Islamabad/Washington/Tel Aviv, KomentarNews – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan mengejutkan. Ia mengklaim perang dengan Iran akan segera berakhir, di tengah kabar bahwa Teheran sedang mempertimbangkan proposal perdamaian dari AS.
Sejumlah sumber yang mengetahui proses mediasi mengatakan bahwa kesepakatan sudah nyaris tercapai. Bentuknya berupa dokumen satu halaman yang secara resmi akan mengakhiri konflik.
Namun, dokumen tersebut disebut masih meninggalkan sejumlah tuntutan utama AS yang belum terselesaikan. Di antaranya soal program nuklir Iran dan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Trump memang terus berulang kali memprediksi kesepakatan damai akan segera terwujud. Tapi hingga kini, prediksi itu belum jadi kenyataan.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Kami sudah bicara sangat baik dalam 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kita bakal mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Rabu (6/5/2026).
Ia pun menambahkan dengan nada percaya diri, “Ini bakal selesai dengan cepat.”
Iran: Proposal AS cuma “daftar keinginan”
Di kubu seberang, respons Iran cenderung dingin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran akan menyampaikan tanggapannya.
Namun, anggota parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut proposal AS itu “lebih mirip daftar keinginan Amerika daripada kenyataan.”
Bahkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dengan terang-terangan mengejek kabar bahwa kedua pihak sudah hampir mencapai kesepakatan. Di akun media sosialnya, ia menulis dalam bahasa Inggris:
“Operation Trust Me Bro failed.”
Qalibaf menilai kabar tersebut tidak lebih dari upaya AS untuk membalikkan citra setelah gagal membuka blokade di Selat Hormuz.
Meski respons Iran dingin, pasar global bereaksi cepat. Kabar potensi gencatan senjata bikin harga minyak dunia jatuh ke level terendah dalam dua pekan terakhir.
Minyak Brent sempat ambrol sekitar 11 persen ke posisi 98 dolar AS per barel. Kemudian sedikit pulih ke atas 100 dolar AS per barel.
Sebaliknya, harga saham global justru melonjak dan imbal hasil obligasi turun. Investor optimistis perang yang sudah mengacaukan pasokan energi ini bakal segera berakhir.
Sebuah lembaga manajemen investasi asal Jepang, GCI Asset Management, menyebut ekspektasi pasar saat ini adalah tidak akan ada lagi aksi militer lanjutan.
“Memang isi proposal damai AS-Iran masih tipis. Tapi setidaknya pasar punya harapan bahwa perang tak akan meluas,” ujar Takamasa Ikeda, manajer portofolio senior di GCI Asset Management.
Cerita menarik datang dari Arab Saudi. Trump ternyata sempat menghentikan sementara misi angkatan laut AS untuk membuka blokade Selat Hormuz. Penghentian ini terjadi hanya dua hari setelah misi dimulai.
Laporan NBC News mengungkap penyebabnya: Saudi Arabia melarang AS menggunakan pangkalan militernya untuk operasi tersebut.
Dua pejabat AS yang tak mau disebut namanya mengatakan bahwa Arab Saudi kaget dan marah dengan langkah Trump. Mereka kemudian memberi tahu Washington bahwa AS tidak diizinkan menerbangkan pesawat militer dari pangkalan Saudi atau melintasi wilayah udara mereka. Gedung Putih belum memberikan respons resmi atas laporan ini.
Meski ada upaya damai, ketegangan di laut masih berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya menembaki sebuah kapal tanker Iran yang tidak bermuatan pada Rabu (6/5/2026). Kapal tersebut dilumpuhkan saat mencoba berlayar ke pelabuhan Iran, yang dianggap melanggar blokade AS.
Para sumber yang mengetahui proses mediasi menyebut negosiasi dari pihak AS dipimpin oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu laki-lakinya, Jared Kushner.
Jika kedua pihak setuju dengan kesepakatan awal, maka akan ada waktu 30 hari untuk negosiasi lebih detail mencapai kesepakatan penuh.
Namun yang menarik, sejumlah tuntutan utama AS di masa lalu tidak disebut dalam draf awal ini. Misalnya soal pembatasan program rudal Iran dan penghentian dukungan Iran ke milisi proksi di Timur Tengah.
Termasuk juga soal stok uranium Iran yang saat ini sudah lebih dari 400 kilogram, dengan tingkat kemurnian yang nyaris setara bahan baku senjata nuklir.
(reuters/isna/nbc/gciassetmanagement***)



