Sydney, Komentarnews – Otoritas Jasa Keuangan Australia (Australian Prudential Regulation Authority/APRA) memperingatkan bahwa banyak lembaga keuangan di negara itu masih belum punya kemampuan teknis memadai untuk menantang dan mengelola risiko terkait kecerdasan buatan (AI), terutama model frontier AI generasi terbaru. Dalam surat kepada industri keuangan yang dirilis Kamis, APRA menyerukan penguatan prosedur manajemen risiko AI dan menegaskan bahwa kecepatan perkembangan teknologi ini bisa menjadi ancaman yang kian besar bagi stabilitas sektor jasa keuangan Australia.
APRA menyebut hasil tinjauan pengawasan tahun lalu menunjukkan praktik keamanan informasi banyak institusi tertinggal dari laju adopsi AI. “APRA will continue and monitor the use of AI to assess potential prudential risks and consider whether further APRA policy action may be needed,” demikian pernyataan regulator, seraya menegaskan perlunya bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun meninjau kembali kerangka tata kelola risiko teknologi mereka.
Regulator secara khusus menyoroti model frontier AI seperti Claude Mythos buatan Anthropic, yang dinilai dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mempercepat identifikasi kerentanan dan merancang serangan siber berskala besar. APRA memperingatkan, kemampuan model semacam itu berpotensi meningkatkan “probability, speed and scale of cyber attacks” terhadap lembaga keuangan, jika tidak diimbangi kontrol keamanan dan tata kelola yang kuat.
Peringatan APRA datang beberapa bulan setelah pemerintah federal meluncurkan peta jalan AI nasional yang mengandalkan kerangka regulasi yang sudah ada, sambil membentuk AI Safety Institute pada 2026 untuk membantu memantau risiko lintas sektor. Dalam kerangka tersebut, regulator sektor seperti APRA dan Komisi Sekuritas dan Investasi Australia (ASIC) tetap memegang tanggung jawab utama dalam mendeteksi dan mengelola potensi dampak negatif AI di wilayah pengawasan masing-masing.
ASIC sendiri sebelumnya telah memasukkan “technology-driven consumer harm” dan risiko dari keputusan otomatis berbasis AI sebagai salah satu dari sepuluh risiko sistemik yang dihadapi sektor keuangan Australia. Lembaga itu menyoroti kekhawatiran terhadap “agentic AI” yang mampu merencanakan dan bertindak semi-otonom, serta lonjakan penipuan (scams) yang diperkuat teknologi, sehingga mendorong kebutuhan akan tata kelola AI yang lebih matang di lembaga jasa keuangan.
APRA menyatakan tengah memfinalisasi rencana pengawasan ke depan terkait risiko AI, termasuk memperluas review praktik manajemen risiko di sejumlah institusi besar. Meski belum merencanakan regulasi baru yang spesifik untuk AI, otoritas menegaskan akan “keeping a close eye on developments” dan membuka kemungkinan tindakan kebijakan tambahan jika diperlukan untuk melindungi masyarakat dan stabilitas sistem keuangan.
(Reuters/The Star/APRA/ASIC)


