MTPJ, KomentarNews –
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Perkembangan dunia yang semakin pesat mengantar setiap orang berada di tengah persaingan satu dengan yang lain. Persaingan tersebut sering memicu terjadinya pementingan diri sendiri atau kelompok yang melahirkan sifat eksklusif dan merasa superior terhadap orang atau kelompok yang lain. Sementara itu, nilai-nilai hidup sebagai orang percaya seperti takut akan Tuhan Allah dan hidup benar semakin terpinggirkan oleh budaya instan, relativisme moral dan individualisme.
Hidup takut akan Tuhan Allah yang didalamnya adalah berlaku dan bertindak benar sepertinya telah tergantikan dengan kehidupan yang berorientasi pada pemenuhan tujuan dan kepentingan sendiri dengan tindakan tidak benar dan merugikan orang lain. Hal ini bisa saja terjadi dalam kehidupan warga gereja di tengah jemaat ataupun masyarakat. Gereja perlu menegaskan kembali pentingnya karakter yang takut akan Tuhan Allah, bukan hanya sebagai nilai rohani pribadi, tetapi sebagai kekuatan moral dalam menghadapi arus dunia yang melemahkan iman.
Selaku orang yang percaya kita diarahkan untuk hidup takut akan Tuhan Allah dan melakukan kebenaran Firman Tuhan serta siap menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu di sepanjang minggu ini kita akan dibawa dalam perenungan Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 10:34-43 di bawah tema “ORANG YANG TAKUT AKAN DIA DAN YANG MENGAMALKAN KEBENARAN BERKENAN KEPADA-NYA”.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas yang merupakan seorang tabib. Kitab ini ditulis kira-kira tahun 80 M – 100 M dalam konteks kekaisaran Romawi. Dimana kekristenan mulai berkembang dan menghadapi tantangan dan penganiayaan. Lukas sebagai penulis hendak meyakinkan pembacanya bahwa kekristenan bukanlah ancaman melainkan orang kristenpun adalah warga negara yang baik dan dapat dipercaya. Penulis juga ingin menunjukkan bagaimana Roh Kudus memimpin berkembangnya kekristenan yang keluar dari Yerusalem dan menjangkau dunia bukan Yahudi sehingga Injil dapat diberitakan keseluruh dunia.
Bacaan dalam ayat 34-43 ini tidak dpat dipisahkan dari kisah yang dicatat dalam pasal 10:1-33. Dalam kisah itu di katakan bahwa ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi yang mendapatkan penglihatan. Penglihatannya adalah seorang malaikat yang masuk ke rumahnya dan kemudian menyuruh dia untuk memanggil Simon Petrus yang berada di Yope. Kornelius kemudian menyuruh dua orang hambanya dan seorang prajurit untuk menjemput Petrus di Yope. Petrus kemudian di bawa ke rumah Kornelius dan disitulah Petrus mengajar orang-orang yang ada di rumah itu.
Ayat 34-35, Petrus kini memberikan penegasan bahwa Tuhan Allah tidak membedakan orang. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman selama ini yang berakar dalam kehidupan orang Yahudi bahwa Tuhan Allah berkenan dan berpihak hanya kepada orang Israel saja. Kata sesungguhnya (aleteias) artinya benar dan Kata “aku telah mengerti” yang dalam Bahasa Yunani “katalambanomai” berarti “sekarang ini atau baru kali ini saya mengerti” bahwa Allah tidak membedakan orang. Petrus kini menyadari bahwa Tuhan Allah adalah Allah bagi semua orang. Pengalaman penglihatan waktu ia berdoa di atas rumah (ayat 9-15), dimana Ia melihat berbagai binatang yang dianggap haram menurut hukum Yahudi. Kemudian ada suara berkata “sembelih dan makanlah”, tetapi Petrus menolak karena menurutnya itu najis. Lalu suara itu berkata, “Apa yang dinyakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram”, tentu telah memberi tanda akan hal ini bahwa Tuhan Allah tidak membedakan orang. Penglihatan yang dialami Petrus itu memberikan penjelasan dan pengertian bahwa kasih Tuhan Allah dan anugerah-Nya tidak terbatas pada orang Yahudi saja. Selanjutnya Petrus menegaskan bahwa kasih karunia Tuhan Allah itu bagi