Jakarta, KomentarNews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis pagi (30/4/2026) dibuka melemah 23 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.349 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.326 per dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama terkait kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Pasar masih mencermati hasil pertemuan FOMC yang memberikan sinyal hawkish dengan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dolar AS pun menguat terhadap sebagian besar mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga tercatat melemah ke level Rp17.335 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.312 per dolar AS.
Lukman menambahkan bahwa rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal I/2026 yang tumbuh di atas ekspektasi semakin memperkuat posisi dolar AS. “Ekonomi AS yang masih solid memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga dolar AS berpotensi terus menguat dalam jangka pendek,” jelasnya.
Lukman: Rupiah Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.300–Rp17.400
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS pada hari ini, tergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan data ekonomi AS lainnya yang akan dirilis pekan ini.
Ekonom dari Bank Mandiri, Faisal Rachman, menilai bahwa meskipun rupiah melemah, fundamental ekonomi domestik masih cukup solid untuk menjadi penahan. “Cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang terkendali di dalam negeri menjadi bantalan bagi rupiah di tengah gempuran dolar AS yang perkasa,” ujar Faisal.
(*ANT/ Bloomberg)


