Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (27/3/2026) pagi, bergerak melemah 14 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.928 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.904 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh volatilitas harga minyak dunia yang masih tinggi akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan bahwa rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan sepanjang hari ini.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.870 – Rp16.920 dipengaruhi oleh global harga minyak dunia yang masih dengan volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Mengutip Sputnik, anggota parlemen Iran Mohammadreza Rezaei Kouchi menyatakan bahwa Iran ingin melegalkan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Pada 24 Maret 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Iran sudah mulai mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp33,8 miliar) bagi kapal dagang yang melintasi selat strategis tersebut.
Eskalasi di sekitar Iran menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Kondisi itu turut mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Dari sisi domestik, pasar disebut khawatir atas peningkatan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak. Hal ini diiringi dengan kewaspadaan potensi defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang dikhawatirkan terlampaui.
“Sebelum pecah perang AS-Israel dan Iran, tren inflasi sudah mulai meningkat. Ditambah kenaikan harga minyak yang akan menambah biaya produksi industri dan harga jual barang,” ungkap Rully.
Rully menambahkan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan ini.
“Langkah yang dapat dilakukan pemerintah di antaranya dengan menjaga daya beli masyarakat melalui program-program seperti bantuan tunai dan insentif listrik, serta penghematan di lembaga dan kementerian,” ujar dia.
(*ANT/ *Bloomberg/ *Sputnik)
