Jakarta, KomentarNews – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang viral beberapa waktu lalu belum sepenuhnya mereda. Kini, giliran SMAN 1 Sambas yang merasakan dampak dari kontroversi tersebut.
Meskipun dinyatakan sebagai pemenang dan berhak mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional, para siswa dan guru SMAN 1 Sambas justru menjadi sasaran hujatan warganet di media sosial . Namun di tengah tekanan tersebut, sekolah memastikan tetap akan berangkat ke Jakarta.
Kepala SMAN 1 Sambas, Syafarudin, mengungkapkan kondisi yang dialami pihaknya sejak polemik ini mencuat. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk tetap melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional bukanlah perkara mudah.
“Komentar-komentar itu seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada kami untuk lanjut. Banyak akun pribadi guru dan siswa diserang terus,” kata Syafarudin, dikutip TribunJatim, Rabu (20/5/2026)Â .
Ia mengakui bahwa tekanan mental yang dialami para siswa dan guru cukup berat. Namun, mereka berusaha untuk tidak menanggapi berbagai komentar negatif di media sosial demi menjaga situasi tetap kondusif .
Syafarudin menegaskan bahwa keputusan untuk tetap berangkat bukan semata-mata demi kepentingan sekolah. Ada tanggung jawab besar yang harus dijaga sebagai wakil daerah.
“Kalau kami memikirkan diri sendiri, mungkin sejak awal piala itu sudah kami kembalikan. Tapi kami juga memikirkan marwah sekolah dan nama baik Kalimantan Barat,” ujarnya .
Ia berharap polemik yang terjadi tidak terus diperpanjang dan masyarakat dapat memberikan dukungan penuh kepada para siswa yang akan bertanding membawa nama Kalbar di kancah nasional.
“Kami berharap benar-benar dipersilakan berangkat dengan hati nurani yang tulus. Karena anak-anak ini membawa nama Kalbar,” tutur Syafarudin .
Sebelumnya, dalam pernyataan resmi yang dilansir Kompas.com, SMAN 1 Sambas mengungkapkan derita yang mereka alami pasca-polemik. Bukan hanya siswa yang menjadi korban, para guru pun ikut menerima dampaknya .
“Klub pendukung kami (fans club) dibubarkan paksa. Bapak/ibu guru kami di media sosial mendapatkan kata-kata kasar karena dituduh melakukan kecurangan,” tulis SMAN 1 Sambas dalam pernyataan sikapnya .
Mereka juga membantah keras tuduhan kecurangan, penyuapan, nepotisme, hingga dugaan “setting” kemenangan yang diarahkan kepada mereka .
Sebelumnya, MPR RI sempat mewacanakan untuk menggelar final ulang guna meredam polemik . Namun, setelah bermusyawarah dengan kedua pihak, akhirnya diputuskan bahwa final tidak akan diulang .
Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah kedua sekolah menolak bertanding ulang .
“Dan hari ini kita rapat, tadi dengan pimpinan MPR lengkap, memutuskan mengikuti apa yang sudah disampaikan dua sekolah ini,” kata Abraham .
Pertemuan yang berlangsung hangat antara SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas pada Selasa (19/5/2026) semakin mengukuhkan keputusan tersebut. Kedua sekolah sepakat mengakhiri polemik dan membangun kembali hubungan baik .
Dalam pertemuan yang sama, perwakilan tim LCC SMAN 1 Pontianak, Almira, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada SMAN 1 Sambas .
“Kami di sini sangat menyambut baik teman-teman dan bapak ibu dan kepala sekolah dari SMAN 1 Sambas. Kami dari SMAN 1 Pontianak tetap mendukung keberanian dan partisipasi teman-teman lanjut ke tingkat nasional,” ujar Almira .
Ia juga menegaskan kembali bahwa sejak awal mereka tidak pernah meminta hasil lomba dianulir, melainkan hanya meminta klarifikasi dari penyelenggara .
baca Juga:
(tribunjatim/kompas/pontianakpost/rri****)






