Stuttgart, Komentarnews – Pabrikan mobil mewah asal Jerman, Porsche AG, mengumumkan langkah mengejutkan. Perusahaan akan memangkas lebih dari 500 pekerjaan sebagai bagian dari strategi penajaman fokus pada bisnis inti.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan ekonomi global dan masa transisi otomotif yang tengah berlangsung.
Langkah ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari program efisiensi yang lebih luas. Sebelumnya, Porsche sudah merencanakan pengurangan hingga 3.900 posisi hingga tahun 2029 untuk meningkatkan daya saing.
Pemotongan baru yang mencapai lebih dari 500 orang ini menargetkan area-area non-inti perusahaan, termasuk divestasi saham di Bugatti Rimac. Tujuannya jelas: mengoptimalkan alokasi sumber daya di tengah penurunan permintaan dari China dan membengkaknya biaya elektrifikasi.
CEO Porsche, Michael Leiters, menegaskan bahwa perusahaan saat ini memegang prinsip “Value over Volume” . Artinya, Porsche lebih mengutamakan margin keuntungan yang tinggi pada model-model ikonik ketimbang mengejar volume penjualan sebanyak-banyaknya.
Model-model yang dimaksud seperti 911 dan Cayenne Electric.
“Kami merampingkan struktur untuk arus kas berkelanjutan,” kata Leiters dalam pernyataan resmi perusahaan, Jumat (8/5/2026).
Langkah efisiensi ini diharapkan dapat menstabilkan margin keuntungan Porsche yang sempat terpuruk. Pada tahun lalu, margin Porsche turun menjadi hanya 1,1 persen. Angka ini jauh merosot dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di level 14,1 persen.
Pemotongan pekerjaan dilakukan secara bertanggung jawab. Porsche mengaku akan mengupayakan skema pensiun dini dan program pelatihan ulang agar proses PHK tidak mengganggu jalannya produksi.
Langkah Porsche ini mencerminkan tren industri otomotif global saat ini. Merek-merek premium sekelas Porsche pun terpaksa menyesuaikan diri dengan realitas baru: perlambatan penjualan mobil listrik (EV) dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang membebani.
(porscheag/reuters)