semua bangsa yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran “berkenan” (Yun. Dektos yang berarti dapat diterima) kepada-Nya. Ayat ini bukan dalam pengertian bahwa seakan-akan Tuhan Allah memberikan kasih karunia-Nya berdasarkan perbuatan-perbuatan atau amal manusia. Rasa takut mereka kepada-Nya dan melakukan kebenaran bukanlah dasar penerimaan mereka; tetapi harus dianggap sebagai deskripsi dari hidup orang-orang yang di terima oleh-Nya di dalam Yesus Kristus. Sebab orang di terima atau di kenan Tuhan Allah bukan karena jasa, melainkan hanya di dalam Yesus Kristus. Kata “Mengamalkan” dalam bahasa Yunani Ergazomenos berarti “berkomitmen”, “mengerjakan”, “bekerja untuk”. Itu berarti maksudnya adalah hidup orang percaya adalah takut akan Tuhan Allah dan terus berkomitmen dalam hidup yang berdasarkan prinsip yang benar dan untuk tujuan yang benar. Alkitab mencatat bahwa Kornelius adalah seorang yang memiliki karakter yang tulus dan melakukan kebenaran, ia dipilih Tuhan Allah bukan karena perbuatannya tapi karena perkenanan Tuhan Allah.
Ayat 36 Semakin memberikan penegasan bahwa Tuhan Allah melalui firman-Nya telah disampaikan kepada orang Israel bahwa melalui Yesus Kristus maka damai sejahtera diberikan kepada semua orang. Ini berarti melalui Yesus Kristus keselamatan diperuntukkan untuk semua orang dan dengan demikian Yesus Kristus adalah Tuhan bagi semua orang. “Tuhan dari semua orang” dari kata Yunani pantoun Kurios, mengandung pengertian bahwa Kerajaan Allah berlaku bagi semua orang karena hanya di dalam Yesus Kristus ada damai Sejahtera dan keselamatan.
Ayat 37-38 Petrus mengingatkan kepada mereka tentang kejadian yang sudah mereka ketahui tentang siapa Yesus Kristus yang sesudah baptisan diberitakan oleh Yohanes. Bahwa Ia di urapi oleh Tuhan Allah dengan Roh Kudus dan kuasa. Dia pula yang telah berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis karena Tuhan Allah menyertai Dia. Sepertinya Petrus hendak mengingatkan mereka bagaimana Yesus Kristus dan karya-karya-Nya dinyatakan bagi banyak orang. Dengan kata lain kisah Yesus Kristus sudah dikenal oleh banyak orang. Petrus mau menyatakan bahwa pelayanan Yesus bukan rahasia lagi melainkan telah dikenal diseluruh Yudea dan Galilea.
Selanjutnya dalam ayat 39 dan 40, “Kamilah saksi- saksi” . (Yun. Martus berarti Saksi, Saksi mata)Petrus berbicara sebagai saksi mata bagaimana Yesus Kristus telah di bunuh dan mati di kayu salib. Tetapi juga mereka yang menyaksikan bahwa Tuhan Allah sendirilah yang membangkitkan Yesus Kristus pada hari yang ketiga dan menampakkan diri kepada Petrus dan teman-temannya. Tuhan Allah sendiri yang memilih saksi-saksi itu. Bahkan Petrus memberi kesaksian bahwa setelah kebangkitan itu, Yesus Kristus telah makan dan minum bersama mereka. Ini menunjuk pada peristiwa dalam Lukas 24:42. Para saksi ini benar-benar telah mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus secara langsung Hal ini disampaikan Petrus untuk memberi keyakinan bahwa Yesus Kristus memang benar-benar bangkit bukan ilusi atau imajinasi dari para murid.
Ayat 42-43, Petrus memberitahukan sekarang bahwa mereka tidak hanya menjadi saksi atas kebangkitan Yesus Kristus tetapi juga mereka mendapat “tugas” (Yun. Parengeillo yang berarti memerintahkan) untuk bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah Hakim yang di tentukan oleh Tuhan Allah atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Hal ini dikatakan Petrus agar orang-orang yang mendengar pengajarannya ini menyadari bahwa tidak ada keselamatan selain di dalam Yesus Kristus. Sebab semua nabi telah memberi kesaksian bahwa siapa yang “percaya” (Yun. Pisteo yang berari percaya, mempercayakan) kepada-Nya akan memperoleh pengampunan dosa. Itu berarti mereka yang percaya dan mempercayakan hidup mereka kepada Tuhan Yesus akan memperoleh keselamatan.
