SULUT, KOMENTAR-NEWS.COM — Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara berubah menjadi panggung gagasan dan kreativitas. Selama tiga hari, 2–4 Oktober 2026, Festival Literasi Sulawesi Utara 2026 menghimpun 3.400 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sulut — sebuah angka yang membuktikan bahwa semangat literasi di daerah ini jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak orang.
Mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, festival ini bukan sekadar pameran buku. Di sini digelar bedah buku, diskusi terbuka, lokakarya, pameran seni, bazar UMKM, hingga pertunjukan musik — membuktikan bahwa literasi bisa hadir dalam bentuk yang hidup, menarik, dan menyenangkan.
Saat menutup kegiatan, Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, menegaskan bahwa literasi jauh lebih luas daripada sekadar bisa membaca dan menulis:
“Peradaban yang maju dan berkeadaban dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh. Literasi adalah kemampuan memahami realitas, berpikir kritis, dan tidak mudah terombang-ambing arus informasi. Literasi adalah cara kita menjaga identitas di tengah derasnya perubahan zaman.”
Melihat antusiasme masyarakat, Gubernur Yulius melontarkan gagasan yang langsung disambut tepuk tangan:
“Saya minta perpustakaan daerah dibuat senyaman dan seindah tempat ini. Anggarkan, rancang yang bagus, buka seluas-luasnya, dan gratiskan aksesnya. Jangan biarkan perpustakaan hanya menjadi gedung yang sepi. Ajak anak muda masuk, berkumpul, dan berkarya di sana.”
Festival ini hasil kolaborasi Putra Putri Literasi Sulut (PPLSU) dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulut. Gubernur menyatakan dukungan penuh — 1.000 persen — untuk setiap inisiatif yang menghidupkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan generasi muda.
Penutupan festival bukan berarti semangat meredup. Justru, ini adalah titik awal:
“Dari literasi, lahir pengetahuan. Dari pengetahuan, tumbuh gagasan. Dari gagasan, lahir karya. Dan dari karya, Sulawesi Utara menyiapkan masa depan.”
Sulut yang maju tidak hanya butuh jalan dan jembatan. Sulut yang maju membutuhkan manusia-manusia yang berilmu, berkarakter, dan mampu menciptakan narasi masa depannya sendiri.(***)






