Teheran, KomentarNews – Iran secara resmi memasukkan aset-aset ekonomi Amerika Serikat ke dalam “daftar target” serangan, menurut laporan Fars News Agency, Minggu (8/3/2026). Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sebelumnya berfokus pada target-target militer.
Mengutip seorang pejabat Iran yang berbicara secara anonim, kantor berita itu menyebutkan bahwa Teheran telah merevisi strategi penargetannya sehingga tidak lagi hanya difokuskan pada sasaran militer AS dan Israel.
Menurut pejabat itu, Iran telah memperluas “daftar target” dengan memasukkan “modal dan kepentingan Amerika” di kawasan. Keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai pernyataan dari para pejabat AS dan Israel yang ia sebut sebagai “ancaman langsung terhadap rakyat Iran.”
“Kami tidak akan lagi membatasi respons pada target militer. Setiap aset yang menjadi sumber pendanaan mesin perang Amerika dan Israel akan menjadi sasaran sah,” kata pejabat tersebut kepada Fars News Agency.
Pada Minggu malam, AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas penyimpanan minyak Iran di Teheran dan sekitarnya. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas vital, termasuk Depo Minyak Shahran, salah satu pusat penyimpanan bahan bakar terbesar di ibu kota.
Laporan dari lokasi kejadian menunjukkan kepulan asap hitam membumbung tinggi dari area depo usai serangan. Tim pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api yang melahap sejumlah tangki penyimpanan.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 orang lainnya, banyak di antaranya warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Serangan balasan Iran dilaporkan menghantam pangkalan-pangkalan militer di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, meskipun Pentagon mengklaim sebagian besar berhasil dicegat.
Ancaman Iran terhadap aset ekonomi AS memicu kekhawatiran baru di pasar global. Harga minyak mentah dunia yang sebelumnya sudah melonjak di atas USD 100 per barel diperkirakan akan semakin tidak stabil. Para analis memperingatkan bahwa jika Iran benar-benar menyerang infrastruktur ekonomi AS di kawasan Teluk, seperti fasilitas minyak Arab Saudi atau pangkalan logistik di Qatar, konsekuensinya bisa sangat dahsyat.
Gedung Putih hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai ancaman baru dari Iran. Namun, seorang pejabat Pentagon yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa AS akan “merespons dengan tegas setiap serangan terhadap warga dan aset Amerika di mana pun.”
(*Fars News Agency/ *Reuters/ *Al Jazeera)
