MINUT, KOMENTAR NEWS Predikat sebagai salah satu wilayah lamban pembangunan nampak mulai terkikis di desa Paputungan Likupang Barat (Likbar), Minahasa Utara (Minut).
Hal ini seiring dengan hadirnya salah satu spot foto berlatar belakang sunset yang diberi label ‘Sunset Bay Paputungan’.
Menariknya, perubahan nyata ini ternyata merupakan buah tangan dari kelompok swadaya masyarakat. Hal ini sebagaimana diungkapkan salah satu penggagas kelompok swadaya masyarakat, Richard Mukau.
“Kalau mau tunggu Dana Desa, kapan akan dibangun serta kapan selesainya? Berkaca dari pengalaman-pengalaman yang sudah lewat, maka dari itu langkah terbaik adalah kita bikin kebijakan swadaya,” kata Mukau, Senin (21/9/2026).
Ditegaskannya lagi, tidak ada motif lain di balik dibangunnya Sunset Bay Paputungan yang menggunakan metode swadaya.
Sebaliknya, ia mengatakan jika kebijakan ini lahir dari spontanitas putra-putri daerah yang terpanggil untuk membangun tanah kelahiran.
“Kita sudah coba bangun komunikasi dengan pemerintah, sehubungan dengan panggilan untuk membenahi kampung halaman, namun sepertinya itu masih sulit terwujud. Demikian juga dengan investor, masih belum ada titik temu, padahal selama ini kita sudah berupaya buat pendekatan. Maka tentunya, langkah selanjutnya ialah dengan menggalang swadaya,” sebut pria yang hingga kini masih dalam perantauan ini.
“Kita punya potensi, sekarang tinggal siapa yang terpanggil untuk maksimalkan potensi itu,” sambungnya.
Sehubungan dengan kebijakan swadaya, ia mengaku sebelumnya telah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah maupun pihak investor yang berada di wilayah desa, termasuk pihak Hotel Marriott.
“Ke investor sudah pernah kami buat permohonan melalui Pemdes untuk bantuan material, tetapi sampai sekarang belum ada jawaban,” bebernya.
Menariknya, selain persoalan dukungan terhadap pengembangan wisata, ia turut menyoroti kondisi jalan masuk Desa Paputungan, diduga kuat belum tersentuh perbaikan.
“Apa mereka (Investor) tidak malu di mana di sisi luar hotel berbintang ada yang terkebelakang pembangunannya,” sindirnya.
“Harapan kami, jangan masyarakat terus yang bergerak sendiri. Kalau Paputungan mau dijadikan desa wisata, tentunya harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat dan investor,” kuncinya.
Sekadar diketahui, selain spot foto, ada beberapa rencana pembangunan swadaya telah disiapkan, di antaranya pemecah ombak di depan Pantai Kelapa Lima, lampu penerangan jalan, serta empat unit gazebo untuk pelaku UMKM.
“Gazebo ini nantinya diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat untuk menjual berbagai makanan, jajanan dan produk lokal kepada pengunjung. Dan tentu target marketnya adalah kawasan hotel dan para karyawan yang tinggal,” urainya.
“Kalau ada fasilitas dan tempat yang baik, masyarakat bisa berjualan. Produk lokal bisa dipasarkan dan ekonomi warga bisa ikut bergerak,” tambahnya sembari berharap bumi Klanat tidak hanya berbicara mengenai pengembangan pariwisata, tetapi juga memberikan perhatian nyata kepada desa-desa yang memiliki potensi wisata.
“Begitu pula dengan investor yang beraktivitas di wilayah Paputungan. Kita berharap keberadaan investasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan fasilitas publik,” serunya.
Sunset Bay kini menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Paputungan tidak tinggal diam. Dengan kemampuan yang terbatas, warga mulai membangun sendiri destinasi wisata yang mereka harapkan dapat menjadi kebanggaan desa.
“Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus membangun sendiri, sementara potensi Paputungan begitu besar untuk ikut menopang pariwisata di Minahasa Utara?” kuncinya. (ein)






