.
Sebagai respons, sebagian pelaku industri telah mulai menyesuaikan harga jual produk di pasar. Kenaikan harga sudah terlihat pada sejumlah komoditas kebutuhan dasar yang menggunakan kemasan plastik.
“Beberapa sudah naik harga. Di pasar, yang basic seperti beras, minyak goreng. Itu bukan barangnya yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga terjadi kenaikan harga,” katanya.
Adhi menuturkan bahwa tekanan biaya juga menggerus margin pelaku usaha. “Katakan misalnya kontribusi kemasan 20 persen, kalau harganya (plastik) naik 60 persen saja, berarti sekitar 12 persen harga pokoknya naik. Kalau kita bisa naikkan harga jualnya 5 persen, berarti tekornya sudah 7 persen,” tutur dia.
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan, Adhi mendorong pemerintah membuka opsi impor bahan baku plastik dari negara alternatif. “Mau tidak mau kita harus impor. Karena kalau dalam negeri tidak tersedia. Industri hulu plastik juga produksinya berkurang jauh, sekitar 30 persen. Karena mereka juga harus impor beberapa komponen untuk memproduksi plastik kemasan,” tambahnya.
(*GAPMMI/ *ANT)






