MINUT, KOMENTAR NEWS Kabupaten Minahasa Utara (Minut), mendapat kehormatan menjadi tuan rumah kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XXXI tahun 2026.
Lebih membanggakan lagi, kegiatan yang dipusatkan di alun-alun Pemkab Minut ini, turut dihadiri Menteri Agama RI, Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, M.A dan Gubernur Sulut, Mayjen Purn. Yulius Selvanus.

Bupati, DR. Joune J. E. Ganda, S.E, M.A.P, M.M, M.Si, selaku tuan rumah iven yang melibatkan delegasi dari 15 Kabupaten/Kota di Sulut ini, mengaku sangat terhormat boleh menyambut para peserta kegiatan itu.
“Kami merasa sangat bangga boleh menyambut saudara sekalian di tempat ini, terlebih para Kafilah MTQ yang akan berlomba selama beberapa hari ke depan,” kata Bupati JG, dalam sambutannya.

Tidak hanya itu, ia juga mengaku sangat senang di mana alun-alun yang disebutnya merupakan hadiah dari Gubernur YSK, akhirnya boleh dipakai untuk iven akbar ini. Bahkan, pada pemakaian perdana ini, boleh langsung dihadiri Menteri dan Gubernur sekaligus.
“Maka dari itu, dari momentum ini kita berharap semangat yang terbangun selama MTQ tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi menjadi inspirasi untuk terus mempererat persaudaraan, meningkatkan kualitas pembinaan generasi Qurani, serta mendorong kemajuan daerah melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” harapnya.

“Semoga suksesnya MTQ ini juga akan semakin memperkuat semangat persatuan, toleransi, serta pembangunan daerah dalam bingkai torang samua Basudara,” tutupnya.
Sementara itu, Menteri Agama RI, Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, M.A, dalam sambutannya pasa kegiatan yang mengusung tema ‘Membumikan Nilai-Nilai Qur’ani, Merawat Kerukunan dalam Bingkai Torang Samua Basudara’ ini, mengapresiasi kerukunan yang ada di Sulut, termasuk di dalamnya yakni di bumi Klabat.
“Ini (Kerukunan) yang sangat mahal. Saya bangga,” ujar Nasaruddin.

Dikatakannya lagi, tidak ada di negara lain bisa ditemukan hal seperti ini. Bahkan, ia menggambarkan Indonesia sebagai lukisan yang sangat indah yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun.
“Negeri yang paling plural di permukaan bumi ini ternyata adalah Indonesia. Tidak ada negara di kolong langit ini yang memiliki kepulauan lebih dari 17.000 dengan segala macam budaya, agama, dan bahasa, tetapi mampu menjadi contoh negara yang paling rukun,” sebutnya.
Terkait tema ‘Membumikan Nilai-Nilai Qur’ani, Merawat Kerukunan dalam Bingkai Torang Samua Basudara’, ia menyebut bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah manifesto kebangsaan dan keagamaan yang sangat kontekstual, mendalam, dan visioner.

“Membumikan berarti memindahkan nilai-nilai langit ke atas realitas bumi tempat kita berpijak. Nilai-nilai Al-Qur’an ini tidak boleh berhenti di menara-menara masjid saat suara azan berkumandang. Nilai Al-Qur’an tidak boleh terhenti pada lembaran-lembaran hafalan para penghafal. Nilai Al-Qur’an harus menjiwai dan menyesuaikan diri dalam perilaku sosial kita sehari-hari,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak agar menjadikan iven bukan sekadar ritual seremonial tahunan, melainkan institusi spiritual yang berfungsi sebagai akselerator penanaman nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Biarlah kiranya ada hal-hal baik yang boleh lahir dari pertemuan kita hari ini, yang sekaligus boleh menjadi tali pengikat kuat keragaman serta kerukunan dalam bingkai torang samua bersaudara,” kuncinya.
Sekadar diketahui, tak kalah istimewa dari kegiatan tersebut ialah Ketua Panitia dipercayakan kepada seorang Nasrani yakni Umbase Mayuntu.

Adapun kegiatan ini diikuti 351 Peserta, 80 Juri, dengan mempertandingkan 8 cabang perlombaan, yaitu:
Seni Baca Al-Qur’an
Seni Bela Al-Qur’an
Qira’at Al-Qur’an
Hafalan Al-Qur’an
Tafsir Al-Qur’an
Fahmil Al-Qur’an
Syahril Al-Qur’an
Seni Kaligrafi Al-Qur’an
Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an






