Washington D.C. KomentarNews – Jumlah distrik elektoral anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang benar-benar kompetitif dalam pemilu paruh waktu musim gugur ini sudah mencapai titik terendah dalam sejarah, bahkan sebelum Mahkamah Agung AS mengeluarkan keputusan kontroversial pada Rabu yang membuka pintu bagi upaya yang lebih agresif untuk menggaris batas distrik demi keuntungan politik.
Kurangnya persaingan ini berarti bahwa kontrol DPR AS pada pemilu November nanti kemungkinan besar akan ditentukan oleh kurang dari 10 persen orang Amerika. Pemenang di sebagian besar distrik (lebih dari 85 persen kursi) sudah hampir pasti ditentukan bahkan sebelum satu pun surat suara diberikan.
Analisis Reuters mengungkapkan, saat ini hanya 32 dari 435 kursi DPR yang dianggap kompetitif. Distrik-distrik tersebut dinilai sebagai toss-up (imbang) atau condong ke Demokrat atau Republik oleh tiga lembaga pemantau independen: Cook Political Report, Crystal Ball Universitas Virginia, dan Inside Elections.
Sementara itu, 375 kursi (lebih dari 85 persen) dinilai oleh Cook sebagai “Solid Republican” atau “Solid Democrat”, artinya para analis tidak mengharapkan adanya persaingan serius. 28 kursi lainnya dinilai “likely” (kemungkinan besar) untuk Republik atau Demokrat, yang berarti saat ini tidak kompetitif tetapi mungkin berubah dalam kondisi baru.
Tahun ini mencatatkan jumlah kursi DPR yang kompetitif paling sedikit pada tahap siklus pemilu ini setidaknya sejak 2008.
Demokrat hanya perlu meraih tiga kursi tambahan untuk memenangkan mayoritas di DPR, memberi mereka kekuasaan untuk memblokir agenda legislatif Presiden Donald Trump dan meluncurkan investigasi ke pemerintahannya.
Menyusutnya medan pertempuran DPR adalah hasil dari beberapa faktor, termasuk polarisasi politik yang meningkat. Namun, Senjata utama di balik fenomena ini adalah “Gerrymandering” , yaitu praktik manipulasi batas distrik untuk menguntungkan partai tertentu. Menurut para ahli, praktik ini semakin menjadi-jadi sejak tahun lalu, ketika Trump mulai mendorong Partai Republik untuk menggambar peta baru.
Keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini, yang pada dasarnya melubangi ketentuan Undang-Undang Hak Pilih (Voting Rights Act), semakin memperparah situasi. Keputusan ini membuka jalan bagi negara bagian yang dipimpin Republik untuk menargetkan selusin atau lebih kursi yang dikuasai Demokrat dengan mayoritas pemilih kulit hitam dan Latin yang sebelumnya menikmati perlindungan lebih kuat.
Justin Levitt, seorang profesor di Loyola Law School, menggambarkan situasi saat ini sebagai “perang gerrymandering”. “Apa yang dulunya perang dingin sekarang menjadi sangat panas,” ujarnya. “Saya pikir ini akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Dan saya pikir masih ada banyak ruang untuk menjadi lebih buruk.”
Kurangnya distrik yang kompetitif memiliki konsekuensi serius bagi Kongres. Jika kandidat DPR hanya perlu menarik basis pemilih mereka untuk menang, mereka cenderung bergerak ke arah ekstrem, bukan ke tengah. Akibatnya, Kongres menjadi lebih tidak produktif dan penuh perselisihan.
“Jika Anda melihat Kongres 20 atau 30 tahun yang lalu, Anda melihat Kongres yang tidak hanya kurang sengit tetapi juga lebih produktif,” kata Matthew Klein, analis DPR dari Cook. “Dulu ada RUU yang disahkan dengan mayoritas besar tentang isu-isu besar. Kita tidak benar-benar melihat itu lagi.”
Gerrymandering bukan satu-satunya penyebab. Pemilih di AS menjadi semakin terpolarisasi secara geografis (daerah pedesaan cenderung konservatif, daerah pinggiran kota cenderung liberal) dan secara perilaku (split-ticket voting di mana pemilih memilih kandidat dari partai yang berbeda untuk jabatan yang berbeda, yang dulu cukup umum, kini sudah sangat langka).
Pada tahun 2000, ada 86 anggota DPR yang terpilih dari distrik yang memilih calon presiden dari partai lawan. Pada tahun 2024, angka itu turun drastis menjadi hanya 16.
“Jika tidak ada pagar pembatas, maka tidak ada pagar pembatas,” kata Levitt. “Saya pikir kendalanya sekarang adalah politik-akal sehat dan imajinasi, bukan ‘Kami tidak melakukan itu’.”
(Reuters, Cook Political Report, University of Virginia’s Crystal Ball, Inside Elections, All About Redistricting)