Makna dan Implikasi Firman
- Allah mengasihi semua orang tanpa membeda-bedakan. Tuhan tidak melihat suku, bangsa atau latar belakang. Oleh karena itu dalam pemberitaan Petrus, ia menegaskan bahwa Tuhan Allah berkenan atas semua orang yang takut akan Dia dan yang mengerjakan kebenaran dalam hidupnya. Ini bukan berarti bahwa orang dikenan Tuhan Allah dan memperoleh keselamatan, oleh karena perbuatan dan amal. Tetapi hidup takut akan Tuhan Allah dan berlaku benar adalah model kehidupan orang yang menerima keselamatan dari Tuhan Allah. Dengan kata lain, sebagai orang percaya yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus, hidup takut akan Tuhan Allah dan mengerjakan kebenaran kiranya menjadi warna kehidupan kita. Itulah sebabnya perbedaan latar belakang dalam kehidupan orang percaya tidak harus menjadi pemicu untuk saling bersaing dan merasa lebih unggul dari yang lain. Ingatlah bahwa Tuhan Allah tidak membedakan orang.
- Perbuatan baik dan takut akan Tuhan Allah bukanlah syarat orang diselamatkan. Meskipun Kornelius digambarkan sebagai orang yang saleh, suka berbuat baik, murah hati, ia tetap butuh percaya kepada Tuhan Yesus untuk diselamatkan. Keselamatan hanya datang dari iman kepada Yesus Kristus, bukan dari kebaikan pribadi. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma oleh Tuhan Allah melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
- Pemberitaan tentang Yesus Kristus dalam hidup orang percaya di era sekarang ini tetap menjadi hal yang sangat penting. Orang percaya atau warga gereja kiranya tetap menjadi saksi-saksi yang memberitakan Yesus Kristus di tengah dunia. Orang percaya tidak perlu malu dan ragu untuk tetap menyampaikan bahwa Yesus Kristus telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dialah Tuhan dan juruselamat dunia. Hanya di dalam Dia kita memperoleh pengampunan dosa. Berita ini kiranya menjadi kesaksian warga gereja ke manapun dan di manapun kita pergi dan berada.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
- Apa makna “Orang Yang Takut Akan Dia dan Yang mengamalkan Kebenaran Berkenan kepada-Nya” menurut Kisah Para Rasul 10:34-43?
- Mengapa pelayanan gereja tidak boleh membeda-bedakan orang?
- Bagaimana warga gereja mewujudkan panggilan imannya di tengah kepelbagaian latar belakang?. Berikan contohnya?
NAS PEMBIMBING: Galatia 2 : 16
POKOK-POKOK DOA
- Berdoa agar gereja dimampukan untuk memberitakan Injil kepada semua orang dari berbagai suku dan bangsa.
- Berdoa supaya gereja yang bangkit bersama Kristus bukan hanya mengabarkan Injil lewat kata-kata, tapi juga melalui tindakan nyata. Seperti menunjukkan kasih, keadilan dan perbuatan yang benar.
- Berdoa supaya setiap keluarga dimampukan Tuhan untuk menjadi saksi Kristus.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK III
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Nyanyian Masuk: NKB No.7 “Nyanyikanlah Nyanyian Baru Bagi Allah.”
Nas Pembimbing:NKB No. 72 “Nama Yesus Berkumandang.”
Pengakuan Dosa: NKB No. 122 “Ku Ingin Berperangai.”
Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. 8 “Barangsiapa Yang Percaya Kepada Tuhan.”
Persembahan: KJ No. 450 “Hidup Kita Yang Benar.”
Nyanyian Penutup: NKB No. 199 “Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan.”
ATRIBUT : Warna Dasar Putih dengan Lambang Bunga Bakung dengan Salib Berwarna Kuning
(*GMIM/DodokuGMIM)

