Bellinzona KOMENTARNEWS – Pengadilan Pidana Federal Swiss pada Senin (27/4) mulai menggelar sidang perkara pencucian uang berskala besar yang menyeret Gulnara Karimova, putri tertua mendiang Presiden Uzbekistan Islam Karimov, bersama sebuah bank swasta ternama Swiss, Lombard Odier, dan seorang mantan manajer aset. Jaksa penuntut menuduh Karimova memimpin organisasi kriminal yang dijuluki “The Office” dan menggunakan lebih dari 30 rekening bank di Swiss untuk mencuci ratusan juta dolar AS hasil suap di sektor telekomunikasi Uzbekistan antara 2005 dan 2012.
Dalam dakwaan yang sebelumnya dipublikasikan, Kejaksaan Agung Swiss (Office of the Attorney General/OAG) menyatakan Karimova dan jaringan dekatnya menerima suap besar-besaran dari perusahaan telekomunikasi asing yang ingin mendapatkan lisensi dan akses pasar di Uzbekistan. Uang itu kemudian dialirkan melalui perusahaan cangkang dan rekening-rekening di bank Swiss, termasuk Lombard Odier di Jenewa, untuk menyamarkan asal-usulnya sebelum diinvestasikan ke aset-aset lain.
Selain Karimova, yang kini berusia menjelang 54 tahun, terdakwa lain di persidangan Bellinzona adalah seorang mantan manajer aset Lombard Odier, bekas tangan kanan Karimova, serta bank itu sendiri sebagai entitas korporasi. Mantan manajer aset tersebut dituduh membuka dan mengelola hubungan perbankan untuk individu-individu yang terhubung dengan “The Office” antara 2008 dan 2012, sehingga diduga berperan penting dalam menyembunyikan sumber dana yang diduga hasil korupsi.
Terhadap Lombard Odier, jaksa tidak menuduh keterlibatan aktif dalam pencucian uang, tetapi menuding bank gagal mengambil langkah organisasi yang memadai untuk mencegah tindak pencucian uang yang dilakukan melalui rekening nasabah terkait. Kasus ini menjadi ujian penting atas konsep “tanggung jawab pidana korporasi” di Swiss, karena pengadilan akan menilai apakah prosedur internal bank – seperti uji tuntas nasabah dan pelaporan transaksi mencurigakan – sudah seharusnya mampu menghentikan aliran dana ilegal tersebut.
Lombard Odier sendiri menyatakan kasus ini merupakan “legacy case” yang berasal dari masa lalu dan menegaskan telah melaporkan transaksi mencurigakan itu kepada unit intelijen keuangan Swiss, Money Laundering Reporting Office Switzerland (MROS), sejak 2012. Dalam pernyataan resmi pada awal April, bank tersebut menyebut telah bekerja sama penuh dengan otoritas selama proses penyelidikan dan menyatakan yakin bahwa pengadilan “pada akhirnya akan mengonfirmasi bahwa bank telah mengambil langkah organisasional yang diperlukan untuk mencegah tindak pidana tersebut”.
Swiss telah membekukan lebih dari 800 juta franc Swiss (sekitar 795 juta dolar AS) aset yang ditautkan dengan dugaan kejahatan Karimova, yang penyelidikannya pertama kali dibuka di Swiss pada 2012. Sejumlah bank lain di negara itu, termasuk Pictet, Credit Suisse, dan J. Safra Sarasin, sebelumnya juga pernah dijatuhi sanksi atas kegagalan mencegah pencucian uang dalam kasus-kasus korupsi internasional, sehingga persidangan ini dipandang sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Swiss membersihkan citra sektor perbankannya.
Persidangan di Bellinzona dijadwalkan berlangsung hingga akhir Mei, dengan putusan diperkirakan baru keluar beberapa bulan setelahnya. Bagi Uzbekistan, kasus ini menyangkut upaya merebut kembali aset-aset yang diyakini berasal dari hasil korupsi era pemerintahan Karimov, sementara bagi Swiss, perkara ini menjadi barometer seberapa jauh pengadilan bersedia menegakkan standar anti-pencucian uang terhadap bank swasta berusia ratusan tahun seperti Lombard Odier.
(Reuters, OAG Swiss, Lombard Odier, media Swiss)


