SITARO, KOMENTAR NEWS Krisis BBM di pulau Tagulandang, nampaknya masih potensi berlanjut, pasalnya apa yang jadi persoalan utama dalam mekanisme penyaluran, nampaknya belum bisa benar-benar diselesaikan oleh para pengambil kebijakan.
Bahkan, mirisnya lagi, praktek penyelewengan BBM bersubsidi nyata-nyata terjadi di depan mata, namun terkesan tak terpantau oleh aparat penegak hukum.
Tak heran jika kemudian warga mulai mempertanyakan keseriusan Kapolres SITARO dalam memberantas praktek yang jelas-jelas berlawanan dengan hukum ini.
“Kemarin Kasat (Reskrim) bilang mau tangkap oknum-oknum yang main-main dengan BBM, tapi kenyataannya praktek liter miring, penyaluran ke para penadah, justru seperti tutup mata. Ada apa dengan Kasat?” sorot warga.
Hasil investigasi wartawan media ini juga ikut memperkuat dugaan adanya kongkalikong di APMS Tagulandang.
Di mana fakta di lapangan memperlihatkan praktek penimbunan terjadi di depan mata.
Ini diperkuat dengan penggalan video yang memperlihatkan beberapa mobil diduga milik penadah yang mengangkut ribuan liter BBM jenis Pertalite dari APMS yang dikelola PT Karya Maranatha Abadi.
Temuan ini menjadi ironis karena dalam kurang lebih dua bulan terakhir, masyarakat Tagulandang justru mengeluhkan sulitnya mendapatkan Pertalite.
Kalaupun tersedia, warga menyebut harganya melonjak, yang diduga kuat tidak lepas dari peran para Penadah.
“Kami dibatasi hanya boleh beli lima hingga sepuluh liter, itu pun takarannya tak sesuai dengan yang kami bayar. Lantas kenapa ada yang boleh bawa keluar dengan mobil sampai berton-ton? Apa gunanya ada polisi berjaga di sana?” kecam salah seorang ASN yang ditemui di lokasi antrean.
Kecaman serupa juga disuarakan oleh beberapa warga yang mengaku sebagai nelayan.
“Apa bedanya uang kami dan pengusaha? Kalau BBM kami dibatasi, kemudian kami melaut dan kehabisan BBM di tengah laut, apa yang harus kami lakukan? Cuaca sekarang juga sedang tidak baik. Ini menyangkut keselamatan kami,” keluh mereka.
Bahkan, tak kalah miris adalah mencuat kabar jika BBM yang diduga dijual kepada para pengusaha itu, dipatok dengan harga sekitar Rp12 ribu per liter atau bahkan lebih.
Diketahui, sebelumnya Kasat Reskrim Polres SITARO, Iptu Teddy R. Mandagi, SH, menyatakan akan menindak keras segala bentuk penyelewengan BBM. Kini, pernyataan tersebut diuji oleh fakta lapangan, masyarakat tentu menunggu tindakan tegas.
Ditemui terpisah, Kapolsek Tagulandang, Iptu Rexy Misa, ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp mengenai pengawasan distribusi BBM, mengatakan, belum berkomentar lebih.
“Anda sudah melihat sendiri selama beberapa trip terakhir ini, siapa yang turun dan mengawasi langsung penyalurannya,” ujarnya singkat.
Perlu diketahui, persoalan BBM di Tagulandang kerap didominasi oleh harga yang tak wajar, di mana di tingkat pengecer sering menyentuh angka Rp25 ribu atau bahkan lebih. (gus)