Jakarta, Komentarnews – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) di akhir pekan ini benar-benar terpangkas habis. IHSG ditutup ambruk 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026).
Koreksi ini cukup dalam. Bahkan, level psikologis 7.000 yang baru saja ditembus kemarin harus jebol lagi hari ini.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan bahwa pelemahan IHSG sejalan dengan bursa global dan kawasan Asia yang sedang tertekan. Ada dua faktor utama yang menjadi biang kerok.
Faktor pertama datang dari eksternal. Perundingan damai antara AS dan Iran masih jalan di tempat. Belum ada titik terang yang bisa bikin pasar tenang.
“Ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi, di mana hal ini disebabkan oleh perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya, dan kalau dilihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali melemah,” ujar Herditya di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Sepanjang hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang menunjukkan pelemahan. Investor pun cenderung wait and saw.
Herditya menambahkan, secara teknikal IHSG masih punya potensi melanjutkan tren pelemahan hingga pekan depan.
Faktor kedua datang dari dalam negeri dan ini yang paling menyakitkan sektor tambang. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas mineral utama.
“Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga guna mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas naik,” kata Herditya.
Artinya, jika harga komoditas naik, tarif royalti yang harus dibayar perusahaan tambang ikut meningkat. Dan ini langsung bikin investor kabur dari saham-saham tambang.
Rincian usulan kenaikan royalti:
| Komoditas | Royalti Lama | Royalti Usulan Baru |
|---|---|---|
| Konsentrat tembaga | 7-10% (flat) | 9-13% |
| Katoda tembaga | 4-7% | 7-10% |
| Emas | 7-16% | 14-20% |
| Perak | 5% (flat) | 5-8% (progresif) |
| Timah | 3-10% | 5-20% (progresif) |
| Bijih nikel | 14-19% | Tarif tetap, interval harga disesuaikan |
Dampak usulan ini langsung terlihat nyata. Sektor bahan baku komoditas (IDXBASIC) anjlok paling parah, yakni 7,80 persen.
Sektor energi (IDXENERGY) juga ikut terpangkas 4,59 persen, sementara sektor transportasi (IDXTRANS) ambruk 5,72 persen.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 607 saham ditutup di zona merah. Hanya 138 saham yang menguat, sisanya 214 saham stagnan.
Meski IHSG ambruk, volume transaksi hari ini tercatat cukup besar. Sebanyak 54,39 miliar saham berpindah tangan melalui 2,8 juta kali transaksi.
Nilai transaksi mencapai Rp36,07 triliun, sementara kapitalisasi pasar BEI masih bertahan di Rp12.405 triliun.
(antara/mncsekuritas/cnbc)



