Jakarta, KomentarNews – Penampilan Justin Bieber sebagai kepala panggung (headliner) Coachella Valley Music and Arts Festival 2026 pada Sabtu (11/4) berhasil memicu lonjakan rekor streaming, namun juga menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Dengan bayaran mencapai 10 juta dolar AS, penampilan Bieber yang minim produksi dan cenderung santai ini memecah opini publik dan memicu perdebatan sengit di media sosial .
Kritik utama dilontarkan oleh penonton yang merasa kecewa karena ekspektasi tinggi terhadap panggung festival bergengsi tersebut tidak terpenuhi. Bieber tampil dengan panggung sederhana, tanpa koreografi, tanpa penari latar, bahkan sempat duduk dan memutar klip video lawasnya langsung dari YouTube selama sekitar 30 menit . Tagar seperti “lazy” dan “underwhelming” pun ramai di media sosial.
“Justin Bieber headlined Coachella just to not play any of his classics lmao,” tulis seorang pengguna X yang kecewa . Kritikan lain menyebut penampilan itu sebagai “the worst performance I’ve ever seen,” karena hanya menyanyikan lagu sambil memutar video di laptop .
Perdebatan pun semakin memanas ketika penampilan Bieber dibandingkan dengan penampilan megah Sabrina Carpenter pada malam sebelumnya. Carpenter menampilkan pertunjukan teatrikal lengkap dengan perubahan kostum, penari latar, hingga cameo aktor Hollywood . Hal ini memicu tuduhan seksisme dan standar ganda dalam industri musik. Banyak warganet yang menyoroti bahwa jika seorang artis wanita tampil dengan energi minim seperti Bieber, ia akan “disalib” habis-habisan .
“Sementara artis wanita memberikan usaha penuh: terbang, nada tinggi, kembang api, berganti kostum. Justin Bieber hanya duduk memakai kaus polos, memutar YouTube, tanpa riasan, dan tetap lolos,” cuit salah satu pengguna X .
Namun, di balik gelombang kritik, para penggemar setia (OG Fans) memberikan pembelaan yang kuat. Mereka menyebut penampilan itu bukan sekadar konser, melainkan sebuah perjalanan nostalgia dan momen penyembuhan (healing moment) bagi sang bintang .
Mereka menilai pilihan Bieber untuk menyanyikan lagu-lagu lama sambil menonton video YouTube-nya sendiri adalah simbol perjalanan kariernya dari masa lalu hingga sekarang. “Dia duduk bersama masa lalunya, scrolling video YouTube lama, berduet dengan dirinya yang lebih muda. Itu adalah pengingat bahwa penyembuhan tidak selalu keras atau mencolok,” tulis seorang penggemar . Bintang folk Jewel pun ikut berkomentar, “Like it’s inner child healing for him” .
Selain faktor artistik, muncul pula teori spekulatif yang lebih dalam. Sebagian warganet meyakini Bieber sengaja menampilkan lagu-lagu lamanya dengan cara “tidak sempurna” sebagai bentuk protes halus terkait penjualan hak cipta (catalogs) lagu-lagunya ke perusahaan investasi Hipgnosis Songs Capital pada 2023. Teori ini menyebut bahwa ia tidak ingin memberikan pertunjukan yang “menguntungkan” pihak lain, meskipun pengamat industri membantah bahwa hak cipta tidak melarangnya menyanyikan lagu sendiri .
Satu hal yang pasti: penampilan kontroversial ini telah berhasil menempatkan Bieber sebagai pusat perhatian. Terlepas dari pro-kontra, “Bieberchella” menjadi salah satu momen paling viral dan paling banyak dibicarakan dalam sejarah festival musik tersebut .
(*The Hollywood Reporter/ *Reuters/ *Variety)

