Islamabad, KomentarNews – Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi tiba di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2026) untuk mengikuti perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat. Kedatangan tim yang terdiri dari sekitar 70 orang ini terjadi di tengah ketegangan tinggi karena Iran menuntut sejumlah syarat pra-negosiasi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4) malam, hanya beberapa jam sebelum batas waktu di mana Trump mengancam akan menghancurkan peradaban Iran. Gencatan senjata telah menghentikan serangan udara AS dan Israel ke Iran, namun belum mengakhiri blokade Iran atas Selat Hormuz atau meredakan perang paralel antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Jelang pembicaraan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan di platform X bahwa Washington sebelumnya telah menyetujui untuk membuka blokir aset Iran dan gencatan senjata di Lebanon, serta menambahkan bahwa perundingan tidak akan dimulai sampai janji-janji itu dipenuhi.
Berbicara dari Islamabad, Qalibaf mengatakan Tehran memiliki niat baik terhadap negosiasi tetapi tidak memiliki kepercayaan pada Amerika Serikat. “Iran siap mencapai kesepakatan jika Washington menawarkan perjanjian yang tulus dan memberikan hak-hak Iran,” lapor media pemerintah Iran.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang belum pernah terlihat di publik sejak menggantikan ayahnya yang tewas pada hari pertama perang, pada Kamis (9/4) menyampaikan pesan tegas: “Kami pasti tidak akan membiarkan penyerang kriminal yang menyerang negara kami lolos tanpa hukuman.”
Gedung Putih belum memberikan komentar langsung atas tuntutan Iran. Namun, dalam unggahan di media sosial, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa satu-satunya alasan Iran masih hidup adalah untuk bernegosiasi.
“Iran sepertinya tidak menyadari bahwa mereka tidak punya kartu, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan internasional. Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tulis Trump.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang akan memimpin delegasi Amerika, menyatakan bahwa ia mengharapkan hasil positif saat ia berangkat ke Pakistan. “Jika mereka mencoba untuk mempermainkan kami, maka mereka akan menemukan tim negosiasi yang tidak terlalu reseptif,” ujar Vance.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dalam pidato nasionalnya pada Jumat malam, menggambarkan taruhan dari pembicaraan ini. “Gencatan senjata permanen adalah fase sulit berikutnya, yaitu menyelesaikan masalah-masalah rumit melalui negosiasi. Ini, dalam bahasa Inggris, disebut fase ‘make-or-break’ (menentukan atau hancur),” kata Sharif.
Sementara itu, serangan Israel di Lebanon selatan terus berlanjut. Serangan Jumat (10/4) di kota Nabatieh menewaskan 13 personel keamanan negara Lebanon. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengonfirmasi jumlah korban tersebut dalam sebuah pernyataan. Hizbullah membalas dengan roket ke kota-kota di utara Israel.
Otoritas Lebanon mengatakan sedikitnya 1.953 orang telah tewas dalam serangan Israel sejak 2 Maret.
Duta Besar Israel untuk AS dan duta besar Lebanon untuk AS dijadwalkan mengadakan pembicaraan di Washington pada Selasa (14/4). Namun, kedua pihak mengeluarkan pernyataan yang bertentangan tentang cakupan pembicaraan tersebut.
Agenda Iran dalam pembicaraan ini mencakup tuntutan konsesi besar baru, termasuk pengakhiran sanksi yang melumpuhkan ekonominya selama bertahun-tahun, pengakuan atas otoritasnya atas Selat Hormuz, serta kompensasi penuh atas kerusakan perang.
Kapal-kapal Iran berlayar tanpa hambatan melalui selat tersebut pada hari Jumat, sementara kapal-kapal negara lain tetap terhambat di dalamnya. Gangguan pasokan energi telah memicu inflasi dan memperlambat ekonomi global, dengan dampak yang diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan.
Data inflasi AS yang dirilis Jumat menunjukkan harga konsumen naik 0,9 persen pada Maret, tingkat tercepat sejak krisis inflasi 2022 yang menggerus dukungan untuk pendahulu Trump, Joe Biden.
(*Reuters)

