Pontianak, KomentarNews – Polemik penilaian Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat terus bergulir. Setelah MPR RI meminta maaf dan menonaktifkan dewan juri, kini kabar terbaru mengejutkan publik.
Keluarga siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra (Ocha), yang videonya viral usai memprotes keputusan juri, mengaku mendapat ancaman dari pihak tak dikenal. Dalam tangkapan layar yang dibagikan sang kakak di media sosial, terlihat pesan WhatsApp bernada ancaman .
“Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi,” demikian isi pesan ancaman tersebut .
Kakak Josepha juga mengungkapkan bahwa adiknya mengalami tekanan mental akibat viralnya video tersebut. Josepha bahkan disebut sampai sulit tidur dan kehilangan nafsu makan .
“Dia nanya ke aku, ‘kak, apa aku harus minta maaf? Katanya aku yang bikin gaduh’. Dan aku enggak tahu harus jawab apa,” tulis sang kakak dengan nada prihatin .
Di tengah polemik yang semakin memanas, muncul kabar baik. Ketua Komisi II DPR sekaligus anggota MPR, M. Rifqinizamy Karsayuda, yang juga merupakan alumni SMAN 1 Pontianak, menghubungi Josepha secara langsung .
Dalam video call yang diunggah di Instagram, Rifqi menyampaikan permohonan maaf atas nama MPR dan mengundang Josepha berkunjung ke Jakarta dengan difasilitasi MPR .
“Saya minta maaf ya Josepha kalau ada kesalahan dalam proses lomba cerdas cermat kemarin tingkat final di Pontianak Kalimantan Barat,” ujar Rifqi .
Ia menawarkan beasiswa kuliah gratis ke China setelah Josepha lulus SMA, plus jaminan pekerjaan dari perusahaan multinasional setelah lulus kuliah .
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian juga memuji keberanian Josepha. Ia menilai sikap kritis siswi kelas 11 itu tidak mudah di tengah tekanan kompetisi .
“Orang yang sifatnya sangat defensif dan tidak mau dievaluasi pasti akan menuai kontroversi. Sikap Ocha ini sejalan dengan tujuan pendidikan, menumbuhkan sikap kritis pada peserta didik,” ujar Hetifah dalam program BSU Beritasatu, Selasa (12/5/2026) .
Di media sosial, warganet justru membanjiri kolom klarifikasi MPR dengan komentar pedas. Istilah “artikulasi” yang digunakan juri Indri Wahyuni menjadi bahan olok-olokan .
“Artikulasi = Arti Kekuatan Uang dan Relasi,” sindir akun @sungkai_yama .
“Jurinya suruh klarifikasi langsung woi, pakai artikulasi yang jelas!!!” balas akun @arieeesnt_ .
Sebelumnya, MPR RI melalui Sekretariat Jenderal menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dewan juri yang menyebabkan polemik. Dewan Juri dan MC juga dinonaktifkan .
“MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis pelaksanaan lomba, termasuk mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, dan tata kelola keberatan dalam perlombaan,” tulis MPR dalam pernyataan resminya .
Pembawa acara (MC) lomba, Shindy Lutfiana, sudah menyampaikan permohonan maaf melalui media sosial. Ia mengaku menyesal dengan ucapannya yang sempat merespons protes siswa dengan kalimat “mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja” .
“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya,” ujar Shindy .
Namun, hingga berita ini diturunkan, dewan juri yang menjadi pusat kontroversi, yakni Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni, belum memberikan klarifikasi maupun permintaan maaf secara terbuka .
Josepha dijadwalkan terbang ke Jakarta pada Rabu (13/5/2026) untuk bertemu dengan pimpinan MPR . Ia akan didampingi kepala sekolah dan pembimbing.
Tawaran beasiswa ke China, yang kabarnya ditanggapi positif Josepha dan keluarganya, menjadi babak baru di tengah kontroversi penilaian LCC yang merugikannya .
(beritasatu/detik/kompas/rmol/tvone)



