Seoul, KomentarNews – Samsung Electronics mencatat lonjakan laba operasional delapan kali lipat hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada kuartal I 2026. Pencapaian spektakuler ini didorong oleh meroketnya harga dan permintaan chip memori di tengah booming kecerdasan buatan (AI) global.
Raksasa teknologi Korea Selatan itu melaporkan laba operasional sekitar 57,2 triliun won (setara Rp 685 triliun), naik tajam dari 6,7 triliun won pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus melampaui ekspektasi analis yang dipantau oleh LSEG.
Unit bisnis semikonduktor yang menjadi mesin kas utama perusahaan menyumbang sekitar 94 persen dari total laba kuartalan tersebut, dengan laba unit chip melonjak ke rekor sekitar 53,7 triliun won.
Samsung menyebut, investasi agresif perusahaan teknologi global dalam infrastruktur AI—mulai dari pusat data hingga layanan komputasi awan—telah menciptakan kelangkaan pasokan chip memori dan mendorong kenaikan harga yang tajam.
“Permintaan untuk memory chip berkapasitas tinggi yang mendukung aplikasi AI terus menunjukkan tren yang sangat kuat,” demikian pernyataan perusahaan yang dikutip oleh Reuters.
Samsung memperkirakan kinerja akan tetap solid pada kuartal kedua, seiring berlanjutnya ekspansi investasi di infrastruktur AI yang diperkirakan kembali mengerek harga chip memori.
Di sisi pendapatan, Samsung mencatat penjualan sekitar 133–133,9 triliun won (naik sekitar 68–69 persen dibandingkan tahun sebelumnya), sejalan atau sedikit di atas proyeksi pasar.
Lonjakan ini menegaskan pergeseran profil bisnis Samsung yang semakin bergantung pada “siklus super” AI memory chips. Di tengah kinerja yang relatif lebih lemah di segmen smartphone, display, dan foundry, para analis mengingatkan bahwa reli laba spektakuler ini juga membawa risiko.
Jika siklus super AI memudar lebih cepat dari perkiraan, atau ketegangan geopolitik kembali mengganggu rantai pasok semikonduktor, maka eksposur Samsung terhadap fluktuasi harga chip bisa menjadi bumerang.
Meski begitu, untuk saat ini Samsung dipandang sebagai salah satu pemenang utama gelombang investasi AI global. Dengan neraca keuangan yang menguat dan ruang lebih lapang untuk ekspansi kapasitas, perusahaan diprediksi akan terus mengembangkan teknologi memori generasi berikutnya.
Kepala Riset di Daishin Securities, Lee Su-bin, mengatakan bahwa pasar saat ini sedang dalam “euforia harga” yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Ini adalah kemenangan bagi mereka yang berani bertaruh pada AI. Samsung memanen hasil dari investasi jangka panjang pada teknologi HBM (High Bandwidth Memory) yang menjadi ‘makanan’ utama bagi pelatihan AI,” jelas Lee .
(Samsung Electronics, Reuters, Bloomberg, LSEG Data & Analytics)


