Paris, Komentarnews – Indonesia menggelar acara “Kartini Letters: A Spark in the Memory of the World” di Kantor Pusat UNESCO, Paris, untuk menegaskan kontribusi pemikiran Raden Ajeng Kartini bagi pendidikan dan kesetaraan gender secara global. Acara yang digelar pada Kamis (16/4/2026) ini dihadiri 100 delegasi yang mengapresiasi gagasan Kartini.
Duta Besar RI untuk UNESCO Mohammad Oemar menyampaikan bahwa Kartini merupakan sosok visioner yang menjadikan pendidikan sebagai fondasi pemberdayaan perempuan. “Kartini percaya bahwa pendidikan adalah fondasi emansipasi. Melalui pemikirannya, ia menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang keadilan sosial, tetapi juga kunci pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Dubes Oemar dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk UNESCO Monique Van Daalen menilai surat-surat Kartini mencerminkan pandangan maju tentang posisi perempuan dan pentingnya akses pendidikan bagi anak perempuan. Menurut van Daalen, isu tersebut tetap relevan hingga saat ini, termasuk di lingkup kerja UNESCO dalam mendorong kesetaraan gender dan akses pendidikan global.
Acara tersebut juga diisi dengan diskusi buku “The Most Beautiful Letters from Kartini” bersama Lara Nuberg dan Feba Sukmana, yang turut memperdalam pemahaman atas gagasan Kartini, termasuk kritik terhadap kolonialisme dan pembatasan terhadap perempuan.
Salah satu peserta acara, Chyna Bong A Jan, menyebut Kartini sebagai pelopor feminisme yang menginspirasi, terutama di tengah dinamika perjuangan hak perempuan saat ini.
Surat-surat Kartini telah masuk dalam Memory of the World Register UNESCO pada tahun 2025, menjadi tonggak penting pengakuan dunia terhadap warisan pemikiran intelektual Indonesia tentang kesetaraan, pendidikan, dan hak asasi manusia (HAM).
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa pengakuan UNESCO terhadap surat-surat Kartini adalah bukti bahwa pemikiran seorang perempuan dari pinggiran kolonial mampu menginspirasi dunia. “Ini bukan hanya warisan Indonesia, tetapi warisan dunia tentang perjuangan kesetaraan,” ujar Hilmar.
Melalui kegiatan ini, Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat pemberdayaan perempuan serta kontribusi pada upaya global mewujudkan kesetaraan gender.
(*Kemendikbudristek/ *ANT)

