Jakarta, Komentarnews – Pengembang game fenomenal Grand Theft Auto (GTA), Rockstar Games, kembali menjadi sasaran peretasan untuk kedua kalinya dalam tiga tahun terakhir. Kelompok peretas bernama ShinyHunters mengaku bertanggung jawab atas serangan siber yang menargetkan server Rockstar yang dikelola oleh penyedia cloud pihak ketiga.
Kelompok tersebut mengancam akan mempublikasikan materi yang dicuri secara online jika tebusan tidak dibayarkan. ShinyHunters, yang dikenal sebagai kelompok peretas anglofon produktif yang diduga masih berusia remaja, sebelumnya juga mengaku sebagai dalang peretasan operator tiket raksasa, Ticketmaster.
Namun, Rockstar meremehkan dampak peretasan ini. Dalam konfirmasinya kepada publikasi game Kotaku, juru bicara Rockstar mengatakan bahwa “ini tidak berdampak pada organisasi kami atau para pemain kami.”
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa sejumlah terbatas informasi perusahaan yang tidak material diakses sehubungan dengan pelanggaran data pihak ketiga,” kata juru bicara Rockstar.
BBC telah menghubungi Rockstar untuk meminta komentar dan juga berbicara dengan peretas ShinyHunters. Para pelaku kejahatan siber tersebut tidak mengungkapkan bagaimana mereka melakukan peretasan, tetapi mengonfirmasi bahwa data yang dicuri akan dipublikasikan secara online karena tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Nasihat penegak hukum di seluruh dunia adalah untuk tidak membayar tebusan peretas karena tindakan tersebut justru mendanai industri kejahatan siber dan tidak ada jaminan bahwa peretas akan benar-benar menghapus data yang dicuri.
Ini adalah kedua kalinya Rockstar diretas. Pada tahun 2023, seorang peretas remaja asal Inggris bernama Arion Kurtaj (18 tahun) dijatuhi hukuman rumah sakit tidak terbatas setelah meretas perusahaan dan mencuri data, kode sumber, serta cuplikan video dari game GTA 6 yang belum selesai. Peretasan yang merusak itu menyebabkan 90 video cuplikan gameplay GTA 6 bocor di forum online, memaksa Rockstar merilis trailer game tersebut lebih cepat dari jadwal. Kurtaj adalah bagian dari geng peretas remaja bernama Lapsus$, yang meretas banyak perusahaan besar pada 2022 dan 2023.
(*BBC)



