Jakarta, Komentarnews – Dua sistem kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru resmi diperkenalkan ke publik melalui jurnal bergengsi Nature pada Selasa (19/5/2026). Sistem yang dikembangkan oleh Google DeepMind dan perusahaan rintisan nirlaba FutureHouse ini diklaim mampu membantu ilmuwan dalam seluruh proses penelitian ilmiah, mulai dari merumuskan hipotesis hingga merancang eksperimen di laboratorium.
Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk mempercepat penemuan ilmiah, bukan untuk menggantikan peran ilmuwan manusia .
Juraj Gottweis, salah satu peneliti utama di balik pengembangan sistem Co-Scientist di Google DeepMind, menjelaskan bahwa inspirasi utama sistem ini adalah untuk mengatasi banjirnya informasi ilmiah yang tidak mungkin diikuti oleh manusia.
“The idea for the AI co-scientist came from the fact that science is advancing so fast that no single human can keep up with the literature anymore. We wanted to create a system that can help scientists by reading everything and then proposing novel hypotheses.“
(Inspirasi untuk ilmuwan AI rekanan berasal dari fakta bahwa sains berkembang begitu cepat sehingga tidak ada satu manusia pun yang dapat mengikuti literatur. Kami ingin menciptakan sistem yang dapat membantu ilmuwan dengan membaca semuanya dan kemudian mengusulkan hipotesis baru.)
Gottweis menambahkan bahwa sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan intuisi atau kreativitas manusia.
“It’s not about replacing the scientist, it’s about augmenting their creativity and massively accelerating the cycle of discovery. We see the AI co-scientist as a powerful tool to help experts do their best work.“
(Ini bukan tentang menggantikan ilmuwan, tetapi tentang meningkatkan kreativitas mereka dan mempercepat siklus penemuan secara besar-besaran. Kami melihat AI co-scientist sebagai alat yang ampuh untuk membantu para ahli melakukan pekerjaan terbaik mereka.)
Sementara itu, Sam Rodriques, pendiri FutureHouse, mengungkapkan kekagumannya terhadap kecepatan sistem buatannya.
“We found that the AI could review 551 papers in about half an hour. If you tried to hire a grad student to do that, it would be months of work. This is a paradigm shift.“
*(Kami menemukan bahwa AI dapat meninjau 551 makalah dalam waktu sekitar setengah jam. Jika Anda mencoba menyewa seorang mahasiswa pascasarjana untuk melakukan itu, itu akan memakan waktu berbulan-bulan. Ini adalah pergeseran paradigma.)*
Rodriques juga menekankan bahwa meskipun AI sangat kuat dalam membaca dan merangkum, kekuatan utama tetap berada di tangan ilmuwan manusia yang memegang kendali atas eksperimen.
“The AI can crunch the data and read the papers, but it still takes a human scientist to set the right question and to look at the AI’s suggestion and say, ‘Yes, that makes sense, let’s test it in the lab.’“
(AI dapat memproses data dan membaca makalah, tetapi tetap membutuhkan ilmuwan manusia untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan melihat saran AI lalu berkata, ‘Ya, itu masuk akal, mari kita uji di laboratorium.’)
Co-Scientist adalah sistem multi-agen yang dibangun di atas model Gemini 2.0 Google. Sistem ini menjalankan beberapa “kecerdasan” khusus secara paralel yang saling berdebat untuk menghasilkan kualitas hipotesis terbaik.
Para peneliti di Google DeepMind berkolaborasi dengan Profesor Gary Peltz dari Stanford untuk mencari pengobatan fibrosis hati. Co-Scientist berhasil memberikan saran untuk menggunakan obat yang sudah ada yang selama ini terlewatkan oleh para ilmuwan. Ketika diuji di laboratorium, salah satu kandidat obat tersebut berhasil memblokir respons jaringan parut di hati hingga 91 persen .
Profesor Peltz memuji sistem ini, “It felt like a collaborator who had read everything that’s known about biomedical science.”
Sementara Co-Scientist lebih general, sistem bernama Robin yang dikembangkan oleh FutureHouse dirancang khusus untuk membantu peneliti biologi . Keunggulan utama Robin adalah ia juga memiliki alat yang disebut Finch yang mampu secara otomatis menganalisis data mentah dari eksperimen lab.
Kedua studi ini memberikan pelajaran penting tentang risiko AI yang “halusinasi”. FutureHouse menemukan bahwa ketika mereka mengganti agen pembaca jurnal mereka dengan model AI tujuan umum (seperti OpenAI o4-mini) tanpa akses ke database sains yang ketat, tingkat kutipan yang salah melonjak drastis hingga 45 persen. Ini membuktikan bahwa AI yang tidak terkontrol bisa saja mengarang jurnal ilmiah fiktif .
(googleblog/cenmag/nature)






