Jakarta, KomentarNews – Tren wisata kuliner di China kini tengah meledak. Fenomena yang disebut “Reverse City Eat” atau “wisata kuliran terbalik” telah merubah kebiasaan para pelancong. Tak lagi berbondong-bondong ke kota metropolitan, para pecinta kuliner kini memilih untuk menjelajahi kota-kota kecil (second-tier) hanya untuk menikmati satu hidangan legendaris .
Rambam Domba di Shanghai Viral di TikTok
Di tengah hingar-bingar Shanghai, sebuah kedai matcha sederhana bernama Matcha Wang di Jalan Huaihai berhasil mencuri perhatian global. Ramainya bukan karena tempatnya yang mewah, melainkan karena “Rambam Domba” di atas gelas minuman .
Kedai matcha ini viral setelah seorang blogger asing mengunggah video “domba kecil” yang digambar tangan di atas busa minuman. Aksi “menggemburkan” domba tersebut dalam satu tegukan disebut-sebut sebagai “Perencanaan Pembunuhan Domba” (Sheep Killing Plan), yang sontak menjadi sensasi di TikTok dan Instagram .
Antrean panjang hingga 40 menit bahkan satu jam pun tak terelakkan, terutama oleh wisatawan asing yang memanfaatkan kebijakan bebas visa China. “Rasanya enak, krimnya lembut, matchanya terasa, dan tidak terlalu manis,” ujar Natasha Manji, turis asal Kanada, kepada China Daily .
“Kematian Satu Wilayah” demi Semangkuk Nasi Iga?
Sebuah video dari blogger kuliner terkenal Liu Yuxin yang memiliki jutaan pengikut telah mengubah nasib sebuah kedai di Gangkou Town, Zhongshan, Provinsi Guangdong. Kedai “Hong Thang” yang sudah berusia 30 tahun ini tiba-tiba kebanjiran pembeli setelah videonya viral .
Pemilik kedai, Hoang Thieu Hoan, mengaku kewalahan. Jumlah pelanggan meningkat drastis, bahkan banyak yang datang dari kota tetangga hanya untuk mencicipi Nasi Iga Babi .
Karena “kewalahan”, fenomena ini menarik perhatian pemerintah setempat. Bukannya tutup, pemerintah daerah justru turun tangan. Mereka menyediakan lebih dari 700 tempat parkir gratis di perkantoran pemerintah, mengerahkan 20 relawan untuk membantu memasak dan mengatur antrean, serta menyediakan peralatan masak tambahan .
“Saya merasa lebih lelah, tetapi saya bahagia,” ujar Hoang Thieu Hoan sambil tersenyum, dikutip Vietnam.vn .
“Reverse City Eat”: Tren Kuliner di Kota-Kota Kecil
Menurut laporan Beijing News, pada Libur Hari Buruh (1-5 Mei) lalu, data dari daftar “Eat List” menunjukkan bahwa kota-kota kecil seperti Ya’an, Jinzhou, Dandong, dan Shantou menjadi primadona baru. Kunjungan dari wisatawan antar kota di 100 kota kecil tersebut meningkat drastis .
Fenomena “Reverse City Eat” ini didukung oleh jaringan kereta api cepat. Dengan waktu tempuh 1-2 jam dari kota besar, para pekerja kantoran bisa melakukan “makan- minggat” (Micro-vacation) selama 48 jam ke kota tetangga .
“Makanan yang paling enak seringkali tersembunyi di tempat yang paling tidak terlihat,” tulis Beijing Youth Daily dalam analisisnya tentang pergeseran pariwisata ini .
Festival Kuliner di Taizhou Berlangsung Meriah
Tak hanya pencarian kuliner tersembunyi, festival kuliner juga menjadi magnet wisata. Fifth China Taizhou Premium Food Week yang baru saja berakhir di Provinsi Zhejiang menarik lebih dari 670.000 pengunjung. Acara yang berlangsung selama libur panjang tersebut menghasilkan omset lebih dari 14 juta Yuan (sekitar Rp31 miliar) .
Lebih dari 140 stan restoran dan kedai lokal, termasuk yang dibintangi Michelin, turut memeriahkan acara.
(chinadaily/xinhua/beijingnews)



